Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Perasaan hati bercampur aduk, kala masuk ke ruang pertemuan di gedung BAST -ANRI atawa gedung Balai Arsip Statis Tsunami yang berada di kawasan Bakoy, Aceh Besar tadi sore, 14 Mai 2025. Betapa tidak, walau sudah sering melihat atau menatap dari jauh gedung yang berdiri megah di samping gedung olahraga, fasilitas yang dibangun untuk PON XXI tahun lalu itu, namun belum pernah masuk ke dalamnya. Tentu karena tidak ada keperluan untuk datang, juga tidak ada yang kenal dengan orang yang ada di dalamnya.
Namun sore Rabu, 14 Mai 2025, ada kesempatan masuk ke gedung itu. Memenuhi undangan diskusi dari Pak Muhammad Ihwan, yang juga ikut bergabung dalam grup whatsapp Pencita Peradaban Aceh. Ya, memenuhi undangan diskusi mengenai dunia arsip dan dokumentasi Aceh. Hal yang dipandang sangat penting untuk dibangun dan dirawat, sebagai bagian dari upaya membangun ingatan dan ketangguhan masyarakat, Bangsa Aceh.
Tentu bagi saya yang secara profesi tidak bersentuhan dengan dunia arsip dan dokumentasi informasi Aceh, perihal yang sama sekali bukan bidang garapan saya, walau dalam keseharian saya bergelut dengan dunia literasi di masyarakat akar rumput, dunia pendidikan dan dalam dunia sosial di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) puluhan tahun, tentang dunia arsip adalah dunia yang masih terasa asing. Namun, saya sangat tertarik untuk ikut dalam diskusi tersebut. Walaupun seperti dikatakan di atas, bagai berada dalam rimba berbeda, akhirnya saya sedang berada di tengah kerumunan orang yang ahli dalam bidang kearsipan.
Saya bersyukur, karena pertemuan itu memiliki added values bagi saya. Apalagi saya hadir ke forum ini, juga tidak dengan tiba-tiba, tetapi ada ajakan dan juga dilatarbelakangi oleh rasa ingin tahu, juga karena ada rasa prihatin terhadap dunia arsip, dan masalah sejarah Aceh yang di satu sisi menjadi kebanggaan yang amat sangat, dan di sisi lain, menjadi hal yang semakin hilang dalam ingatan. Oleh sebab itu, saya ikut berpartisipasi dengan niat ingin bisa berkontribusi dengan bidang yang selama ini saya garap atau lakoni.
Pertemuan pada sore Rani tersebut, sebenarnya bukan pula pertemuan atau diskusi tanpa sebab, tanpa ada historical background, tetapi sesungguhnya pertemuan atau diskusi itu ada, karena ada pihak yang terpanggil jiwa dan raga, merasa peduli atau care terhadap dunia arsip, juga ada kemauan untuk melalukan sesuatu yang lahir dari kesadaran terhadap segala persoalan terkait dunia arsip, dokumentasi dan informasi mengenai Aceh yang sangat kaya dengan sejarah masa lalu, masa prakemerdekaan, pascakemerdekaan, masa konflik yang berkepanjangan, bencana tsunami dan COVID 19 hingga masa damai saat ini. Ya, melihat banyak sekali masalah atau Kondisi yang memprihatinkan dan perlu ada orang atau pihak yang mau bergerak.
Jadi, berangkat dari keprihatinan tersebutlah diskusi singkat itu terwujud atau terlaksana, walau dalam jumlah orang yang sangat terbatas. Karena sesungguhnya masalah ini adalah masalah besar, yang menjadi masalah bersama anak-anak bangsa yang berharap agar segala data, arsip mengenai Aceh bisa terkumpul, terkelola,terawat atau terjaga, juga dapat digunakan untuk membangun kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Aceh.
