Dengarkan Artikel
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Pandangan mengenai Christiaan Snouck Hurgronje sering kali terbelah antara tuduhan sebagai mata-mata kolonial dan pengakuan sebagai antropolog ulung. Namun, jika menelusuri jejak hidup dan karyanya, terlihat jelas bahwa identitas utamanya adalah seorang ilmuwan antropologi yang mendasarkan tindakannya pada observasi ilmiah yang mendalam. Alih-alih menjadi musuh, dalam banyak hal, kebijakannya justru dirancang untuk melindungi esensi komunitas Muslim di Aceh dari kehancuran total akibat perang.
Jauh sebelum menginjakkan kaki di Aceh, Snouck telah membuktikan kapasitasnya sebagai ilmuwan kelas dunia. Di bawah bimbingan gurunya, seorang orientalis terkemuka bernama De Goeje, ia mendalami studi Islam atau Mohammedanisme (Hurgronje, 1916). Puncak dari studi awalnya adalah penelitian fenomenal tentang ibadah haji di Mekkah. Dengan menjadi mualaf sebagai seorang Muslim bernama Abdul Ghaffar, ia berhasil tinggal di kota suci tersebut selama berbulan-bulan. Hasilnya adalah karya monumental, Het Mekkaansche Feest (Hurgronje, 1880) dan kemudian Mekka in the Latter Part of the 19th Century (Hurgronje, 2007), yang bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan sebuah analisis etnografi mendalam tentang kehidupan sehari-hari, adat istiadat, dan jaringan intelektual Muslim dari Hindia Belanda di pusat dunia Islam (Buskens & Kommers, 2021: 168).
Asimilasi Personal di Hindia Belanda
Ketika tiba di Hindia Belanda, Snouck tidak memposisikan dirinya sebagai orang Eropa yang superior. Ia justru berusaha memahami masyarakat dari dalam melalui asimilasi personal. Ia menikah dengan beberapa perempuan Sunda di Priangan, di antaranya Sangkana, putri seorang penghulu di Ciamis, dan kemudian Siti Sadiah di Banten. Dari pernikahan-pernikahan ini, ia dikaruniai beberapa anak, termasuk Raden Joesoef, yang menjadi bukti nyata dari upaya pembaurannya yang mendalam dengan budaya lokal (Rohmana, 2018: 37). Langkah ini memberinya pemahaman yang tidak mungkin didapat dari sekadar observasi yang berjarak.
Misi Ilmiah di Aceh
Dengan bekal pemahaman Islam yang mendalam dan pengalaman hidup di tengah masyarakat Muslim, Snouck dikirim ke Aceh pada tahun 1891. Misinya adalah murni ilmiah: mempelajari bahasa, adat istiadat, dan hukum masyarakat Aceh untuk memahami akar dari perlawanan mereka yang tak kunjung padam (Hurgronje, 1892). Selama lebih dari setahun, ia hidup bersama rakyat Aceh, mendokumentasikan setiap aspek kehidupan mereka yang kemudian terbit dalam mahakaryanya, De Atjehers (Hurgronje, 1893). Karya ini hingga kini menjadi rujukan utama untuk memahami struktur sosial dan budaya Aceh pada akhir abad ke-19.
Nasihat untuk Van Heutsz: Strategi, Bukan Kebrutalan
Hubungan Snouck dengan Jenderal Van Heutsz sering menjadi titik utama tuduhan sebagai arsitek kekejaman. Namun, analisis yang lebih cermat menunjukkan bahwa nasihatnya adalah sebuah strategi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lama dan memakan banyak korban, bukan untuk memperluasnya secara brutal (van Dijk, 2021: 326). Snouck mengidentifikasi bahwa kekuatan perlawanan Aceh tidak tunggal. Ia menyarankan agar pemerintah kolonial membedakan antara kaum ulama yang memimpin perang sabil dan para uleebalang (bangsawan adat) yang lebih pragmatis. Dengan menaklukkan perlawanan ulama secara militer sambil merangkul para uleebalang, Snouck percaya perang dapat diakhiri lebih cepat, sehingga penderitaan rakyat jelata bisa segera dihentikan (Benda, 1958: 342).
Membela Islam dan Mendorong Politik Etis
Dua rekomendasi penting Snouck kepada pemerintah kolonial secara jelas menunjukkan posisinya yang membela eksistensi Islam di Aceh. Pertama, ia dengan tegas melarang penyebaran misi Kristen (Missie dan Zending) di Aceh. Ia sadar sepenuhnya bahwa upaya kristenisasi akan dianggap sebagai penghinaan terbesar dan hanya akan menyulut api perang yang lebih besar dan abadi (Sidik, 2020: 38). Kedua, ia menjadi salah satu peletak dasar Politik Etis atau “Politik Balas Budi”. Snouck berpendapat bahwa setelah perlawanan militer dipatahkan, pemerintah kolonial memiliki kewajiban moral untuk menyejahterakan rakyat melalui pendidikan, kesehatan, dan yang terpenting, dengan tidak mengganggu kehidupan beragama mereka (Benda, 1958: 345).
Akhir Hayat sebagai Akademisi Terhormat
Setelah menyelesaikan tugasnya di Hindia Belanda pada tahun 1906, Snouck kembali ke Belanda dan melanjutkan kariernya sebagai seorang akademisi terkemuka. Ia diangkat menjadi profesor di Universitas Leiden dan bahkan mencapai posisi puncak sebagai Rector Magnificus (Schacht, 1937: 193). Ia meninggal dunia pada tahun 1936, meninggalkan warisan intelektual yang sangat besar. Sebuah misteri masih menyelimuti warisan terakhirnya, di mana surat wasiatnya disegel dan baru akan dibuka oleh notaris pada tahun 2036, seratus tahun setelah kematiannya.
