• Latest
Ketika Abu Bakar Berhenti Berderma dan Allah Menegurnya - 5299b170 cc13 4dbe 992c dac28e24f72d | #Kontemplasi | Potret Online

Ketika Abu Bakar Berhenti Berderma dan Allah Menegurnya

April 13, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Abu Bakar Berhenti Berderma dan Allah Menegurnya

Akmal Nasery Basral by Akmal Nasery Basral
April 13, 2025
in #Kontemplasi, Skema
Reading Time: 4 mins read
0
Ketika Abu Bakar Berhenti Berderma dan Allah Menegurnya - 5299b170 cc13 4dbe 992c dac28e24f72d | #Kontemplasi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

SKEMA
(Sketsa Masyarakat)

Refleksi

Oleh Akmal Nasery Basral*

1/
Salah satu badai fitnah terdahsyat dalam dunia Islam adalah peristiwa Haditsul Ifki (حادثة الإفك). Tak tanggung-tanggung, yang menjadi objek fitnah adalah istri Nabi Muhammad ﷺ yang suci, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahuma, yang digunjingkan berselingkuh dengan seorang sahabat Nabi, Shafwan bin Mu’aththal.

Begitu destruktifnya kabar yang terjadi pada tahun kelima Hijriyah (627 M) ini sehingga Nabi pun tak bisa langsung memberikan jawaban ketika ditanya umat yang menginginkan kepastian benar tidaknya tuduhan itu.

Rasulullah berdiam diri sekitar 45 hari sampai Allah menurunkan wahyu surat An Nuur ayat 11 dan sepuluh ayat berikutnya yang menjelaskan bahwa itu adalah kabar dusta. Dalam bahasa Arab, kabar dusta disebut “ haditsul ifki”. Kebenaran akhirnya terungkap. Haditsul Ifki direkayasa pemimpin kaum munafik Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ada sisi lain dari kisah Haditsul Ifki yang menyangkut sosok Abu Bakar, ayah Aisyah. Ini semacam subplot dari kisah utama, namun tetap memancarkan berlian hikmah yang tak kalah indah jika ditelaah.

2/
Abu Bakar adalah sahabat terdekat Nabi. Seorang pedagang sukses, kaya raya, dan luar biasa dalam berderma. Tak ada sahabat Nabi lain yang mampu melampaui kedermawanannya. Salah seorang yang selalu mendapat bantuan rutinnya adalah Misthah bin Utsatsah, sepupunya yang hidup pas-pasan. Ibu Misthah adalah bibi Abu Bakar.

Saat api fitnah Haditsul Ifki berkobar, sayangnya Misthah termasuk yang ikut meniup-niupkan gunjingan keji itu karena termakan agitasi Abdullah bin Ubay bin Salul. Ini membuat Abu Bakar murka kepada Misthah dan menghentikan bantuan rutinnya. “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.”

Apakah tindakan Abu Bakar benar? Dalam struktur logika dan nalar umum: tentu saja!

Misthah sebagai sepupu Abu Bakar sekaligus berarti sebagai paman Aisyah. Maka, bagaimana mungkin seorang paman ikut menyebarluaskan kabar dusta tentang kemenakannya sendiri? Tak ada orang waras yang akan melakukan itu.

Faktor lainnya, Misthah rutin menerima bantuan dari Abu Bakar. Mengapa dia justru ikut aktif memperbesar kobaran api fitnah kepada keluarga orang yang membantunya selama ini? Tak ada orang dengan pikiran normal yang mau bersikap begitu.

Akan tetapi persis di tahap inilah plot twist terjadi: Allah justru menegur sikap Abu Bakar.

Pada surat An Nuur ayat 22–masih dalam rangkaian ayat penjelas haditsul ifki—Allah berfirman, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat, orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Begitu mendengar ayat ini dibacakan Nabi, hati Abu Bakar yang lembut dan peka tergetar mengetahui konteks ayat itu diturunkan.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’anul Azhim menjelaskan bahwa Abu Bakar kemudian berkata, “Benar. Demi Allah, sungguh kami suka, wahai Tuhan kami, bila Engkau mengampuni kami. Demi Allah, aku tidak akan mencabut bantuanku lagi (kepada Misthah bin Utsatsah) selama-lamanya.”

