POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

In Memoriam Sejarawan Anthony Reid

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
June 9, 2025
In Memoriam Sejarawan Anthony Reid
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Mengenang kepergian Anthony Reid, seorang sejarawan yang karyanya telah memberikan kontribusi besar dalam memahami Asia Tenggara. Kepergiannya merupakan kehilangan yang mendalam bagi dunia akademik. Lebih menarik mempelajari karya-karya para sejarawan ketimbang tokoh-tokoh sejarah –yang dalam adagium George Santayana “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it”.

Karya-karya Pilihan Anthony Reid
Anthony Reid dikenal luas atas penelitiannya yang mendalam tentang sejarah sosial, ekonomi, dan politik Asia Tenggara. Karyanya telah membentuk pemahaman kita tentang kawasan ini, terutama periode modern awal. Dalam studinya yang monumental, Reid menjelaskan transformasi fundamental masyarakat di Sumatera Utara, termasuk perubahan politik dan sosial. Ia menulis, “Darah rakyat: Revolusi dan akhir pemerintahan tradisional di Sumatera Utara” (Reid, 2014).
Karyanya yang paling terkenal, “Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680,” terbagi menjadi dua volume. Volume pertama, “The lands below the winds,” membahas geografi dan masyarakat awal kawasan ini (Reid, 2008). Sementara itu, volume kedua, “Expansion and crisis,” menganalisis perkembangan dan tantangan yang dihadapi Asia Tenggara pada periode tersebut (Reid, 1993).
Reid juga memberikan wawasan tentang identitas dan struktur sosial. Ia menyoroti bagaimana “Memahami Melayu (Malay) sebagai sumber identitas modern yang beragam” (Reid, 2001: 295). Selain itu, ia menganalisis tentang “Struktur kota-kota di Asia Tenggara, abad kelima belas hingga ketujuh belas” (Reid, 1980: 235).
Karya-karya lain menunjukkan kedalaman cakupannya dalam memahami Asia Tenggara. Dalam salah satu bukunya, ia memaparkan “Sejarah Asia Tenggara: Persimpangan kritis” (Reid, 2015). Beliau juga pernah menyunting buku “Pengembara dan pemukim: Sejarah Asia Tenggara dan Tiongkok” (Reid, 2001), yang menyoroti interaksi antarbudaya.
Fokusnya pada pembentukan identitas dan kekuasaan juga terlihat dalam karyanya tentang “Alkemi imperial: Nasionalisme dan identitas politik di Asia Tenggara” (Reid, 2010). Ia juga menyunting “Asia Tenggara di era modern awal: perdagangan, kekuasaan, dan kepercayaan” (Reid, 1993). Dalam upaya untuk memberikan gambaran komprehensif, ia juga telah “Memetakan bentuk Asia Tenggara awal modern” (Reid, 2000).
Ada deretan sejarawan dan pemikir yang sangat mengesankan. Ini menunjukkan pemahaman yang luas tentang kontribusi penting dalam historiografi dari berbagai zaman dan wilayah.

