• Latest
Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat

Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat

Juni 1, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Juni 1, 2025
in # Haji, # Mekkah
Reading Time: 3 mins read
0
Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Langit Makkah tetap biru. Tapi di bawahnya, tanah panas menyerap peluh dan air mata. Hingga 1 Juni 2025, sebanyak 115 jemaah haji telah wafat. Tak kembali ke rumah, tapi konon kembali ke Tuhan, dalam iringan doa yang tak selesai-selesai. Mereka tidak meninggal di rumah sakit elite, tidak juga di pelukan keluarga, tapi di lorong tenda Mina, di atas sajadah lusuh, atau dalam desak-desakan menuju tempat suci.

Mereka datang dengan harapan. Harapan untuk menjadi bersih. Untuk menukar seluruh beban hidup dengan sehelai kain ihram, dan pulang sebagai bayi spiritual yang bebas dari noda. Tapi sebagian justru pulang sebagai jenazah. Sementara dunia menyebut ini husnul khatimah, anak-anak mereka di kampung menunggu kepulangan yang tak pernah tiba. Ada yang sempat menelepon sehari sebelum ajal menjemput, mengatakan dirinya baik-baik saja, hanya lelah, hanya pusing sedikit. Tak tahu bahwa itu adalah salam terakhir.

Pada tahun 2024, jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci mencapai 461 orang, mayoritas berusia 71 tahun ke atas. Tahun sebelumnya, lebih menyayat, 773 orang wafat sepanjang musim haji 2023. Ini menjadikannya rekor tertinggi dalam satu dekade. Dari jumlah 2024 itu, sebanyak 353 wafat di Makkah, 60 di Madinah, 32 di Mina, 6 di Arafah, dan 10 di Jeddah. Penyebabnya klasik namun mematikan: penyakit jantung, infeksi sepsis, dan komplikasi menahun. Semuanya diperparah suhu ekstrem hingga 50°C dan padatnya arus manusia.

Bayangkan tubuh ringkih berjalan berkilo-kilometer di bawah matahari padang pasir. Bayangkan lansia dengan tekanan darah tinggi dan napas yang pendek mencoba melempar jumrah di antara teriakan dan dorongan. Bayangkan seorang nenek yang mengumpulkan uang selama 30 tahun, hanya untuk wafat setelah tawaf keempat. Tanpa sempat menyelesaikan niat sucinya. Tanpa sempat pulang membawa air zamzam.

Mereka ingin meninggal di tanah suci, katanya. Karena di situlah makam para sahabat. Di situlah Rasulullah dimakamkan. Bahkan Umar bin Khattab pernah berdoa agar diwafatkan di Madinah sebagai syahid. Sabda Nabi pun dikutip ribuan kali, “Barang siapa yang ingin mati di Madinah, maka matilah di sana. Sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi orang yang mati di sana.” Tapi apakah setiap kematian di sana adalah syahid? Apakah setiap tubuh yang roboh oleh dehidrasi dan tekanan darah rendah akan langsung disambut malaikat di Raudhah?

Kita terlalu mudah menyebut kematian sebagai karunia. Padahal beberapa dari mereka wafat karena ambulans terlambat, karena tubuh terlalu lemah, karena dipaksa berangkat demi status sosial dan gengsi keluarga. Kita menyebutnya takdir. Padahal, sebagian bisa dicegah. Kita menyebutnya husnul khatimah, padahal yang wafat belum tentu rela.

Hingga 1 Juni 2025, 115 nama kembali ke tanah, bukan tanah air, tapi tanah Tuhan. Jumlah itu masih akan bertambah. Maut tidak menunggu niat. Ia datang ketika tubuh tak lagi mampu membawa rindu. Ia datang bukan untuk mengadili, tapi untuk mengakhiri. Untuk membawa pergi mereka yang hanya ingin sekali saja mencium Hajar Aswad, atau duduk tenang di bawah payung besar Masjid Nabawi.

Air mata pun tumpah. Bukan karena duka semata, tapi karena kita tahu, ibadah paling mulia ini, juga bisa menjadi perpisahan paling sunyi. Tidak ada takziah massal. Hanya laporan digital dan berita yang lewat begitu saja.

Baca Juga

BENGKEL OPINI RAKyat

Januari 10, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

September 12, 2025
Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik

Ibadah Haji, Antrean Panjang, dan Negara yang Belum Sepenuhnya Hadir

Juli 12, 2025

Tapi bagi yang ditinggalkan, setiap angka adalah ayah. Setiap statistik adalah ibu. Setiap korban adalah kisah. Setiap kematian adalah lubang di dada yang tak bisa ditambal oleh fatwa.

Bagi orang tua atau keluarga yang sedang menunaikan haji, doakan mereka agar tetap kuat, dan bisa kembali ke tanah air dengan membawa air zam-zam. Doakan agar bisa kembali merasakan kopi dari bumi ibu pertiwi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Puisi-Puisi Indra Mardiani

Puisi-Puisi Indra Mardiani

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com