POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Syukur yang (Tak) Pernah Selesai

RedaksiOleh Redaksi
June 5, 2025
Syukur yang (Tak) Pernah Selesai
🔊

Dengarkan Artikel

Bukankah sejatinya hidup ini tentang melepas apa yang paling kita genggam?


Oleh: Yoss Prabu

Anda tahu, Iduladha itu seperti sebuah kenangan yang selalu kembali, dengan wajah yang lebih matang dan cerita yang kian dalam, mengingatkan kita pada arti pengorbanan, makna memberi, dan betapa sering kita merasa tak cukup padahal sebenarnya kita memiliki lebih dari yang kita sadari.
Bahkan saat sapi dan kambing antre di lapak jagal, kita masih sempat berkeluh kesah soal rezeki yang katanya tak seberapa.
Ah, betapa manusia itu makhluk paling dramatis, paling gemar membandingkan daging kurban tetangga, paling getol menghitung berapa kantong plastik yang diterima. Kadang saya heran, kita ini bersyukur atau hitung-hitungan? Seperti menimbang dosa dan pahala, tapi lupa menakar hati yang sering bocor.
Tapi di balik tawa sinis itu, ada sesuatu yang bikin saya jatuh cinta pada Iduladha, momen ketika kita belajar melepaskan. Bukankah sejatinya hidup ini tentang melepas apa yang paling kita genggam? Lihatlah Nabi Ibrahim, yang rela menyerahkan putranya demi perintah Tuhan. Kalau cinta saja butuh bukti, apalagi iman. Dan di situ letak romantisnya Iduladha, ketika pengorbanan jadi bukti cinta paling nyata, bukan sekadar janji di status WhatsApp yang basi.
Saya membayangkan jika Ibrahim hidup di zaman sekarang, mungkin dia akan viral di TikTok dengan hastag #PengorbananSejati atau #BapakOfTheYear. Atau, dia akan diwawancarai di podcast motivasi, “Pak Ibrahim, bagaimana rasanya hampir menyembelih anak sendiri?” Lalu dia menjawab, “Itulah puncak cinta, Nak. Mengalahkan ego, menundukkan rasa memiliki.” Dan para host akan manggut-manggut, pura-pura paham.
Tapi di balik semua drama itu, ada filosofi yang dalam. Bahwa syukur itu bukan sekadar ucapan terima kasih yang kita rapalkan sambil menunggu giliran potong kambing. Syukur itu adalah keikhlasan menerima bahwa hidup tak selalu sesuai dengan wishlist Shopee kita. Syukur itu saat kita sadar bahwa di balik daging kurban yang kita bagi, ada jiwa yang sedang belajar ikhlas, bahwa memberi bukan tentang sisa, tapi tentang rasa cukup yang membuatmu mau berbagi.
Melankolisnya Iduladha itu begini, saat pagi tiba, takbir berkumandang, dan kita berdiri di lapangan terbuka, di antara orang-orang yang (katanya) setara. Tapi di antara kerumunan itu, ada yang matanya sayu, pikirannya keruh, hatinya masih bergelayut pada beban hidup yang entah kapan terangkat. Mungkin mereka teringat cicilan, atau cinta yang tak kesampaian, atau mimpi yang masih tertahan. Iduladha mengingatkan, semua itu fana. Yang kekal hanyalah keikhlasan kita untuk berbagi dan berserah.
Lucu ya, betapa manusia seringkali terjebak pada tampilan luar, sapi yang gemuk, kambing yang montok, baju baru yang wangi. Padahal, Tuhan cuma ingin melihat hati kita, apakah ikhlas itu sungguh atau cuma formalitas belaka. Sungguh, Iduladha ini seperti cermin yang memantulkan segala kepalsuan yang kita banggakan. Kadang bikin ketawa miris, kadang bikin hati nyeri.
Jadi, mari kita syukuri Iduladha ini. Syukur yang bukan sekadar caption Instagram, tapi syukur yang bergetar di dada, yang meneteskan air mata saat tangan kita menyalurkan daging kurban. Syukur yang membuat kita sadar, semua ini hanya titipan, semua ini hanya latihan untuk ikhlas melepas. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar daging yang empuk, tapi hati yang lapang.
Dan di tengah semua tawa dan air mata ini, saya ingin Anda tahu, Iduladha bukan tentang siapa yang paling banyak memberi atau paling banyak menerima. Iduladha adalah tentang siapa yang paling siap mengikhlaskan. Dan di sanalah, syukur itu menemukan rumahnya.
*
Jakarta, 05 Juni 2025

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Sampah di Istana

Ketika Abu Bakar Berhenti Berderma dan Allah Menegurnya

Puisi Nurdin F. Joes : Hujan dan Air Mata

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 70x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 57x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
150
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata

Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00