Para Sejarawan dan Warisan Abadi Mereka
Filosofi kesejarahan para sejarawan terkemuka dan bagaimana hal itu tercermin dalam karya-karya mereka. Ini adalah inti dari bagaimana sejarah dibentuk, diinterpretasikan, dan akhirnya dipahami oleh kita. Setiap sejarawan membawa lensa uniknya sendiri—pandangan dunia, metodologi, dan asumsi dasar—yang membentuk narasi dan kesimpulan yang mereka hasilkan.
Memahami filosofi kesejarahan mereka memungkinkan kita untuk tidak hanya menghargai kedalaman analisis mereka, tetapi juga untuk secara kritis menilai bagaimana mereka mendekati masa lalu dan relevansinya bagi masa kini. Filosofi ini seringkali tidak eksplisit, tetapi bisa ditangkap dari pilihan topik, sumber yang digunakan, penekanan pada aspek tertentu (ekonomi, sosial, politik, budaya), serta argumen inti yang mereka bangun.
Fachry Ali: Sejarawan dan ilmuwan politik Indonesia, dikenal atas karyanya tentang pemikiran politik Islam dan dinamika politik kontemporer di Indonesia.
M.C. Ricklefs: Sejarawan Australia terkemuka yang berspesialisasi dalam sejarah Indonesia, khususnya Jawa. Karyanya “A History of Modern Indonesia since c. 1200” adalah teks fundamental.
Kuntowijoyo: Sejarawan dan sastrawan Indonesia yang berpengaruh. Ia menganjurkan pendekatan sejarah yang lebih “ilmiah” di Indonesia dan mendalami dimensi sosial serta budaya masa lalu.
Fernand Braudel: Tokoh utama dari Mazhab Annales dalam historiografi Prancis. Ia menggagas konsep longue durée (durasi panjang) dan menekankan faktor geografis serta ekonomi dalam membentuk sejarah, yang paling terkenal dalam karyanya tentang Mediterania.
Azyumardi Azra: Sejarawan dan cendekiawan Islam Indonesia yang sangat dihormati. Beliau adalah mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dikenal atas penelitiannya tentang sejarah intelektual Islam dan pendidikan di Indonesia.
Ibnu Khaldun: Cendekiawan polimatik Arab abad ke-14 yang perintis, dianggap sebagai salah satu sejarawan, sosiolog, dan filsuf sejarah sistematis paling awal. Karyanya Muqaddimah adalah teks dasar dalam memahami pasang surut peradaban.
Adrian Perkasa: Sejarawan muda Indonesia yang dikenal dengan penelitiannya tentang sejarah perkotaan dan Indonesia kolonial. Adrian Perkasa adalah seorang sejarawan yang sangat menjanjikan dan memang telah menyelesaikan studi doktoralnya di Leiden University. Disertasinya yang berjudul “The Cultural Network: Javanese Imaginings of Indonesia, 1918-1966” adalah karya yang luar biasa dan penting. Disertasi Adrian Perkasa menyelidiki peran Java-Instituut dan jaringan intelektual terkemuka yang terhubung dengannya. Fokusnya adalah mengkaji diskursus tentang budaya Jawa, identitas, dan nasionalisme pada periode yang krusial, dari akhir kolonial hingga dekade-dekade awal pembangunan bangsa Indonesia. Disertasi ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana gagasan-gagasan kebangsaan terbentuk di Indonesia, khususnya dari sudut pandang Jawa, dan bagaimana hal itu berinteraksi dengan identitas nasional yang lebih luas. Adrian Perkasa saat ini merupakan peneliti postdoctoral di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV) di Leiden. Ia juga memiliki afiliasi dengan Universitas Airlangga di Indonesia dan Institut Internasional untuk Studi Asia (IIAS). Minat penelitiannya yang luas mencakup sejarah perkotaan, warisan budaya, nasionalisme budaya, dan juga studi tentang kalender pertanian tradisional Jawa seperti pranata mangsa. Karyanya ini sangat relevan dalam memperkaya historiografi Indonesia, terutama dalam memahami kompleksitas identitas dan nasionalisme yang berakar pada budaya dan tradisi lokal.
Soe Hok Gie: Aktivis mahasiswa dan sejarawan Indonesia ikonik dari tahun 1960-an, dikenang atas pandangan kritisnya terhadap politik dan masyarakat, serta buku hariannya yang diterbitkan secara anumerta.
Teuku Ibrahim Alfian: Sejarawan Indonesia asal Aceh, dikenal atas penelitian mendalamnya tentang sejarah dan budaya Aceh, khususnya selama periode kolonial.
Bambang Purwanto: Sejarawan Indonesia yang berspesialisasi dalam sejarah ekonomi dan sosial, sering berfokus pada Indonesia kolonial dan pascakolonial.
Ong Hok Ham: Sejarawan Indonesia keturunan Tionghoa yang terkenal, dikenal atas analisisnya yang mendalam dan seringkali tidak konvensional tentang sejarah Indonesia, khususnya masyarakat Jawa dan Tionghoa di Indonesia.
Arnold Toynbee: Sejarawan Inggris yang karya monumentalnya berjilid-jilid, A Study of History, mencoba melacak naik turunnya peradaban di seluruh sejarah global, mengusulkan pola siklus tantangan dan respons.
Fernand Braudel dan Longue Durée: Filosofi Braudel, sebagai salah satu tokoh sentral Mazhab Annales, sangat revolusioner. Ia percaya bahwa peristiwa-peristiwa permukaan (politik, perang) hanyalah “buih di ombak” sejarah. Yang lebih penting adalah struktur-struktur jangka panjang (longue durée) seperti geografi, iklim, dan pola ekonomi yang berubah sangat lambat. Karyanya seperti The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip II adalah manifestasi dari filosofi ini, menunjukkan bagaimana lingkungan fisik dan sistem ekonomi global jauh lebih menentukan nasib peradaban daripada tindakan raja atau pertempuran. Filosofi ini mengajarkan kita kesabaran dalam melihat perubahan dan kerendahan hati bahwa kekuatan besar seringkali bekerja di luar kesadaran individu.
Ibnu Khaldun dan Teori Siklus Peradaban: Jauh sebelum Braudel, Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah-nya, mengembangkan filosofi sejarah yang bersifat siklus dan sosiologis. Ia tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi mencoba menjelaskan mengapa peradaban naik dan turun melalui konsep ‘asabiyyah (solidaritas kelompok) dan hubungan antara masyarakat nomaden dan perkotaan. Filosofinya menyoroti bahwa sejarah adalah proses yang dapat dijelaskan oleh hukum-hukum sosial, bukan hanya takdir atau kehendak ilahi. Ini adalah upaya awal yang luar biasa untuk menciptakan “ilmu sejarah” yang prediktif.
Anthony Reid dan Dinamika Asia Tenggara: Anthony Reid, yang baru saja kita kenang, memiliki filosofi yang menyoroti keunikan dan dinamika internal Asia Tenggara. Melalui karyanya Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680, ia menekankan agensi aktor-aktor lokal, peran perdagangan, dan adaptasi budaya dalam menghadapi pengaruh luar. Filosofinya melawan pandangan Eurosentris yang sering menganggap Asia Tenggara pasif. Ia melihat sejarah sebagai proses yang kompleks di mana masyarakat lokal bernegosiasi, beradaptasi, dan bahkan membentuk arus global.
Kuntowijoyo dan Sejarah Sosial-Transformatif: Kuntowijoyo, sejarawan Indonesia, juga membawa filosofi yang kuat. Ia tidak hanya ingin merekonstruksi masa lalu tetapi juga menggunakan sejarah sebagai alat untuk memahami dan mentransformasi masyarakat. Ia sering menggabungkan pendekatan ilmu sosial, agama, dan sastra dalam historiografinya. Filosofinya menggarisbawahi bahwa sejarah bukanlah sekadar cerita, tetapi cerminan dari kekuatan sosial, ekonomi, dan budaya yang terus-menerus membentuk kehidupan manusia.
Ong Hok Ham dan Sejarah dari Bawah: Ong Hok Ham adalah contoh sejarawan yang filosofinya berakar pada pemahaman “sejarah dari bawah” atau sejarah rakyat kecil, serta ironi dan paradoks dalam sejarah. Ia tertarik pada narasi yang tidak biasa, individu-individu yang terpinggirkan, dan bagaimana kekuasaan serta kehidupan sehari-hari berinteraksi. Karyanya sering kali menunjukkan bahwa sejarah bukan monolitik tetapi multidimensional, penuh dengan kontradiksi dan perspektif yang beragam.
Soe Hok Gie dan Sejarah sebagai Kritik: Meskipun lebih dikenal sebagai aktivis, tulisan-tulisan Soe Hok Gie menunjukkan filosofi sejarah sebagai bentuk kritik sosial dan moral. Baginya, sejarah bukanlah studi yang netral, melainkan alat untuk mengungkap ketidakadilan, kemunafikan, dan kegagalan generasi sebelumnya, demi pelajaran bagi masa depan. Ini adalah filosofi sejarah yang sangat personal dan memiliki urgensi moral.