Maka, dari ruang diskusi yang dihadiri oleh salah satu tokoh penting Aceh, yakni Bapak Farhan Hamid dan Staf BAST ANRI Aceh itu, ada banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa dipetik. Diskusi itu telah membantu saya memperbanyak atau memperkaya pengetahuan mengenai dunia arsip di Aceh dan Indonesia serta di belahan dunia lain yang dengan sangat baik, mengumpul, mengelola arsip, dokumentasi peradaban mereka.
Pengetahuan dan informasi pertama yang diperoleh tentu terkait dengan eksistensi Balai Arsip Statis Tsunami (BAST) ANRI Aceh yang disampaikan oleh Pak Muhammad Irwan selaku tuan rumah atau pihak yang mengundang. Sebagaimana Pak Muhammad Ihwan sampaikan bahwa BAST ANRI Aceh sebagai unit pelaksana teknis dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), memiliki mandat utama dalam menyelamatkan, mengelola, dan memanfaatkan arsip statis, termasuk arsip pascabencana tsunami. Lebih dari itu, BAST hadir sebagai pusat edukasi dan dokumentasi kebencanaan, sekaligus simpul strategis dalam memperkuat jejaring kearsipan di wilayah Aceh.
Makanya, klop bukan? Walau sebenarnya informasi semacam ini bisa jadi belum difahami oleh masyarakat awam di Aceh. Jangankan masyarakat awam, para elit, akademisi dan para pendidik di daerah ini mungkin banyak yang tidak tahu, apalagi faham. Begitu pula dengan saya yang kurang membaca ini.
Dari pertemuan singkat ini saya bisa belajar mengetahui apa sebenarnya pekerjaan dunia arsip. Pengetahuan itu pasti masih sangat sedikit. Saya harus berani datang lagi melihat dari dekat segala aktivitas dan Pelayanan Badan Arsip ini.
Bukan hanya itu, kehadiran tokoh senior Aceh , Farhan Hamid yang sudah sangat dikenal oleh publik atau orang Aceh, menjadi sumber informasi dan pengetahuan serta pengalaman yang cukup kaya dan menginspirasi. Ditambah lagi dengan kehadiran Perwakilan dari Badan Arsip kota Banda Aceh, badan arsip provinsi Aceh dan Staf BAST yang sudah banyak pengalaman itu, semakin menambah khasanah pengetahuan yang bermuara pada munculnya keprihatinan yang sama dan mendorong setiap orang untuk mau berbuat, melakukan yang terbaik untuk Aceh.
Idealnya dalam diskusi ini bisa banyak hadir tokoh dan budayawan serta sejarawan dan pihak berkompeten, namun hanya satu keynot speaker yang juga pelaku sejarah, yakni Pak Farhan Hamid. Dengan banyaknya tokoh Aceh yang hadir, pasti semakin banyak informasi yang bisa digali.
Nah, mengawali acara, mukadimah, Pak Farhan Hamid mengembalikan ingatan peserta diskusi ke masa di mana sebuah bangunan yang menyimpan banyak data, arsip informasi Aceh di kawasan Blang Padang, dekat SMA Negeri 1 Banda Aceh. Bangunan yang disebut dengan PDIA, singkatan darı Pusat dokumentasi informasi Aceh.
📚 Artikel Terkait
Saya sangat yakin bahwa saat ini semakin sedikit orang yang tahu, apalagi faham mengenai keberadaan PDIA, walau saya lahir di Aceh dan sejak 1979 berdomisili di Banda Aceh, hingga saat ini, namun kalau ditanya orang tentang keberadaan PDIA, saya tidak bisa bercerita dengan detail. Yang saya tahu adalah dulu sebelum bencana tsunami, saya melihat sebuah bangunan besar dekat SMA Negeri 1 Banda Aceh dengan papan nama Pusat dokumentasi dan Informasi Aceh. Bagaimana wujudnya dan seperti apa fungsinya, tidak diketahui persis.
