Dengarkan Artikel
Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc,M.A
Nama aslinya Teungku Muhammad Yusuf bin Teungku Ibrahim bin Teungku Mahmud, lahir dari keturunan ulama dan pimpinan dayah di wilayah Aceh Timur. Beliau masih keturunan salah seorang ulama Timur Tengah yang bernama Teungku Salahuddin yang dikenal dengan sebutan Teungku Chik Keurukon yang berasal dari Yaman. Selain dari jalur ayahnya yang ulama, ibunya juga anak dari seorang ulama dan tokoh masyarakat yang disebut dengan Teungku Chik Mud Julok.
Mengawali masa belajarnya, Abu Kruet Lintang belajar langsung kepada ayahnya yang juga ulama, namun kebersamaan dengan ayahnya tidak lama, karena dalam usia sepuluh tahun wafatlah ayah dari Abu Kruet Lintang. Setelah wafat ayahnya, beliau kemudian dibimbing oleh pamannya Teungku Usman bin Teungku Mahmud yang juga seorang ulama dan pimpinan pesantren.
Setelah beberapa lama belajar pada pamannya, sambil belajar siang harinya di Sekolah Rakyat, Abu Kruet Lintang kemudian belajar pada Dayah Cot Plieng Bayu yang dipimpin oleh Teungku Cut Ahmad, namun tidak lama beliau di dayah ini, karena beberapa bulan setelahnya wafatlah pimpinan Dayah Cot Plieng.
Merasa ilmunya masih minim, Abu Kruet Lintang berangkat menuju ke Dayah Kruengkalee yang dipimpin oleh Teungku Haji Hasan Kruengkalee yang dikenal dengan Abu Kruengkalee. Abu Kruengkalee merupakan ulama lulusan Yan Keudah Malaysia, murid dari Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan, dan juga belajar selama lebih kurang tujuh tahun di Mekkah.
Kepada Abu Kruengkalee, beliau memperdalam ilmu yang telah beliau pelajari sebelumnya dari almarhum ayahnya dan pamannya ketika di Dayah.
Abu Kruengkalee sebagaimana yang diketahui adalah ulama yang bisa dianggap syekhul masyayikhperiode awal dayah Aceh, karena selain Abu Kruet Lintang di Dayah Kruengkalee juga telah mengorbit banyak ulama terpandang Aceh.
📚 Artikel Terkait
Sebut saja beberapa di antara mereka ialah Abuya Muda Waly al-Khalidy, Abu Sulaiman Lhoksukon, Abu Adnan Mahmud Bakongan, Abu Abdullah Ujong Rimba, Abu Wahab Seulimum, Abu Ishaq Ulee Titi, Abu Marhaban Kruengkalee dan banyak ulama lainnya yang merupakan tokoh-tokoh berpengaruh. Bahkan Abu Ali Lampisang pendiri Madrasah Khairiyah dan Abu Syech Mud Blangpidie disebutkan juga pernah lama belajar kepada Abu Hasan Kruengkalee.
Dalam tiga tahun kebersamaan Abu Kruet Lintang dengan Abu Kruengkalee telah mengantarkan beliau menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya. Karena sebelum tiba di Kruengkalee beliau memang telah menguasai berbagai cabang ilmu, sehingga ketika beliau tiba di Kruengkalee beliau memperdalam kajiannya kepada Abu Kruengkalee.
Pada tahun 1939 dalam usianya 22 tahun, Abu Kruet Lintang pulang kampung untuk mengajarkan ilmu yang telah dimilikinya. Setelah mengajar beberapa tahun di dayah yang dipimpin oleh Teungku Usman bin Teungku Mahmud yang merupakan paman dari Abu Kruet Lintang, pada tahun 1942 beliau kembali belajar kepada seorang ulama terpandang lainnya yang benama Teungku Muhammad Ali pimpinan Dayah Darul Muta’alimin masih di kawasan Aceh Timur.
Tidak lama beliau belajar kepada ulama besar tersebut, maka Abu Kruet Lintang telah diberikan ‘peneutoeh’ oleh Teungku Muhammad Ali untuk melanjutkan kepemimpinan dayah pamannya setelah beliau wafat. Maka semenjak tahun 1943 mulailah Abu Kruet Lintang memimpin Dayah Darul Muta’alimin. Beliau dengan segenap kesungguhan memimpin dayah tersebut sehingga menjadi salah satu dayah yang diminati oleh para penuntut ilmu. Selain itu Abu Kruet Lintang adalah seorang ulama kharismatik di wilayahnya yang menjadi panutan dan ikutan masyarakat di Aceh Timur.
Sebagai ulama yang luas cakrawala berpikir, Abu Kruet Lintang merupakan ulama yang santun dan sederhana dalam kehidupannya sehari-hari. Beliau memiliki pandangan-pandangan hukum yang kuat dan kokoh, walaupun demikian beliau tidak memaksakan pandangannya kepada yang lain. Disebutkan beliau pernah diundang pada sebuah tempat yang berbeda dengan pemahaman beliau untuk memberikan ceramah atau semacam tausiyah.
Setelah memberikan tausiah sebagai wujud silaturahmi beliau, kemudian beliau mohon diri untuk melaksanakan kebiasaan shalatnya di tempat lain sebagaimana kebiasaan yang beliau laksanakan.
Pada tahun tahun 1963, salah satu gurunya yaitu Abu Hasan Kruengkalee mengirim surat kepada beliau untuk memajukan PERTI di kawasan Aceh Timur, maka beliau menginisiasi berdirinya organisasi PERTI di wilayah Aceh Timur, setelah musyawarah, beliau dipilih secara aklamasi oleh forum sebagai Ketua Umum Perti di Aceh Timur.
Sebagai ulama besar Ahlussunnah Waljama’ah, tentunya kiprah Abu Kruet Lintang sangat di perhitungkan di wilayah Timur Aceh. Beliau dianggap sebagai figur yang menjadi guru bagi seluruh masyarakat, mengayomi mereka dengan fatwa keagamaan yang bijak dan tanggungjawab, dan senantiasa membimbing mereka ke jalan keselamatan.
Setelah kiprah yang besar, maka wafatlah ulama tersebut di tahun 1985 dalam usia 68 tahun. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