Maka Abu Bakar pun kembali melanjutkan derma rutinnya kepada Misthah dengan menaklukkan ego seorang ayah yang terluka hatinya tersebab putrinya menjadi sasaran fitnah.

Ini perbuatan agung yang tak akan bisa diterapkan kecuali oleh mereka dengan hati ikhlas seluas semesta seperti Abu Bakar. Bayangkan saja dua elemen yang berkelindan di dalamnya: memaafkan penyebar fitnah dan meneruskan derma kepadanya karena mengharapkan ridha Allah dan ampunan-Nya semata seperti tersurat dalam penggalan akhir Surat An Nuur ayat 22: “Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”

Dalam konteks membantu orang lain, ternyata Allah menghendaki manusia untuk melihat kondisi orang yang meminta bantuan. Bukan menakar dari kesalahan yang pernah mereka perbuat. Bahkan kalau pun mereka pernah bersalah, Allah memerintahkan untuk berlapang dada memaafkan kesalahan mereka.

3/
Kini, 14 abad setelah peristiwa Haditsul Ifki, tak sedikit aghniya (kalangan berada) yang memiliki kemampuan berderma, namun membatasi diri. Mereka memutuskan berhenti membantu orang lain jika merasa merasa sudah cukup mengulurkan tangan, meringankan beban, sampai pada tahap tertentu saja yang ukurannya ditetapkan sendiri bukan berdasarkan petunjuk kalam Ilahi.

Seyogyanya kisah turunnya ayat 22 Surat An Nuur menjadi pedoman utama bahwa untuk membantu orang lain ternyata tak pernah ada batasnya. Bahkan terhadap orang yang pernah menyakiti perasaan kita dan keluarga sekalipun seperti dilakukan Misthah bin Utsatsah kepada Abu Bakar dan Aisyah r.a., Allah tetap mengharuskan kedermawan tetap dilanjutkan.

Apalagi jika yang butuh bantuan adalah orang-orang yang tak pernah memfitnah, menggunjing, menyebarkan kabar dusta. Mereka mengharapkan uluran tangan semata-mata akibat beban hidup yang sedang mereka hadapi.

Dalam Tafsir Al Azhar, Buya Hamka menjelaskan Surat An Nuur ayat 22 ini sebagai “perintah yang jelas dari Allah untuk membantu atau menolong orang yang kesulitan tanpa adanya alasan atau penundaan yang tidak masuk akal, karena penolakan untuk membantu orang yang sedang kesulitan dapat menimbulkan konsekuensi baik di dunia maupun di akhirat.”

Ketua MUI pertama (1975-1981) itu juga menjelaskan, “Jika ada alasan yang diberikan untuk tidak membantu orang yang sedang kesulitan, maka alasan itu harus dipertanyakan. Alasan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dapat diterima. Namun alasan yang hanya menjadi pembenar untuk tidak menolong harus ditolak, karena bisa jadi itu merupakan bentuk godaan setan.” ( Tafsir Al Azhar, juz 18).

Wallahu a’lam bi shawab.

Jakarta, 14 Syawal 1446/
13 April 2025

*Penulis dwilogi roman biografi kehidupan Buya Hamka Setangkai Pena di Taman Pujangga dan Serangkai Makna di Mihrab Ulama (Republika Penerbit).

Share234SendTweet146Share
Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral adalah mantan redaktur film _Tempo_ (2004 – 2010) dan _Gatra_ (1994 – 1998), penulis 26 buku, termasuk novel _Nagabonar Jadi 2_ (2007) dan _Sang Pencerah_ (2010) Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional, penerima Anugerah Penulis Nasional SATUPENA 2021 kategori fiksi

Next Post
Ketika Abu Bakar Berhenti Berderma dan Allah Menegurnya - 1000499619_11zon | #Kontemplasi | Potret Online

RERASAN

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com