Dengarkan Artikel
Oleh: Musyawir*
Bagaimana mungkin ‘Nol saldo’ lalu bisa melahirkan program Pemberdayaan Ekonomi, Dakwah dan Pendidikan, serta Kegiatan Sosial? Mustahil.
Bagaimana gerakan ini bermula dan apa landasannya.
Ini hal yang memantik diskusi banyak orang termasuk saya pribadi. Sangat tidak mungkin menggerakkan program, tanpa dukungan dana karena bersinggungan dengan kebutuhan material saat menjalankan kegiatan, bahkan urusan kecil yang beririsan dengan operasional. Tapi ada pengecualian, dan ini terjadi di Masjid Jogokariyan.
Mereka para pengelola atau pengurus melakukan iuran urunan menggerakan program. Bahkan mereka berdiri di shaf paling depan dalam syiar Islam, sebelum jama’ah atau warga lain. Mereka berada di sana untuk mengajak orang sholat tanpa mendikte dengan teori, cukup dengan sikap.
Mereka mengajak orang berinfaq/sedekah tanpa merasa diabsen satu-persatu, cukup dengan manajemen keuangan yang masuk ke kas masjid dan dikelola, berdampak progres pada kegiatan sosial menjadi daya ingat atas transparansi dengan ketepatan penggunaan dana. Sekali lagi bukan fisik bangunan masjid yang dibangun, melainkan mental umat.
Mendengarkan podcast tema JOGOKARIYAN: MASJID PALING INOVATIF DI JOGJA! | SEBAT DULU akun youtbe. Mojokdotco, banyak hal yang menjadi masukan sebagai sebuah pengetahuan dan pengalaman. Masjid menjadi poros utama dalam membangunkan jiwa kemanusiaan yang sering disebut cendekiawan muslim ‘hablum minannas’. Kas masjid dioptimalkan dan seluruh program yang dibuat adalah bertujuan mengakomodasi semua kebutuhan sosial dan spritual masyarakat.
20 September 1966 peletakan batu pertama Masjid ini, setahun kemudian Agustus 1967 diresmikan oleh ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Jogja. Sebelum berdiri sebagai Masjid, dahulu dia adalah Langgar/Musholla yang berada di RT 42, RW 11 Kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Alamat saat ini Jalan Jogokaryan, No. 36, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, DIY.
Apa saja bentuk program di masjid Jogokariyan. Apakah para pengurus/pengelola Masjid Jogokariyan adalah mereka yang sudah terlatih dan ditatar oleh lembaga khusus untuk melaksanakan program, jawabannya bisa beragam. Namun sejak era 2000-an mereka sudah memulai pelayanan baik kepada jama’ah/masyarakat. Para pengurus tidak hanya melayani kebutuhan sholat dan ibadah yang dilakukan jama’ah di dalam masjid. Alih-alih para pengurus juga menyiapkan fasilitas dan layanan sosial yang sumber pendanaannya diambil dari kas masjid.
Mulai dari layanan terhadap para musafir yang hendak menginap, kamar, makanan, fasilitas wifi hingga layanan kesehatan semua terorganisir dengan baik. Struktur organisasi berjalan sesuai fungsi, ada 28 devisi di bawah Biro Klinik, Biro Kaut dan Komite Aksi Umat, semua itu bergerak dengan baik. Ini kebaikan yang tertata dengan kedisiplinan dan kesadaran mengelola potensi yang ada.
2006, salah seorang warga meminta bantuan dana ke Masjid karena bangunannya runtuh akibat gempa bumi, tanpa pikir panjang penawaran dimulai. Dengan niat membantu warga yang kesusahan, pengelola membuat penggalangan dana untuk membeli tanah bekas bangunan runtuh yang berada di dekat masjid.
📚 Artikel Terkait
Jama’ah masjid berbondong-bondong memberikan infaq. Warga dan Jama’ah masjid merasakan dampak atas pelayanan, ini pointnya. Mereka tidak tanggung-tanggung mengulurkan tangan, berinfaq dan sodaqoh karena jama’ah sadar bahwa semua itu untuk semua orang yang datang dan beribadah di Masjid ini.
