Dengarkan Artikel
Oleh: Yoss Prabu
Seperti bara api yang menari di atas tungku buatan sendiri.
Bau arang dan lemak menari bersama asap
Yang entah mengalir ke mana
Mungkin ke langit,
Atau ke ruang dada yang kini kian lapang
Aku duduk di antara anak dan cucu yang belum hafal
Cara menyembunyikan rasa jijik pada urat-urat yang
Tersangkut di gigi.
Mereka masih takut pada urat yang menolak dibakar,
Sementara aku.
Yang sudah kenyang dengan luka-luka.
Mengenang aroma daging bakar
Seperti mengingat bau tangan ibuku
Yang dulu sibuk memutar sate di panggangan
Ketika ayah masih setia menawar harga sapi kurban.
Ah, daging ini bukan sekadar daging.
Ini adalah sunyi yang diiris-iris,
Adalah doa yang dipanggang bersama rasa takut
Akan usia yang makin pendek,
Adalah bentuk kasih sayang yang berdarah. Bahwa tak semua yang disembelih akan selesai di piring.
Ada yang masih mengalir di dada,
Di kepala,
Di setiap keriput yang menunggu hari.
📚 Artikel Terkait
Orang bilang,
“Daging bakar itu enak, Mak.”
Padahal yang enak itu bukan Cuma rasa,
Tapi ingatan akan masa lalu yang hangus,
Aroma yang membumbung ke langit
Bersama doa yang terkirim
Buat tulang-tulang yang menua.
Ada rasa romantis di setiap gigitan
Ketika api menari di antara gigi
Ketika cucu menertawakan keriput
Dan aku menertawakan waktu
Yang terlalu cepat meninggalkan.
Ada rasa filosofis di setiap kunyahan
Bahwa daging yang kita makan
Adalah juga daging kita sendiri
Yang kelak akan jadi abu.
Aku makan daging ini
Daging kurban bakar
Dengan tawa pahit yang terselip di sela keriput.
Sambil berkata dalam hati,
“Beginilah manusia.
Membakar rasa lapar dan sepi
Dengan rasa syukur yang diiris tipis,
Agar tak terlalu pahit ditelan
Meski sudah lanjut usia.”
Karena di senja usia,
Bahkan daging kurban bakar
Adalah cara kita merayakan yang tersisa
Meski setengah sarkastis,
Meski setengah menertawakan
Kenapa hidup ini sering lebih alot daripada daging itu sendiri.
*
Jakarta, 07 Juni 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






