Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TMr
Dalam sejarah panjang umat manusia, selalu ada kisah-kisah misterius yang mengusik logika. Beberapa dari kisah itu bahkan terpecahkan bukan melalui kejelian detektif atau kecanggihan teknologi, melainkan melalui mimpi—sebuah fenomena yang hingga kini masih menjadi teka-teki dalam dunia sains dan spiritualitas.
Salah satu kisah paling mengguncang terjadi di Inggris, dua abad silam. Kasus ini tidak hanya mengguncang nurani masyarakat saat itu, tetapi juga menjadi legenda yang terus hidup dalam drama, balada, dan pertunjukan seni hingga hari ini. Ia dikenal sebagai kisah The Red Barn Murder, atau dalam bahasa kita: Pembunuhan Lumbung Merah.
Sebuah Desa Kecil dan Lumbung yang Mencolok
Tahun 1827, di sebuah desa mungil bernama Polstead, yang terletak di Suffolk, Inggris Timur, berdirilah sebuah lumbung mencolok berwarna merah menyala. Lumbung ini berbeda dari bangunan lainnya yang umumnya suram dan kelabu. Karena warnanya yang tidak biasa, penduduk menyebutnya The Red Barn, dan bangunan ini kelak akan menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi cinta, pengkhianatan, dan keadilan ilahi.
Di desa ini, hiduplah dua anak muda: William Corder dan Maria Marten. Mereka menjalin asmara penuh gairah, meskipun dibayangi oleh reputasi buruk Corder. Corder, sejak muda sudah dikenal licik dan manipulatif. Di sekolah, ia dijuluki “si Rubah” karena sering menipu dan berkelit. Ia pernah mencuri ternak ayahnya sendiri, menggunakan cek palsu, bahkan terlibat dalam pencurian bersama seorang kriminal lokal bernama Smith.
Namun, di mata Maria, Corder adalah cinta sejatinya. Hubungan mereka—yang berlangsung secara rahasia—membuahkan seorang anak. Sayangnya, sang bayi lahir dengan cacat dan meninggal hanya dua minggu setelah dilahirkan. Karena anak tersebut merupakan “anak haram”, dalam masyarakat Inggris yang konservatif kala itu, bayi itu tidak bisa mendapat pemakaman layak.
Maria dan Corder lalu diam-diam menguburkan sang bayi, menyimpan duka mereka dalam diam.
Kebohongan yang Mematikan
Beberapa minggu kemudian, tepatnya pada pagi hari Jumat, 18 Mei 1827, Corder datang tergesa-gesa ke rumah keluarga Maria. Dengan wajah panik dan membawa sepucuk senapan, ia memberi kabar buruk: polisi dari London telah mengetahui kasus kelahiran anak haram mereka. Ia mengaku bahwa surat penangkapan sudah dikeluarkan, dan Maria akan segera ditahan.
Maria yang ketakutan hanya bisa menangis dan bertanya apa yang harus dilakukan. Corder, dalam nada meyakinkan namun penuh tipu daya, menyarankan agar Maria menyamar sebagai laki-laki dan bersembunyi di Lumbung Merah. Ia berjanji akan menyusul dan membawa semua barang-barang, lalu melarikan diri ke Ipswich untuk menikah diam-diam.
Ibu tiri Maria, Nyonya Marten, berada di rumah saat itu. Ia sempat menegur Corder, “Seandainya kau menikahi Maria dari awal, semua ini tidak akan terjadi!” Corder hanya menjawab, “Besok aku akan menikahinya.”
Namun Nyonya Marten tidak percaya begitu saja. Ia tahu betul reputasi Corder—pembohong dan penipu. Sayangnya, Maria tetap pergi. Ia meninggalkan rumah sekitar pukul 12.30 siang, mengenakan syal berwarna hijau. Itu adalah kali terakhir keluarganya melihatnya hidup.
Kebohongan yang Berlanjut
Keesokan harinya, Corder kembali ke rumah keluarga Marten. Ia mengatakan bahwa Maria baik-baik saja, mereka telah menikah, dan sedang tinggal di tempat lain. Tapi yang aneh, Corder datang sendirian.
