POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Abu Cot Kuta; Ulama Aceh dan Pendiri Dayah Periode Awal

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
May 30, 2025
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc. MA

Masyarakat Cot Trueng dan sekitarnya mengenal beliau dengan laqab Abu Cot Kuta. Nama asli beliau adalah Teungku Abu Bakar bin T. Muhammad Ali. Lahir  dari keluarga sederhana, tidak pernah menyurutkan langkah beliau dalam menimba ilmu pengetahuan. Mengawali pendidikannya, Teungku Abu Bakar Cot Kuta belajar langsung pada ayahnya yang juga seorang yang memahami agama. 

Selain belajar pada ayahnya, beliau bersekolah di SR, namun ada yang unik dari beliau yaitu masa belajarnya setengah dari yang lain. Karena kecerdasan Teungku Abu Bakar Cot Kuta hanya bersekolah enam bulan dalam setiap tahunnya, karena cepatnya beliau memahami setiap bahan yang diajarkan.

Selesai SR dalam waktu yang singkat, Abu Cot Kuta memulai pendalaman agamanya pada salah seorang ulama dan pendiri Dayah yang dikenal dengan Abu Ibrahim Puloe Reudeup. Disebutkan lama beliau berguru kepada Teungku Ibrahim tersebut sampai beliau menjadi seorang yang alim dan mendalam ilmunya. 

Setelah menjadi seorang Teungku, Abu Cot Kuta kemudian menikah dan tidak lama setelah menikah isteri yang beliau cintai meninggal dan memiliki seorang anak yang dititip ke adik beliau Cut Hawiyah.

Selain seorang yang cerdas, Abu Cot Kuta juga memiliki bakat dan suara yang bagus, sehingga beliau didaulat sebagai syekh meusekat, namun hal ini kurang berkenan pada diri ayahnya Teuku Muhammad Ali, sehingga atas inisiatif ayahnya Abu Cot Kuta dianjurkan untuk memperdalam kembali ilmunya kepada seorang ulama terpandang di daerah Tanjungan yaitu kepada Abu Idris Tanjungan. 

Pada tahun 1931 berangkatlah beliau ke Tanjungan untuk belajar langsung ke ulama besar Tanjungan itu. Abu Cot Kuta waktu itu berusia sekitar 35 tahun karena beliau diperkirakan lahir tahun 1896 sebaya dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh. 

Saat belajar dengan Abu Idris Tanjungan yang merupakan ayah dari ulama yang dikenal dengan Ayah Hamid atau Teungku Abdul Hamid Tanjungan seorang tokoh yang melakukan pembaharuan dalam pendidikan. 

Pada masa itu Abu Idris Tanjungan telah sepuh, sehingga Teungku Abu Bakar Cot Kuta membaca sendiri Kitab-Kitab besar, sedangkan Abu Idris Tanjungan menyimaknya dari pembaringan beliau.

📚 Artikel Terkait

Nyalanesia Lakukan Webinar Sekolah Aktif Literasi Nasional

KOBARAN SEMANGAT MOU HELSINKI DAN UUPA

Memintal Kehidupan

Belajar Bertetangga dari India vs Pakistan

Di Tanjungan pula Teungku Abu Bakar Cot Kuta sudah ditunjuk menjadi Teungku Rangkang, asisten dari Abu Idris Tanjungan. Berkat kesungguhan dan kesabaran dalam belajar dengan kecerdasan yang dimilikinya, telah mengantarkan Teungku Abu Bakar menjadi seorang ulama yang diperhitungkan ketika itu. Setelah selesai belajar dari gurunya, Abu Cota Kuta kemudian menikah dengan seorang gadis yang bernama Cut Saudah binti Sabi. Dari pasangan ini melahirkan beberapa anak laki-laki dan perempuan, di antaranya ada yang bernama Cut Habsyah yang kemudian menikah dengan Teungku Muhammad Daud yang kemudian melahirkan seorang ulama Aceh lainnya yang melanjutkan keilmuan dan keulamaan Abu Cot Kuta yaitu Teungku Muhammad Amin Daud yang dikenal dengan Ayah Min Cot Trueng Pimpinan Raudhatul Ma’arif Cot Trueng.

Pada tahun 1934 di daerah Krueng Manee, Ampon Lutan dan Ampon Ubit yang merupakan Ulee Balang di Krueng Manee sedang mencari seorang ulama untuk dijadikan sebagai Qadhi kawasan Krueng Manee. Awalnya mereka ingin menunjuk seorang ulama lainnya yaitu Teungku Hasbi As-Shiddiqie yang juga murid Abu Idris Tanjungan yang telah membuka lembaga pendidikan di wilayah Cot Seurani. 

