POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 1, 2025
Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Langit Makkah tetap biru. Tapi di bawahnya, tanah panas menyerap peluh dan air mata. Hingga 1 Juni 2025, sebanyak 115 jemaah haji telah wafat. Tak kembali ke rumah, tapi konon kembali ke Tuhan, dalam iringan doa yang tak selesai-selesai. Mereka tidak meninggal di rumah sakit elite, tidak juga di pelukan keluarga, tapi di lorong tenda Mina, di atas sajadah lusuh, atau dalam desak-desakan menuju tempat suci.

Mereka datang dengan harapan. Harapan untuk menjadi bersih. Untuk menukar seluruh beban hidup dengan sehelai kain ihram, dan pulang sebagai bayi spiritual yang bebas dari noda. Tapi sebagian justru pulang sebagai jenazah. Sementara dunia menyebut ini husnul khatimah, anak-anak mereka di kampung menunggu kepulangan yang tak pernah tiba. Ada yang sempat menelepon sehari sebelum ajal menjemput, mengatakan dirinya baik-baik saja, hanya lelah, hanya pusing sedikit. Tak tahu bahwa itu adalah salam terakhir.

Pada tahun 2024, jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci mencapai 461 orang, mayoritas berusia 71 tahun ke atas. Tahun sebelumnya, lebih menyayat, 773 orang wafat sepanjang musim haji 2023. Ini menjadikannya rekor tertinggi dalam satu dekade. Dari jumlah 2024 itu, sebanyak 353 wafat di Makkah, 60 di Madinah, 32 di Mina, 6 di Arafah, dan 10 di Jeddah. Penyebabnya klasik namun mematikan: penyakit jantung, infeksi sepsis, dan komplikasi menahun. Semuanya diperparah suhu ekstrem hingga 50°C dan padatnya arus manusia.

Bayangkan tubuh ringkih berjalan berkilo-kilometer di bawah matahari padang pasir. Bayangkan lansia dengan tekanan darah tinggi dan napas yang pendek mencoba melempar jumrah di antara teriakan dan dorongan. Bayangkan seorang nenek yang mengumpulkan uang selama 30 tahun, hanya untuk wafat setelah tawaf keempat. Tanpa sempat menyelesaikan niat sucinya. Tanpa sempat pulang membawa air zamzam.

Mereka ingin meninggal di tanah suci, katanya. Karena di situlah makam para sahabat. Di situlah Rasulullah dimakamkan. Bahkan Umar bin Khattab pernah berdoa agar diwafatkan di Madinah sebagai syahid. Sabda Nabi pun dikutip ribuan kali, “Barang siapa yang ingin mati di Madinah, maka matilah di sana. Sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi orang yang mati di sana.” Tapi apakah setiap kematian di sana adalah syahid? Apakah setiap tubuh yang roboh oleh dehidrasi dan tekanan darah rendah akan langsung disambut malaikat di Raudhah?

📚 Artikel Terkait

Ponsel Pintar dan Anak Kita – Bincang Sore POTRET

Membaca Pemikiran Hasan Tiro di Stan Aceh Story Expo

Sengketa Terpelihara

Kutulis Senja Bagi Puan

Kita terlalu mudah menyebut kematian sebagai karunia. Padahal beberapa dari mereka wafat karena ambulans terlambat, karena tubuh terlalu lemah, karena dipaksa berangkat demi status sosial dan gengsi keluarga. Kita menyebutnya takdir. Padahal, sebagian bisa dicegah. Kita menyebutnya husnul khatimah, padahal yang wafat belum tentu rela.

Hingga 1 Juni 2025, 115 nama kembali ke tanah, bukan tanah air, tapi tanah Tuhan. Jumlah itu masih akan bertambah. Maut tidak menunggu niat. Ia datang ketika tubuh tak lagi mampu membawa rindu. Ia datang bukan untuk mengadili, tapi untuk mengakhiri. Untuk membawa pergi mereka yang hanya ingin sekali saja mencium Hajar Aswad, atau duduk tenang di bawah payung besar Masjid Nabawi.

Air mata pun tumpah. Bukan karena duka semata, tapi karena kita tahu, ibadah paling mulia ini, juga bisa menjadi perpisahan paling sunyi. Tidak ada takziah massal. Hanya laporan digital dan berita yang lewat begitu saja.

Tapi bagi yang ditinggalkan, setiap angka adalah ayah. Setiap statistik adalah ibu. Setiap korban adalah kisah. Setiap kematian adalah lubang di dada yang tak bisa ditambal oleh fatwa.

Bagi orang tua atau keluarga yang sedang menunaikan haji, doakan mereka agar tetap kuat, dan bisa kembali ke tanah air dengan membawa air zam-zam. Doakan agar bisa kembali merasakan kopi dari bumi ibu pertiwi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Indra Mardiani

Puisi-Puisi Indra Mardiani

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00