📚 Artikel Terkait
Waktu berlalu. Corder beberapa kali menulis surat kepada keluarga Marten, mengatakan bahwa Maria sedang sakit, atau tangannya cedera sehingga tidak bisa menulis surat sendiri. Ia juga menyebut bahwa mereka tinggal di Pulau Wight, dan takut pulang karena takut kemarahan masyarakat atas kawin lari mereka.
Tapi keluarga Marten mulai merasakan ada sesuatu yang janggal. Maria dikenal sebagai gadis yang sangat perhatian pada keluarganya. Tak mungkin ia menghilang begitu saja, apalagi tanpa kabar saat Natal.
Hari demi hari, harapan mulai berganti dengan firasat. Hingga pada suatu malam, Nyonya Marten mulai bermimpi. Dalam tidurnya, Maria hadir dalam wujud yang sangat nyata—memanggil, menangis, dan menunjuk ke arah Lumbung Merah.
Awalnya Nyonya Marten memendam mimpi itu. Ia khawatir dianggap berhalusinasi. Tapi mimpi itu terus datang—muncul dalam tiga malam berturut-turut. Akhirnya, ia tak tahan lagi dan memaksa suaminya untuk memeriksa Lumbung Merah.
Penemuan yang Menggemparkan
Tanggal 19 April 1828, hampir setahun setelah Maria menghilang, Tuan Marten dan temannya Bowtell mendatangi Lumbung Merah. Begitu memasuki bangunan tua itu, mereka menyapu jerami yang berserakan di lantai tanah. Mereka menemukan sebidang tanah yang tampak tergali—bekas galian baru.
Dengan hati berdebar, mereka mulai menggali. Baru sedalam kurang dari 50 cm, mereka menemukan karung goni, dan dari dalamnya mencuat syal hijau yang masih dikenakan korban. Bau busuk yang menyengat keluar dari lubang itu. Tak berani menggali lebih dalam, Tuan Marten bergegas pulang dan bertanya pada istrinya:
“Syal warna apa yang dikenakan Maria saat ia pergi?”
Nyonya Marten menjawab, “Hijau.”
Air mata pun tumpah. Mereka sadar, Maria tidak lagi hidup.
Keadilan Akhirnya Datang
Pihak berwenang segera datang dan mengangkat jenazah. Hasil identifikasi forensik membuktikan: itu adalah jasad Maria. Ia meninggal karena ditembak, dan peluru yang ditemukan cocok dengan senapan milik Corder.
Polisi segera memburu Corder yang kini tinggal di London bersama istri barunya dan menjalankan sekolah asrama perempuan. Dari rumahnya, ditemukan senapan yang digunakan, serta paspor Prancis—menandakan ia telah bersiap kabur.
Pada 7 Agustus 1828, pengadilan digelar. Masyarakat datang berduyun-duyun. Kasus ini menjadi pusat perhatian nasional. Meski Corder bersikeras tak bersalah, juri hanya membutuhkan 35 menit untuk menjatuhkan vonis: bersalah.
Tiga hari kemudian, Corder akhirnya mengakui semuanya. Ia mengaku membunuh Maria karena pertengkaran hebat. Ia pun dijatuhi hukuman gantung pada 11 Agustus 1828, disaksikan ribuan orang.
Tangan Tuhan dalam Mimpi
Namun bagian paling mengguncang dari kisah ini—yang membuatnya terus hidup dalam sejarah dan sastra—bukan hanya tragedinya, melainkan bagaimana kebenaran akhirnya terungkap bukan oleh detektif, tetapi oleh mimpi.
Maria datang berulang kali dalam mimpi ibunya, menunjukkan tempat ia dikubur. Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Ia menjadi bukti bahwa “Tangan Tuhan ada di mana-mana,” seperti yang kemudian ditulis dalam berbagai karya sastra yang mengadaptasi kisah ini.
Kisah Lumbung Merah adalah pengingat bahwa kejahatan mungkin bisa bersembunyi dari hukum manusia, tetapi tidak dari pengadilan langit.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