Hal yang menjadi benang merah, bahwa pengurus/pengelola tidak mengendapkan uang infaq dan sodaqoh. Semua dikelola untuk menggerakkan kegiatan yang tidak pernah libur di Masjid Jogokariyan. Setiap hari ada kajian/majelis ilmu. Setiap hari ada warga yang dibantu untuk urusan kesehatan. Setiap hari ada warga yang dibantu untuk makan dan minum. Setiap hari ada jama’ah yang dilayani saat datang ke Masjid. Semua pelayanan itu menggunakan dana dan tenaga sukarela.
Para relawan berdatangan menawarkan diri menjadi pelayan tanpa menanyakan berapa gaji, itu karena pengurus/pengelola terbuka dan transparan dengan dana yang mereka kelola. Mental sosial masyarakat tumbuh, dari situlah sistem kaderisasi sedang berjalan. Mereka yang datang sebagai relawan ditatar untuk menjadi pengurus yang andal dan ahli pada bidangnya. Mereka diajari bagaimana organisasi yang teratur dapat menciptakan kepercayaan jama’ah.
Hadirnya rantai organisasi.
Hal menarik lainnya. Cara mereka menghadapi pengunjung anak-anak. Masjid akan selalu ramai dengan anak-anak. Mereka tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi bermain. Masjid memberi ruang kepada anak-anak untuk bermain, tapi mereka diarahkan oleh orang dewasa. Pengurus masjid membentuk komunitas Himpunan Anak-anak Masjid. Tidak hanya remaja masjid, komunitas anak-anak terorganisir dengan baik.
Bagaimana mengelola program dengan efektif.
Dari beberapa laporan media online dan surat kabar tentang Masjid ini, Banyak yang dapat dicatat sebagai program, bahkan untuk diterapkan pada sistem pengelolaan rumah ibadah yang tidak hanya Masjid. Pengurus masjid mencatat dan mendistribusikan infaq/sodaqoh langsung kepada kegiatan-kegiatan yang berjalan dan membutuhkan dukungan dana.
Namun ada beberapa kegiatan yang tidak menggunakan dana, dan hanya menggunakan tenaga relawan. Tidak semua kegiatan diberi pendanaan. Hanya kegiatan yang secara teknis membutuhkan dana itulah yang dioptimalkan. Disini kecerdasan sekaligus kejujuran para pengurus masjid diuji.
Membangun fisik Masjid menjadi prioritas kedua setelah prioritas utama melayani umat dan bentuk kegiatan sosial. Laporan yang muncul di papan informasi bukan jumlah saldo yang tersimpan, melainkan laporan kegiatan sosial yang bergerak, berapa warga yang dibantu dari kesulitan ekonomi, berapa anak yatim piatu yang menerima bantuan rutin, berapa jumlah sembako kepada para lansia dan janda, berapa UMKM masyarakat yang mendapat dukungan modal dari kas masjid, dan seterusnya. Wajar jama’ah dan banyak orang di luar sana mendukung program yang dilalukan pengurus.
Siapa saja yang terlibat dalam urusan pengelolaan dana.
Bila pertanyaan ini diajukan tentu secara teknis adalah ta’mir/pengelola Masjid. Namun masyarakat secara umum wabil khusus mereka yang tinggal dekat mengakses layanan masjid juga terlibat dalam pengelolaan, dalam arti mereka memantau penggunaannya. Yang perlu dicatat adalah ketua pengurus memiliki andil besar untuk menentukan haluan penggunaan dana.
Kemampuan membaca kritis menjadi modal utama dalam literasi keuangan Masjid. Ibarat sebuah kompas, Ketua pengurus adalah jarum navigator yang mesti berfungsi baik. Akhirnya, Masjid mengakomodasi semua kebutuhan masyarakat.
*penulis adalah pegiat di Sigupai Mambaco
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