Nah, sekarang, kalau ingin mengetahui dengan pasti, ke mana kita mencari informasi tersebut? Tidak Mungkin saya akan cari para ahli sejarah, atau tokoh sejarah yang mendirikan PDIA, walau mungkin, saya merasa perlu menyampaikan kepada anak-anak sendiri tentang PDIA itu, saya tidak punya informasi dan pengetahuan itu. Bayangkan saja, saya yang sudah usia berkepala 6 saja, tidak tahu atau faham banyak, apalagi generasi muda sekarang?
Oleh sebab itu, untuk mengobati rasa rindu dan menjawab rasa ingin tahu saya, Jalan yang saya tempuh adalah berusaha mencari tahu. Jalan termudah untuk bisa tahu adalah dengan membaca. Maka sumber bacaan yang saya cari adalah internet. Saya tidak mencari di Google, tetapi minta bantu pada co-pilot di AI, yang telah menelusuri semua informasi yang saya cari. Hasilnya adalah seperti ini.
Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) adalah lembaga yang didirikan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarluaskan berbagai publikasi serta dokumen terkait sejarah dan budaya Aceh, pertama kali dicetuskan dalam seminar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II pada tahun 1972 dan resmi berdiri pada 26 Maret 1977.
ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Aceh dan Universitas Syiah Kuala, dengan tujuan utama memajukan studi mengenai Aceh dalam berbagai aspek. Keberadaan PDIA mengalami tantangan besar setelah bencana tsunami tahun 2004 yang menghancurkan koleksi dokumen dan manuskrip berharga yang dimiliki PDIA-dan-riwayat-sebuah-buku.
Nah, dengan bantuan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR), PDIA berhasil bangkit kembali dan kini telah memiliki ribuan koleksi tentang Aceh.
Konon, saat ini, PDIA berlokasi di Komplek Museum Aceh. Tidak banyak orang tahu keberadaannya. Pada hal, PDIAA menyediakan berbagai layanan, termasuk perpustakaan, pustaka digital, serta galeri foto tematik. PDIA juga memiliki produk unggulan seperti Seri Informasi Aceh, Biografi Orang Aceh, dan Kliping Digital yang berisi dokumentasi penting mengenai sejarah dan perkembangan Aceh. Informasi ini pun diperoleh dengan cara meminta bantuan AI.
Ya, itulah sekilas informasi hasıl telusuran co-pilot di AI yang terasa masih sangat terbatas. Darı hasil telusuran tersebut menyebutkan bahwa PDIA masih ada dan beralamat di Museum Aceh. Sementara dalam banyak pikiran orang, PDIA sudah tidak ada lagi. PDIA sudah kehilangan jejak/ Mengapa demikian? Jawabannya karena PDIA terkesan menghilangkan diri dan juga tidak mendapat perhatian serius darı masyarakat Aceh, yang seharusnya eksistensi PDIA adalah sebuah kebutuhan bersama masyarakat dan Pemerintah Aceh, serta Pemerintah pusat dan bahkan masyarakat Internasional.
Sekarang, kita kembali ke rumah diskusi di BAST- ANRI. Darı ruang diskusi tersebut tercurah rasa prihatin dan muncul keinginan atau kemauan untuk berbuat baik. Kepeihatinan pertama mencuat dalam kata pendahuluan dan ketika menyebutkan betapa pentingnya PDIA sebagai sebuah institusi atau pusat dokumentasi dan informasi tentang Aceh, dan membaca realitas kekinian, bahwa PDIA sudah kehilangan jejak, kehilangan rimba, entah di mana dan seperti apa wujudnya, sementara keberadaannya sangatlah penting untuk masa kini dan generasi bangsa Aceh ke depan.
Oleh sebab itu, dalam diskusi para pemerhati, pelaku dan Penikmat peradaban Aceh, berdiskusi dengan penuh hikmat yang ikut membicarakan soal keberadaan PDIA yang hilang dari panggung sejarah masa kini. Sehingga muncul keinginan dan kebutuhan untuk menggagas pertemuan yang akhirnya mendorong semua pihak untuk menghidupkan kembali ingatan Aceh menuju Revitalisasi PDIA, dengan berbagai macam pertimbangan.
