POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 20, 2025
Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Bagi rakyat Iran, orang paling dibenci, Benyamin Netanyahu. Begitu sebaliknya, bagi rakyat Israel, orang paling dibenci, Ayatollah Ali Khemenei. Begitulah perang, wak! Hanya ada kebencian, pembunuhan, dan kekejaman. Namun, kali ini saya mau mengenalkan pemimpin tertinggi Iran yang memiliki darah keturunan langsung dari nabi. Yok, kita kenalan sambil seruput kopi tanpa gula.

Di pagi 19 April 1939, di kota Mashhad, lahir seorang bayi yang kelak tak hanya memimpin negara, tapi mengatur narasi geopolitik dengan satu alis terangkat. Namanya, Sayyid Ali Hosseini Khamenei, manusia yang bukan cuma berdarah Sayyid, tapi juga diberi bonus keturunan Imam Ali Zainal Abidin, Imam keempat Syiah, dalam satu paket DNA istimewa.

Jika sejarah Islam adalah serial panjang di Netflix, maka Khamenei adalah musim ke-14 yang plot-twist-nya sulit ditebak. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, seorang ulama besar, diyakini mendidik putranya dengan kombinasi tafsir Al-Qur’an, filsafat kontemporer, dan jurus menghindari intel Shah. Pendidikan Khamenei dimulai di seminari Mashhad, lalu lanjut ke Qom dan Najaf, tempat para ulama bertarung bukan dengan senjata, tapi dengan logika yang bisa membelah batu.

Sejak muda, Khamenei sudah menunjukkan bakat revolusioner. Ia bukan anak muda yang rebahan sambil men-scroll kitab kuning. Ia justru melempar pertanyaan eksistensial ke rezim Shah, “Untuk apa kekuasaan tanpa keadilan?” Pertanyaan itu membuatnya ditangkap berkali-kali, diasingkan, dan tetap muncul kembali seperti versi Syiah dari Captain America. Jika ada kurikulum “Survivor of Oppression”, dia bisa jadi pengajarnya.

Tahun 1981, ia menjabat sebagai Presiden Iran. Tapi jangan bayangkan presiden seperti kepala OSIS. Di Iran pasca-revolusi, menjadi presiden adalah seperti jadi penyeimbang di sirkus api, di mana jika salah langkah, bisa disambar fatwa atau granat geopolitik. Meski begitu, ia menjalani dua periode dengan gaya khas, kalem, bermakna, dan tidak pernah kehabisan metafora religius saat diwawancarai.

Namun puncaknya datang di tahun 1989, saat Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat. Dunia bertanya-tanya, siapa yang cukup kuat, cukup alim, dan cukup tahan sensor untuk menggantikannya? Jawabannya adalah Khamenei, diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, atau Supreme Leader, posisi yang secara fungsional setara dengan gabungan pemimpin agama, presiden, jenderal, dan CEO Google dalam satu tubuh berjubah.

📚 Artikel Terkait

Pemancing Ikan: Optimisme, Kesabaran dan Iman

Berharap Kepada Manusia, Harus Siap Kecewa

Board of Peace: Legitimasi Penjajahan yang Mengkhianati Sejarah dan Konstitusi Indonesia

Potato Janda Ngamuk Jadi Incaran pada Pameran Gelar Karya P5 Siswa SMAN 1 Bireuen

Sebagai Supreme Leader, ia memegang kekuasaan atas militer, kehakiman, media, dan bahkan… keheningan. Tak ada keputusan strategis tanpa seizin beliau. Bahkan senjata nuklir pun pernah ia ‘haramkan’ lewat fatwa, membuat uranium di bawah tanah Iran ikut berkeringat. Dalam forum internasional, ia tidak pernah hadir langsung. Tapi cukup dengan satu khutbah Jumat, bursa saham bisa demam, dan para analis politik butuh ibuprofen.

Ia juga selamat dari percobaan pembunuhan tahun 1981, yang melumpuhkan lengan kanannya. Tapi jangan khawatir, karena setelah itu, banyak yang bilang lengan kirinya jadi lebih puitis dan ideologis.

Ali Khamenei bukan cuma pemimpin, ia adalah fenomena genealogis, spiritual, politik, dan kosmologis. Jika langit adalah kitab terbuka, maka namanya sudah tercetak dalam huruf emas sejak abad ke-7, hanya menunggu diaktifkan seperti cheat code dalam permainan sejarah.

Ketika dunia bertanya, “Siapa sebenarnya Ayatollah Ali Khamenei?”

Jawabannya simpel, ia adalah keturunan Nabi yang membawa remote, bukan hanya untuk Iran, tapi mungkin juga untuk realitas ini sendiri.

Kini, pada usia 86 tahun, Sayyid Ali Khamenei bukan cuma simbol revolusi. Ia adalah mahakarya sejarah, manuskrip hidup dari Syiah Dua Belas Imam, dan mungkin satu-satunya manusia yang jika tersenyum, bisa membuat perundingan damai tertunda 3 hari.

Bukan karena takut. Tapi karena semua menunggu, apakah ini senyum restu, atau pertanda kiamat diplomatik?

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share10SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Talam Dua Muka di Padang Pasir

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00