Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Di tengah sorotan tajam terhadap angka kemiskinan yang terus membayangi banyak daerah, kisah sederhana dari seorang mantri kesehatan manusia di Aceh ini tampak begitu kecil. Tapi justru di situlah kekuatannya. Dengan mengandalkan keahlian medisnya, ia membeli sapi-sapi kecil yang kurus dan seolah tak berharga, lalu merawatnya seperti ia merawat manusia: diberi mandi, dibersihkan dari parasit, disuntik, diberi nutrisi, diajak bicara, bahkan diberi kuih.
Setiap sore, ia datang ke kandangnya. Ia isi bak air, ia berikan makanan tambahan, ia panggil sapinya satu per satu dengan nama. Dan hasilnya? Sapi-sapi yang dulu tampak lemah tumbuh menjadi sehat, ada yang mulai mengandung, ada yang sudah melahirkan. Ia menyebutnya bukan sekadar beternak, tapi membangun ikatan, menyambung hidup.
Kisah ini mungkin terdengar sentimentil. Tapi dalam konteks krisis penghidupan hari ini, ia adalah simbol perlawanan terhadap ketergantungan, sekaligus tawaran jalan keluar. Di tengah narasi besar soal ketahanan pangan, proyek-program ekonomi makro, dan anggaran negara yang sering tak menyentuh akar persoalan, praktik semacam ini adalah contoh nyata ekonomi rakyat yang berbasis pada kemandirian dan cinta.
Peternakan dan Pertanian sebagai Pilar Livelihood
Dalam dunia pembangunan, kita mengenal istilah “livelihood”—cara orang bertahan hidup secara berkelanjutan. Di banyak daerah pedesaan, termasuk Aceh, dua sumber utama livelihood adalah pertanian dan peternakan. Tapi sayangnya, dua sektor ini sering diabaikan oleh kebijakan. Peternak kecil dibiarkan berjalan sendiri. Petani dibiarkan terjebak pada sistem tengkulak atau permainan harga pasar.
Padahal, jika diberdayakan secara serius, pertanian dan peternakan bisa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Bukan dalam skala besar, bukan dalam bentuk korporasi, tapi lewat skema-skema kecil berbasis rumah tangga yang mandiri. Seperti yang dilakukan oleh mantri tadi.
Memadukan Ilmu dan Kepedulian
Apa yang dilakukan oleh sang mantri bukanlah hasil pelatihan proyek luar negeri atau CSR korporasi. Ia menggabungkan apa yang ia punya—ilmu kesehatan manusia, waktu luang, dan rasa cinta terhadap makhluk hidup. Di situlah esensi dari pemberdayaan. Bukan soal modal besar, tapi soal kemauan dan keberanian untuk memulai.
Kita perlu lebih banyak “mantri-mantri” seperti ini: orang-orang biasa yang mau berpikir kreatif, memanfaatkan ilmu, dan bekerja dengan hati. Dalam konteks ekonomi nasional, mereka adalah ujung tombak yang sering tidak terlihat, tapi menopang struktur paling dasar dari daya tahan ekonomi rakyat.
Melampaui Bantuan, Menuju Kedaulatan
📚 Artikel Terkait
Saat ini banyak program bantuan bergulir, dari BLT, kartu tani, hingga subsidi pupuk. Tapi semua itu bersifat sementara. Ketika bantuan berhenti, ketergantungan kembali muncul. Jalan keluar sejatinya bukan terletak pada bantuan, tapi pada kedaulatan. Kedaulatan untuk mengatur sendiri sumber hidup.
Peternakan kecil berbasis rumah tangga adalah bentuk kedaulatan. Ia tidak tergantung pada distribusi pasar nasional. Ia bisa tumbuh secara lokal, menyuplai daging untuk tetangga, menjadi tabungan keluarga, bahkan aset pendidikan anak-anak.
Seni Merawat, Bukan Sekadar Beternak
Yang membedakan kisah ini dengan beternak biasa adalah nilai yang melekat di dalamnya: seni merawat. Sapi-sapi itu tidak diperlakukan seperti barang produksi, tapi seperti makhluk hidup yang berhak mendapatkan kasih. Ada percakapan, ada perhatian, ada nama yang disebut. Di situlah tumbuh bukan hanya daging, tapi ikatan. Dan ikatan sosial yang tumbuh dari hubungan manusia dan hewan, adalah bagian dari ekologi kehidupan yang sehat.
Perspektif Sosial dan Budaya
Dalam konteks Aceh, relasi antara manusia dan ternak bukan sekadar soal ekonomi. Ia berkaitan dengan nilai adat, keberlanjutan hidup, dan rasa memiliki terhadap tanah dan komunitas. Seni memberi kuih untuk sapi bukan praktik konyol, tapi bentuk spiritualitas rakyat yang peka dan lembut.
Budaya merawat dengan kasih inilah yang hari ini semakin langka dalam ekonomi modern. Di tengah gempuran industri dan target produksi, kisah mantri ini menjadi napas segar tentang cara hidup yang berakar dan bermartabat.
Menjaga Martabat dalam Krisis
Di tengah naik-turunnya harga bahan pokok, inflasi, dan ketimpangan ekonomi yang melebar, rakyat kecil tidak butuh proyek spektakuler. Mereka butuh jalan yang nyata untuk bertahan hidup dengan bermartabat. Beternak sapi kurus mungkin bukan solusi nasional, tapi itu adalah langkah lokal yang sangat bernilai.
Kita sering bicara soal transformasi ekonomi. Tapi transformasi sejati terjadi saat masyarakat diberi ruang untuk menentukan nasibnya sendiri—dengan ilmu yang ia punya, dengan tanah yang tersedia, dan dengan cinta yang ia tanamkan. Di situlah kehidupan tumbuh. Bukan dari janji, tapi dari tangan sendiri.
Dan kisah sapi-sapi kurus yang sekarang mulai melahirkan itu adalah bukti bahwa ekonomi rakyat bisa bangkit. Pelan-pelan. Dari kandang belakang rumah. Dari tangan yang tidak menyerah. Dari hati yang tidak berhenti mencintai makhluk hidup, sekecil apa pun nilainya di mata pasar.
Sudah selesai Dayan—judulnya sudah diperbarui menjadi “Sapi Kurus, Harga Diri, dan Kedaulatan Ekonomi di Tengah Krisis”, dan di bagian akhir juga sudah ditambahkan identitas penulis:
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






