Dengarkan Artikel
“
Saya hanya ingin bertanya satu hal, satu kalimat pendek, tapi berat banget: ADA APA DENGAN KAMPUS?
Kenapa kampus yang harusnya jadi tempat mikir, malah jadi tempat orang-orang berpura-pura? Mulai dari dosen munafik, birokrat kampus sok suci, mahasiswa senior lupa diri, dan kita-iya, termasuk saya sering kali cuma jadi boneka yang takut robek.
UKT terus naik tiap semester, tapi AC mati, kursi minim, jaringan lemot kayak konten dosen tua yang masih nyuruh kirim tugas lewat email. uang terus ngalir entah ke mana. Tanya? Suruh diam. Kritik? Dicap kurang ajar. Aksi? Langsung diancam DO atau dimata-matai.
Anjing, ini kampus atau pangkalan militer?
📚 Artikel Terkait
Yang paling bikin muak: banyak yang tahu tapi pura-pura bego. Bungkam demi IPK. Diam demi lulus cepat. Sibuk bikin konten estetik di depan gedung rektorat sambil dalam hati tahu, kampus ini busuk dari akar.
Organisasi mahasiswa? Banyak yang udah dikebiri. Jadi peliharaan kampus. Isi proposal, rapat, bikin acara, asal jangan bikin gaduh.
Padahal kalau semua diem terus, kampus ini gak akan pernah sembuh.
Dan kalau kita diam pas lihat ketidakadilan, kita bukan netral. Kita bagian dari masalahnya.
Saya bukan sok paling benar. Saya hanya muak pada kemunafikan kolektif.
Kalian bisa bilang saya kasar, bisa bilang ini opini sampah. Tapi satu hal yang pasti:
Kampus ini gak bakal berubah kalau semua orang lebih takut kehilangan kenyamanan daripada kehilangan harga diri.
Apa gunanya jadi “aktivis” kalau kita hanya diam waktu teman kita diintimidasi karena kritik sistem? Apa gunanya bikin forum diskusi kalau ujung-ujungnya semua bahas motivasi hidup dan healing?
Ini bukan lagi soal idealisme, ini soal waras atau ikut gila.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