Pak Muhammad Ihwan dalam mukadimahnya pada diskusi itu bahwa seiring berjalannya dialog, muncul sebuah kesadaran bersama: perlunya ruang dokumentasi terpadu yang mampu merawat memori kolektif Aceh secara lebih utuh dan kontekstual. Gagasan untuk menghidupkan kembali Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) pun mencuat sebagai sebuah ikhtiar penting demi menjaga kesinambungan ingatan dan peradaban Aceh.
Alhamdulilah pula, dari proses diskusi tersebut akhirnya melahirkan lima kesimpulan awal untuk melakukan tindak lanjut dari diskusi tersebut. Ke lima kesimpulam tersebut, Pertama bahwa Revitalisasi PDIA disepakati sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem pengetahuan dan kearsipan lokal. PDIA diharapkan dapat menjadi simpul penghubung antara dokumen, ingatan kolektif, dan narasi kebudayaan Aceh yang kaya dan beragam.
Kedua, transformasi PDIA akan diarahkan menjadi mitra strategis bagi pemerintah dan masyarakat, dengan posisi sebagai “rumah bersama” bagi dokumentasi sejarah, budaya, dan pendidikan Aceh masa lalu, yang dikelola secara terbuka, inklusif, dan kolaboratif.
Ke tiga, sinergi dan pembagian peran antara PDIA dan lembaga kearsipan yang telah ada menjadi prinsip utama dalam gerak ke depan. PDIA tidak berjalan sendiri, melainkan saling menguatkan dengan Dinas Kearsipan provinsi/kota, BAST ANRI Aceh, kampus, pesantren, komunitas arsip rakyat, serta elemen lainnya dalam ekosistem kearsipan.
Ke empat, akan dibentuk tim kerja lintas institusi untuk merumuskan arah kelembagaan, peta jalan transformasi, serta rencana aksi revitalisasi PDIA yang sesuai dengan dinamika zaman dan kebutuhan masyarakat saat ini.
Ke lima, pertemuan lanjutan akan dijadwalkan dalam waktu dekat untuk mematangkan gagasan, menyusun struktur kelembagaan, serta merancang program-program PDIA agar menjadi ruang kolaboratif yang dinamis bagi generasi muda, peneliti, dan para pegiat budaya.
Yang perlu diingat bahwa Pertemuan ini bukan sekadar diskusi, melainkan langkah awal dari sebuah gerakan kolektif dalam menyelamatkan memori Aceh secara visioner dan berkelanjutan. Semua kita percaya, menghidupkan arsip adalah bagian dari menghidupkan peradaban. Melalui revitalisasi PDIA, kita bersama-sama menjaga agar sejarah tidak dilupakan, dan memastikan Aceh tetap menjadi bagian penting dalam arus pengetahuan global.
Itulah perjalanan diskusi singkat dan hasil berupa kesimpulan awal yang dapat dijadikan sebagai modal untuk mewujudkan niat merevitalisasi PDIA, di tengah derasnya pengaruh teknologi informasi dan komunikasi yang telah menyebabkan terjadinya disrupsi dalam berbagi sektor kehidupan. Masih dan merendahnya kemampuan literasi anak-anak negeri ini, menjadi tantangan tersendiri untuk mewujudkan mimpi revitalisasi PDIA yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Kesimpulan sementara darı diskusi singkat itu, kiranya bisa menjadi embrio untuk memgupayakan terwujudnya mimpi revitalisasi tersebut, idealnya masalah ini menjadi masalah dan kebutuhan bersama masyarakat Aceh dan Pemerintah Aceh, sehingga dapat diupayakan bersama, mewujudkan impian merevitalisasi PDIA yang sangat kaya dengan muatan peradaban orang Aceh. Semoga.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






