Dengarkan Artikel
Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora
Ratih duduk di bangku taman kampus, menatap layar ponselnya yang kosong dari notifikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak dari Ferdy, pria yang selama ini mengisi harinya—atau setidaknya, sebagian besar waktunya. Ia menggenggam erat jaket hitam pemberian Ferdy yang masih menghangatkan tubuhnya meski pria itu sendiri terasa semakin menjauh.
“Dia memang begitu, Ratih. Kamu tahu dia bukan tipe cowok romantis,” kata Ferda, temannya, yang duduk di samping.
Ratih menghela napas. “Aku tahu… tapi apa salah kalau sesekali aku ingin merasa dihargai? Disanjung?”
Ferdy sedang berdiri di bengkel kecil milik ayahnya, membetulkan motor yang mogok. Peluh membasahi dahinya, tapi pikirannya justru melayang ke Ratih. Ia tahu gadis itu marah. Ia tahu, dan ia tidak bisa menyalahkannya. Tapi ia juga tak tahu harus berkata apa.
“Anak muda sekarang kalau cinta ya bilang aja, jangan ditahan-tahan,” kata Sukron, ayahnya, sambil duduk menyeruput kopi.
Ferdy hanya mengangguk pelan. Ia bukan tipe pria yang pandai berkata manis. Cinta baginya bukan tentang bunga dan kata-kata, tapi tentang kehadiran, tentang kesetiaan.
Beberapa hari sebelumnya, Ratih melihat Ferdy duduk bersama Silvi dan Dewi di kantin. Mereka tertawa, dan meski ia tak tahu apa yang dibicarakan, hatinya terasa robek.
“Dia terlalu cuek, Intan. Bahkan waktu aku nangis di depan dia, reaksinya cuma, ‘Udah, jangan nangis’,” curhat Ratih di kamar kosnya.
“Dia memang keras, tapi kamu yakin dia nggak tulus?” tanya Sari hati-hati.
📚 Artikel Terkait
Ratih terdiam. Ia tak pernah meragukan kesetiaan Ferdy. Tapi hatinya yang haus perhatian selalu meminta lebih.
Satu malam, Ratih tak tahan lagi. Ia mengirim pesan panjang pada Ferdy, mengungkapkan kekecewaannya, rasa cemburunya, rasa tidak dihargainya.
Ferdy hanya membalas: “Kalau kamu mau pergi, aku nggak akan tahan. Tapi aku nggak pernah main-main sama kamu. Aku emang nggak pandai ngomong, tapi semua yang aku lakuin buat kamu itu dari hati.”
Ratih membaca pesan itu berulang kali. Kata-katanya kasar. Jujur. Tapi juga… nyata.
Waktu berlalu. Mereka tak saling menyapa. Teman-teman mereka mulai berbisik, mulai menggoda. Tapi baik Ferdy maupun Ratih tak membuka hati untuk yang lain.
Suatu sore, Ratih mengunjungi bengkel tempat Ferdy biasa membantu ayahnya. Ferdy yang melihatnya hanya menyeka tangan dan berdiri canggung.
“Kenapa kamu datang?” tanyanya singkat.
“Aku cuma mau tahu… kamu masih merasa aku penting?” tanya Ratih dengan suara lirih.
Ferdy menatap mata Ratih. Untuk pertama kalinya, ia merogoh saku dan mengeluarkan gantungan kunci kecil berbentuk huruf “R”.
“Aku bawa ini ke mana-mana. Biar inget, walau kamu sering marah, cemburu, kamu itu alasan aku kerja keras. Tapi kalau itu belum cukup buat buktiin ketulusan, ya aku nggak tahu lagi harus gimana.”
Air mata Ratih mengalir tanpa bisa ia tahan. Ia mendekat, menggenggam tangan Ferdy.
“Maaf… selama ini aku terlalu sibuk menuntut, sampai aku nggak lihat caramu mencintaiku.”
Ferdy mengangguk pelan. Ia tak berkata apa-apa. Tapi genggaman tangannya cukup erat untuk membuat Ratih tahu: ia tidak sendiri, dan takkan pernah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






