POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
May 16, 2025
Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Tabrani Yunis

Bhoi Morica merupakan inovasi pangan fungsional berbasis kue tradisional Aceh yang dikembangkan sebagai solusi lokal untuk mengatasi dua masalah kesehatan yang krusial, yaitu stunting dan infeksi cacing parasit. Produk ini menggabungkan nilai budaya dan potensi nutrisi dari bahan-bahan lokal seperti tepung biji pepaya, tepung daun kelor, dan gula aren, menjadikannya sebagai camilan bergizi dengan manfaat kesehatan yang telah didukung oleh kajian teoretis dan potensi terapeutik yang menjanjikan.

Di balik tampilan Bhoi Morica yang sederhana dan tradisional, tersimpan misi besar yang melampaui sekadar kenikmatan rasa. Produk ini lahir dari inisiatif tiga mahasiswa Universitas Syiah Kuala, yaitu Nelli Desianti, Sarah Salsabil, dan Putri Salsabila Rinaldi yang ingin membuktikan bahwa pangan lokal dapat menjadi suatu agen perubahan. Bagi tim ini, setiap potong Bhoi Morica bukan hanya sekadar makanan, melainkan simbol harapan, harapan seorang ibu untuk melihat anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan tangguh, meskipun di tengah keterbatasan.

Ketiga mahasiswa ini memegang peran penting dalam mengembangkan Bhoi Morica, tidak hanya sebagai pencetus ide, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam setiap tahap proses dari riset ilmiah, formulasi resep yang kaya gizi, hingga penyusunan strategi pemasaran sosial. Mereka aktif mengikuti kompetisi inovasi dan meraih berbagai penghargaan, menjalin kerja sama dengan komunitas ibu-ibu lokal, serta mempresentasikan produk ini dalam berbagai forum nasional. Komitmen mereka membawa Bhoi Morica dari sebuah ide sederhana menjadi representasi Aceh di panggung global, sekaligus memperkuat posisi generasi muda sebagai agen perubahan berbasis sains dan budaya.

Bhoi Morica diciptakan secara cermat, bukan hanya untuk memuaskan selera, tetapi juga untuk memberikan manfaat fungsional yang nyata. Kombinasi bahan-bahan aktif dalam produk ini dirancang untuk meningkatkan asupan gizi, mendukung sistem imun, serta membantu mencegah stunting dan infeksi cacing. Visi ini selaras dengan upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting nasional, yang masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah di Indonesia.

Lebih dari sekadar inovasi pangan, Bhoi Morica juga mengusung semangat pemberdayaan ekonomi dan sosial. Dalam proses produksinya, ibu-ibu lokal dilibatkan secara aktif, mulai dari pelatihan pengolahan bahan, produksi, hingga pengemasan produk secara mandiri. Dari dapur-dapur sederhana, lahirlah produk lokal yang kini siap tampil di kancah internasional, membawa semangat kemandirian dan keberlanjutan.

Inovasi ini secara konkret mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain:

📚 Artikel Terkait

Lirboyo Ajukan Syarat, Boleh Asal Kedua Belah Pihak Hadir

Jejak yang Tak Terserahkan: Saat Arsip Pemilu Menguji Integritas Negara

Kopi, Si Hitam Yang Manis

Koperasi Sebagai Pilihan Badan Hukum Usaha Tambang

SDG 2: Tanpa Kelaparan,

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

SDG 5: Kesetaraan Gender,

SDG 9: Inovasi dan Infrastruktur Berkelanjutan, serta

SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Dengan tujuan-tujuan tersebut, Bhoi Morica siap diusungkan sebagai solusi stunting dan cacingan global di kegiatan Korea International Women’s Invention Exposition (KIWIE) 2025. Menurut data WHO tahun 2022, terdapat sekitar 149 juta anak balita di dunia mengalami stunting, dengan hampir setengah dari angka kematian anak terkait dengan malnutrisi. Di Indonesia, tingkat infeksi cacing masih tinggi, berkisar antara 2,5% hingga 62%, sebagaimana tercatat dalam PERMENKES RI tahun 2023. Kondisi ini menunjukkan pentingnya intervensi gizi dan kesehatan yang lebih tepat sasaran, terutama melalui pendekatan berbasis pangan lokal.

Penelitian terhadap Bhoi, kue tradisional asal Aceh, menunjukkan kandungan protein sebesar 0,96% dan karbohidrat sebesar 69,97%, menjadikannya sumber energi yang potensial. Inovasi Bhoi Morica memperkaya nilai gizi tersebut dengan biji pepaya (Carica papaya L.) yang mengandung senyawa aktif seperti benzyl isothiocyanate (BITC), sinigrin, myrosin, dan carpasein yang dikenal memiliki efek antibakteri dan anthelmintik. Sementara itu, tepung daun kelor (Moringa oleifera L.) ditambahkan sebagai antioksidan kuat yang berpotensi mencegah stres oksidatif, salah satu penyebab stunting. Gula aren, sebagai pemanis alami, berkontribusi pada peningkatan asupan mikronutrien penting, khususnya bagi wanita dan anak-anak.

Inovasi cemilan Bhoi Morica menawarkan solusi preventif infeksi cacingan dan stunting berbasis pangan lokal yang aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan dan memperkuat kesehatan ibu sebagai kunci utama dalam memutus siklus malnutrisi dengan berdampak signifikan bagi anak-anak dan calon Ibu yang membutukan nutrisi lebih dan mencegah cacingan dan stunting pada anak tanpa efek samping. Bhoi Morica juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan melalui produksi skala komunitas, menjadikannya inovasi yang mendukung peran perempuan dalam kesehatan, pemberdayaan, dan ketahanan pangan keluarga, sehingga produk inovasi ini berhasil lulus pada pihak penyelenggara INNOPA dan bisa dilanjutkan untuk tahapan selanjutnya pada kompetisi KIWIE 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share8SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Sekolah Harus Pandai Bercerita dan Bicara

Sekolah Harus Pandai Bercerita dan Bicara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00