Bibliografi
Reid, Anthony, ed. Sojourners and settlers: Histories of Southeast Asia and the Chinese. University of Hawaii Press, 2001.
Reid, Anthony, ed. Southeast Asia in the early modern era: trade, power, and belief. Cornell University Press, 1993.
Reid, Anthony. “Southeast Asia in the age of commerce, 1450-1680: Volume one: The lands below the winds.” Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680. Yale University Press, 2008.
Reid, Anthony. “The structure of cities in Southeast Asia, fifteenth to seventeenth centuries.” Journal of Southeast Asian Studies 11.2 (1980): 235-250.
Reid, Anthony. “Understanding Melayu (Malay) as a source of diverse modern identities.” Journal of Southeast Asian Studies 32.3 (2001): 295-313.
Reid, Anthony. A history of Southeast Asia: Critical crossroads. John Wiley & Sons, 2015.
Reid, Anthony. Charting the shape of early modern Southeast Asia. Silkworm books, 2000.
Reid, Anthony. Imperial alchemy: Nationalism and political identity in Southeast Asia. Cambridge University Press, 2010.
Reid, Anthony. Southeast Asia in the age of commerce 1450–1680: Volume 2: Expansion and crisis. New Haven and London, 1993.
Reid, Anthony. The blood of the people: Revolution and the end of traditional rule in northern Sumatra. NUS Press, 2014.

📚 Artikel Terkait

“Wahabi Lingkungan” atau Suara Nalar yang Dikebiri?

Perkembangan Balita Usia 1-5 Tahun

Remaja Perempuan yang Terpaksa Mengemis

Pendidikan yang Memerdekakan: Refleksi Filosofis Hardiknas 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Il Principe - Bincang Sore POTRET

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00