Pada akhirnya, Christiaan Snouck Hurgronje adalah sosok kompleks yang hidup dalam pusaran kolonialisme. Namun, tindakannya yang didasarkan pada riset ilmiah yang ketat dan pemahamannya yang mendalam terhadap Islam menunjukkan bahwa motivasi utamanya adalah ilmu pengetahuan, dan rekomendasinya, meskipun kontroversial, sering kali bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan yang stabil di mana identitas dan agama masyarakat Aceh tetap dapat bertahan.
Bibliografi
Benda, Harry J. “Christiaan Snouck Hurgronje and the foundations of Dutch Islamic policy in Indonesia.” The Journal of Modern History 30.4 (1958): 338-347.
Buskens, Léon, and Erik-Jan Zürcher. “Christiaan Snouck Hurgronje: Holy War and Colonial Concerns.” Jihad and Islam in World War I (2016): 29-51.
Buskens, Léon, and Jean Kommers. “Mekka as an Ethnographic Text: How Christiaan Snouck Hurgronje Lived and Constructed Daily Life in Arabia1.” The History of Oriental Studies (2021): 168.
📚 Artikel Terkait
Hurgronje, Christiaan Snouck. De Atjehers. Landsdrukkerij, 1893.
Hurgronje, Christiaan Snouck. De Islam. Verlag nicht ermittelbar, 1886.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Het Mekkaansche feest…. EJ Brill, 1880.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Islam in the Dutch East Indies. No. 9. Hollandia printing house, 1913.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Islam und phonograph…. Albrecht, 1899.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Mekka in the Latter Part of the 19th Century: Daily life, customs and learning of the Moslims of the East-Indian-archipelago. Vol. 1. Brill, 2007.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Mohammedanism: Lectures on Its Origin, Its Religious and Political Growth and Its Present State. Vol. 11. GP Putnam’s sons, 1916.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Nederland en de Islam. EJ Brill, 1915.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Studies on Atjèhsche klank-en schriftleer. 1892.
Hurgronje, Christiaan Snouck. The Holy War” made in Germany,”. GP Putnam’s, 1915.
Hurgronje, Christiaan Snouck. The revolt in Arabia. GP Putnam’s sons, 1917.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Verspreide geschriften van C. Snouck Hurgronje. Vol. 1. K. Schroeder, 1923.
Idria, Reza. “Aceh: Kisah datang dan terusirnya Belanda dan jejak yang ditinggalkan, by Anton Stolwijk.” Bijdragen tot de taal-, land-en volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia 178.4 (2022): 537-538.
Irfanullah, Gumilar, Dewi Anggraeni, and Ginanjar Sya’ban. “Jejak C. Snouck Hurgronje di Kesultanan Cirebon: Studi Atas Surat-Surat Sultan Sepuh XI (Djamaloedin Aloeda) untuk Snouck Hurgronje dalam Kurun 1908-1912.” Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 12.1 (2024).
Kaptein, Nico JG. ““My Dear Professor ʿAbd al-Ghaffar”: The Letters of Sayyid ʿUthman to C. Snouck Hurgronje as a Reflec-tion of Their Relationship.” The History of Oriental Studies (2021): 387.
Laffan, Michael F. “Writing from the colonial margin: the letters of Abu Bakar Djajadiningrat to Christiaan Snouck Hurgronje.” Indonesia and the Malay World 31.91 (2003): 356-380.
Reid, Anthony, and Michael Gilsenan. “Grateful to the Dutch Government: Sayyid ‘Uthmaˆn and Sarekat Islam in 1913.” Islamic Legitimacy in a Plural Asia. Routledge, 2008. 110-128.
Rohmana, Jajang A. “Rereading Christiaan Snouck Hurgronje: His Islam, marriage and Indo-European discents in the early twentieth-century Priangan.” Walisongo 26.1 (2018): 35-66.
Schacht, Joseph. “Christiaan Snouck Hurgronje.” (1937): 192-195.
Sidik, Humar. “Christiaan Snouck Hurgronje Dalam Dinamika Islam Di Aceh Pada Masa Kolonial Belanda.” Jurnal Artefak7.1 (2020): 31-42.
Slama, Martin. “Book Review: Islam, Colonialism and the Modern Age in the Netherlands East Indies. A Biography of Sayyid ʿUthman (1822–1914), written by Nico JG Kaptein.” Bijdragen tot de taal-, land-en volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia 171.2-3 (2015): 386-388.
Stolwijk, Anton. Aceh: kisah datang dan terusirnya belanda dan jejak yang ditinggalkan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2021.
Stolwijk, Anton. Aceh: the story of the bloodiest battle in Dutch colonial history. Prometheus, 2016.
Van Dijk, Kees. “The Scholar and the War-Horse. The Aceh War, Snouck Hurgronje, and Van Heutsz.” The History of Oriental Studies (2021): 326.
Van Koningsveld, Pieter Sjoerd. “Conversion of European intellectuals to Islam: The case of christiaan Snouck Hurgronje alias ʿAbd al-Ghaffār.” Muslim Minorities (2016): 88.
Van Niel, Robert. “Christiaan Snouck Hurgronje In Memory of the Centennial of His Birth.” The Journal of Asian Studies16.4 (1957): 591-594.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






