POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tiga “Wahyu” dari Menkes untuk Umat Negeri Ini

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
May 20, 2025
Tiga “Wahyu” dari Menkes untuk Umat Negeri Ini
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kemarin ada menterinya Prabowo menangis di ruang sidang. Menangis membela pelaku UMKM. Kali ini, ada menteri mengeluarkan tiga “wahyu” untuk umat di negeri ini. Saya tak tahu apakah wahyu itu ditujukan ke kita, sebagai umat, atau untuk junjungannya. Mari simak tafsir terhadap tiga wahyu sang menteri yang mengguncang negeri ini. Narasi ini lebih asyik bila dibaca sambil ngopi, wak!

Di suatu pagi yang biasa saja, ketika rakyat sedang rebahan sambil mengoles minyak angin karena harga minyak goreng naik lagi, tiba-tiba dari langit ke-7 Kementerian Kesehatan, turunlah wahyu kesehatan baru. Malaikatnya bernama Budi Gunadi Sadikin, sang Menteri Kesehatan yang tidak hanya menjaga urusan rumah sakit dan nyawa, tapi juga ukuran celana, isi dompet, hingga rahim ibu-ibu di daerah terpencil.

Sabdanya pun menggema. “Siapa yang ukuran celananya di atas 32-33, maka sesungguhnya dia dalam keadaan darurat… kesehatan!”

Seketika rakyat panik. Celana jeans menjadi barang haram. Pasar Tanah Abang porak poranda, para penjual jeans diburu seperti dukun santet tahun 1998. Ibu-ibu menangis di depan mesin jahit, meratapi nasib suami yang celananya selama ini 36. Mereka tahu, ajal suaminya tinggal menunggu antrean di posyandu.

Sementara itu, para pria ukuran celana 29-30 dielu-elukan, dipuja seperti Dewa Fitness. Mereka dijadikan maskot puskesmas, digandeng oleh bidan desa ke acara senam lansia, sambil membagikan brosur bertuliskan “Ukuran Jeans-mu, Nasibmu.”

Namun sabda ilahiah itu belum selesai. Dalam sebuah forum terhormat, yang mungkin diadakan di antara tumpukan vitamin dan poster imunisasi, Pak Budi kembali membuka kitab kehidupan, menyatakan, “Orang bergaji Rp 15 juta pasti lebih sehat dan pintar dibandingkan yang bergaji Rp 5 juta.”

Dan langit pun runtuh. Para guru honorer, petugas kebersihan, tukang parkir, dan jutaan pekerja kelas menengah bawah langsung merasa otaknya menyusut. Sakit kepala, demam, sesak napas, bukan karena virus, tapi karena merasa miskin dan bodoh secara resmi.

📚 Artikel Terkait

RENUNGAN PERINGATAN HARI TSUNAMI ACEH:

Hati Yang Lelah

Musyawarah Besar UKM Pers Pituluik ISI Padangpanjang Digelar

Pria Yang Merindukan Prostatnya

Di sisi lain, para pegawai BUMN dan crazy rich TikTokers langsung mendaftar IQ test. Benar saja, ternyata hasilnya tinggi! Bukan karena otaknya, tapi karena uangnya bisa beli kursus online, suplemen otak, dan sesi konsultasi dengan psikolog Harvard.

Tentu, semua ini demi logika sehat. Karena jika dompet tebal berarti jantung kuat, maka masa depan kesehatan Indonesia hanya perlu solusi satu: subsidi uang jajan.

Di babak ketiga kisah epik ini, Pak Budi melempar satu granat lagi ke tengah diskusi medis nasional, “Dokter umum harus bisa operasi caesar di daerah 3T. Jangan nunggu spesialis!”

Sontak langit di atas RSUD bergetar. Para dokter spesialis OBGYN menjerit dari ruang operasi. Ilmu kedokteran modern yang butuh 10 tahun belajar itu mendadak diringkas jadi satu sesi pelatihan Zoom. Bayangkan, dokter umum, bermodal niat suci dan pisau bedah, menyambut kelahiran bayi sambil buka YouTube tutorial, sinyal ngadat, dan listrik byarpet.

Di sebuah desa di Nusa Tenggara, mungkin nanti akan lahir generasi baru, anak-anak Caesar karya tangan dokter umum penuh semangat dan restu Pak Menteri. Namanya bukan “Baby Born”, tapi “Baby Budi”.

Kini, rakyat hidup dalam kesadaran baru, ukuran jeans adalah alat ukur takdir, gaji adalah parameter IQ, dan melahirkan adalah proyek gotong-royong nasional. Ini bukan sekadar kebijakan, tapi gerakan spiritual. Ini bukan kesehatan, tapi pewahyuan.

Jika kamu bertanya, “Apakah semua ini serius?” Kami jawab, lebih serius dari dietmu yang gagal tiap Senin.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Papua Yang Luka dan Melahirkan Puisi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00