• Latest
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

Abu Cot Kuta; Ulama Aceh dan Pendiri Dayah Periode Awal

Mei 30, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Abu Cot Kuta; Ulama Aceh dan Pendiri Dayah Periode Awal

Nurkhalis Muchtarby Nurkhalis Muchtar
Mei 30, 2025
in #Ulama Kharismatik Aceh, #Ulama Nusantara, Artikel, ulama, Ulama Kharismatik Aceh
Reading Time: 4 mins read
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc. MA

Masyarakat Cot Trueng dan sekitarnya mengenal beliau dengan laqab Abu Cot Kuta. Nama asli beliau adalah Teungku Abu Bakar bin T. Muhammad Ali. Lahir  dari keluarga sederhana, tidak pernah menyurutkan langkah beliau dalam menimba ilmu pengetahuan. Mengawali pendidikannya, Teungku Abu Bakar Cot Kuta belajar langsung pada ayahnya yang juga seorang yang memahami agama. 

Selain belajar pada ayahnya, beliau bersekolah di SR, namun ada yang unik dari beliau yaitu masa belajarnya setengah dari yang lain. Karena kecerdasan Teungku Abu Bakar Cot Kuta hanya bersekolah enam bulan dalam setiap tahunnya, karena cepatnya beliau memahami setiap bahan yang diajarkan.

Selesai SR dalam waktu yang singkat, Abu Cot Kuta memulai pendalaman agamanya pada salah seorang ulama dan pendiri Dayah yang dikenal dengan Abu Ibrahim Puloe Reudeup. Disebutkan lama beliau berguru kepada Teungku Ibrahim tersebut sampai beliau menjadi seorang yang alim dan mendalam ilmunya. 

Setelah menjadi seorang Teungku, Abu Cot Kuta kemudian menikah dan tidak lama setelah menikah isteri yang beliau cintai meninggal dan memiliki seorang anak yang dititip ke adik beliau Cut Hawiyah.

Selain seorang yang cerdas, Abu Cot Kuta juga memiliki bakat dan suara yang bagus, sehingga beliau didaulat sebagai syekh meusekat, namun hal ini kurang berkenan pada diri ayahnya Teuku Muhammad Ali, sehingga atas inisiatif ayahnya Abu Cot Kuta dianjurkan untuk memperdalam kembali ilmunya kepada seorang ulama terpandang di daerah Tanjungan yaitu kepada Abu Idris Tanjungan. 

Pada tahun 1931 berangkatlah beliau ke Tanjungan untuk belajar langsung ke ulama besar Tanjungan itu. Abu Cot Kuta waktu itu berusia sekitar 35 tahun karena beliau diperkirakan lahir tahun 1896 sebaya dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh. 

Saat belajar dengan Abu Idris Tanjungan yang merupakan ayah dari ulama yang dikenal dengan Ayah Hamid atau Teungku Abdul Hamid Tanjungan seorang tokoh yang melakukan pembaharuan dalam pendidikan. 

Pada masa itu Abu Idris Tanjungan telah sepuh, sehingga Teungku Abu Bakar Cot Kuta membaca sendiri Kitab-Kitab besar, sedangkan Abu Idris Tanjungan menyimaknya dari pembaringan beliau.

Di Tanjungan pula Teungku Abu Bakar Cot Kuta sudah ditunjuk menjadi Teungku Rangkang, asisten dari Abu Idris Tanjungan. Berkat kesungguhan dan kesabaran dalam belajar dengan kecerdasan yang dimilikinya, telah mengantarkan Teungku Abu Bakar menjadi seorang ulama yang diperhitungkan ketika itu. Setelah selesai belajar dari gurunya, Abu Cota Kuta kemudian menikah dengan seorang gadis yang bernama Cut Saudah binti Sabi. Dari pasangan ini melahirkan beberapa anak laki-laki dan perempuan, di antaranya ada yang bernama Cut Habsyah yang kemudian menikah dengan Teungku Muhammad Daud yang kemudian melahirkan seorang ulama Aceh lainnya yang melanjutkan keilmuan dan keulamaan Abu Cot Kuta yaitu Teungku Muhammad Amin Daud yang dikenal dengan Ayah Min Cot Trueng Pimpinan Raudhatul Ma’arif Cot Trueng.

Pada tahun 1934 di daerah Krueng Manee, Ampon Lutan dan Ampon Ubit yang merupakan Ulee Balang di Krueng Manee sedang mencari seorang ulama untuk dijadikan sebagai Qadhi kawasan Krueng Manee. Awalnya mereka ingin menunjuk seorang ulama lainnya yaitu Teungku Hasbi As-Shiddiqie yang juga murid Abu Idris Tanjungan yang telah membuka lembaga pendidikan di wilayah Cot Seurani. 