Ada kekhawatiran pada Ampon Lutan bahwa pemikiran Teungku Hasbi Shiddiqie tidak sesuai dengan masyarakat Krueng Manee secara umum, sehingga dibuatlah semacam Mubahasah antara Teungku Abu Bakar Cot Kuta dengan Teungku Hasbi tersebut. setelah penetapan hari H, dan panitia telah menyiapkan tempat dan semuanya, masyarakat juga telah berhadir untuk menyaksikannya, maka Teungku Hasbi Shiddiqie tidak jadi berhadir. 

Semenjak ketidakhadiran Teungku Hasbi Siddiqie, maka qadhi di daerah Krueng Manee diangkatlah Teungku Abu Bakar yang kemudian dikenal dengan Abu Cot Kuta. Setelah ditunjuk menjadi pemimpin agama di Krueng Manee, Abu Cot Kuta kemudian mendirikan sebuah Dayah yang kemudian termasuk Dayah yang diperhitungkan besar pada masa itu, sebagaimana yang ditulis dalam buku Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia karya Prof Mahmud Yunus. 

Prof Mahmud Yunus menulis beberapa dayah di Aceh yang mula-mula berdiri selain Dayah Abu Hasan Kruengkalee juga dayah lainnya termasuk dayah Abu Cot Kuta. Walaupun pada tahun-tahun tersebut telah ada dayah lainnya misalnya Abu Syech Mud di Blangpidie yang dibangun tahun 1928 dan Abu Ali Lampisang di tahun 1924 dengan Jami’iyatul Khairiyah–nya, dan banyak dayah lainnya.

Perkembangan Dayah Abu Cot Kuta terus meningkat dari-hari ke hari. Tapi dua belas tahun setelahnya terjadi Perang Cumbok, sehingga banyak para ulee balang yang meninggal dalam perang tersebut, termasuk Ampon Lutan dan Ampon Ubit yang merupakan Ulee Balang Krueng Manee. Karena semenjak berdirinya dayah tersebut pendanaannya banyak dibantu oleh kedua ulee balang tersebut. 

Mengingat kondisi yang makin melemah dan hilangnya orang yang selama ini menopang dayah, maka Abu Cot Kuta berinisiatif untuk pulang ke kampung aslinya di Cot Kuta, namun sebelum niat tersebut terlaksana, salah seorang ulama dan Pimpinan Dayah Nasrul Muta’alimin meminta masyarakat setempat untuk menempatkan Abu Cot Kuta di Cot Trueng agar mengayomi masyarakat Cot Trueng. 

Maka berpindahlah Abu Cot Kuta ke tempat yang baru di Cot Trueng, sehingga mulailah proses belajar-mengajar dan mulai pula berdatangan santri ke tempat tersebut yang dinamakan Dayah Raudhatul Ma’arif. 

Banyak santrinya kemudian yang menjadi para ulama seperti di Dayah Krueng Manee dahulunya. Sebut saja beberapa di antara murid Abu Cot Kuta adalah: Abu Sulaiman Lhoksukon, Abi Syafi’i Aron dan Teungku Muhammad Isa Peurepok yang ketiganya adalah ulama Kharismatik Aceh, serta para santri lainnya.

Selain sebagai ulama dan pimpinan dayah Raudhatul Ma’arif, Abu Cot Kuta juga aktif termasuk tokoh Perti di wilayahnya, terhitung mulai tahun 1957 Abu Cot Kuta bergabung dengan Perti semenjak diserukan oleh Abu Kruengkale agar para ulama dayah hendaknya bergabung dengan organisasi Ahlussunnah Waljama’ah tersebut. 

Setelah pengabdian yang panjang untuk masyarakatnya, di tahun 1969 wafatlah Abu Cot Kuta. Dan Dayah Raudhatul Ma’arif yang dibangunnya dahulu telah berkembang begitu pesat dimana santrinya mencapai dua ribuan dari seluruh Aceh. 

Dayah yang besar ini dipimpin oleh seorang ulama kharismatik Aceh yang dikenal dengan Ayah Min di Cot Trueng atau Abu Cot Trueng Teungku Muhammad Amin Daud yang merupakan salah satu cucu dari Abu Cot Kuta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ka’bah, Titik Nol Persatuan Umat Islam: Membangun Good Page Islam Global

Ka’bah, Titik Nol Persatuan Umat Islam: Membangun Good Page Islam Global

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00