Ada kekhawatiran pada Ampon Lutan bahwa pemikiran Teungku Hasbi Shiddiqie tidak sesuai dengan masyarakat Krueng Manee secara umum, sehingga dibuatlah semacam Mubahasah antara Teungku Abu Bakar Cot Kuta dengan Teungku Hasbi tersebut. setelah penetapan hari H, dan panitia telah menyiapkan tempat dan semuanya, masyarakat juga telah berhadir untuk menyaksikannya, maka Teungku Hasbi Shiddiqie tidak jadi berhadir. 

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Semenjak ketidakhadiran Teungku Hasbi Siddiqie, maka qadhi di daerah Krueng Manee diangkatlah Teungku Abu Bakar yang kemudian dikenal dengan Abu Cot Kuta. Setelah ditunjuk menjadi pemimpin agama di Krueng Manee, Abu Cot Kuta kemudian mendirikan sebuah Dayah yang kemudian termasuk Dayah yang diperhitungkan besar pada masa itu, sebagaimana yang ditulis dalam buku Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia karya Prof Mahmud Yunus. 

Prof Mahmud Yunus menulis beberapa dayah di Aceh yang mula-mula berdiri selain Dayah Abu Hasan Kruengkalee juga dayah lainnya termasuk dayah Abu Cot Kuta. Walaupun pada tahun-tahun tersebut telah ada dayah lainnya misalnya Abu Syech Mud di Blangpidie yang dibangun tahun 1928 dan Abu Ali Lampisang di tahun 1924 dengan Jami’iyatul Khairiyah–nya, dan banyak dayah lainnya.

Perkembangan Dayah Abu Cot Kuta terus meningkat dari-hari ke hari. Tapi dua belas tahun setelahnya terjadi Perang Cumbok, sehingga banyak para ulee balang yang meninggal dalam perang tersebut, termasuk Ampon Lutan dan Ampon Ubit yang merupakan Ulee Balang Krueng Manee. Karena semenjak berdirinya dayah tersebut pendanaannya banyak dibantu oleh kedua ulee balang tersebut. 

Mengingat kondisi yang makin melemah dan hilangnya orang yang selama ini menopang dayah, maka Abu Cot Kuta berinisiatif untuk pulang ke kampung aslinya di Cot Kuta, namun sebelum niat tersebut terlaksana, salah seorang ulama dan Pimpinan Dayah Nasrul Muta’alimin meminta masyarakat setempat untuk menempatkan Abu Cot Kuta di Cot Trueng agar mengayomi masyarakat Cot Trueng. 

Maka berpindahlah Abu Cot Kuta ke tempat yang baru di Cot Trueng, sehingga mulailah proses belajar-mengajar dan mulai pula berdatangan santri ke tempat tersebut yang dinamakan Dayah Raudhatul Ma’arif. 

Banyak santrinya kemudian yang menjadi para ulama seperti di Dayah Krueng Manee dahulunya. Sebut saja beberapa di antara murid Abu Cot Kuta adalah: Abu Sulaiman Lhoksukon, Abi Syafi’i Aron dan Teungku Muhammad Isa Peurepok yang ketiganya adalah ulama Kharismatik Aceh, serta para santri lainnya.

Selain sebagai ulama dan pimpinan dayah Raudhatul Ma’arif, Abu Cot Kuta juga aktif termasuk tokoh Perti di wilayahnya, terhitung mulai tahun 1957 Abu Cot Kuta bergabung dengan Perti semenjak diserukan oleh Abu Kruengkale agar para ulama dayah hendaknya bergabung dengan organisasi Ahlussunnah Waljama’ah tersebut. 

ADVERTISEMENT

Setelah pengabdian yang panjang untuk masyarakatnya, di tahun 1969 wafatlah Abu Cot Kuta. Dan Dayah Raudhatul Ma’arif yang dibangunnya dahulu telah berkembang begitu pesat dimana santrinya mencapai dua ribuan dari seluruh Aceh. 

Dayah yang besar ini dipimpin oleh seorang ulama kharismatik Aceh yang dikenal dengan Ayah Min di Cot Trueng atau Abu Cot Trueng Teungku Muhammad Amin Daud yang merupakan salah satu cucu dari Abu Cot Kuta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Ka’bah, Titik Nol Persatuan Umat Islam: Membangun Good Page Islam Global

Ka’bah, Titik Nol Persatuan Umat Islam: Membangun Good Page Islam Global

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com