• Latest
Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan - IMG_4764 | Kompetisi | Potret Online

Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan

Mei 16, 2025

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan - IMG_9514 | Kompetisi | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Mei 16, 2025
in Kompetisi, komsumsi, Komunitas, makanan
Reading Time: 3 mins read
0
Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan - IMG_4764 | Kompetisi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Tabrani Yunis

Bhoi Morica merupakan inovasi pangan fungsional berbasis kue tradisional Aceh yang dikembangkan sebagai solusi lokal untuk mengatasi dua masalah kesehatan yang krusial, yaitu stunting dan infeksi cacing parasit. Produk ini menggabungkan nilai budaya dan potensi nutrisi dari bahan-bahan lokal seperti tepung biji pepaya, tepung daun kelor, dan gula aren, menjadikannya sebagai camilan bergizi dengan manfaat kesehatan yang telah didukung oleh kajian teoretis dan potensi terapeutik yang menjanjikan.

Di balik tampilan Bhoi Morica yang sederhana dan tradisional, tersimpan misi besar yang melampaui sekadar kenikmatan rasa. Produk ini lahir dari inisiatif tiga mahasiswa Universitas Syiah Kuala, yaitu Nelli Desianti, Sarah Salsabil, dan Putri Salsabila Rinaldi yang ingin membuktikan bahwa pangan lokal dapat menjadi suatu agen perubahan. Bagi tim ini, setiap potong Bhoi Morica bukan hanya sekadar makanan, melainkan simbol harapan, harapan seorang ibu untuk melihat anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan tangguh, meskipun di tengah keterbatasan.

Ketiga mahasiswa ini memegang peran penting dalam mengembangkan Bhoi Morica, tidak hanya sebagai pencetus ide, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam setiap tahap proses dari riset ilmiah, formulasi resep yang kaya gizi, hingga penyusunan strategi pemasaran sosial. Mereka aktif mengikuti kompetisi inovasi dan meraih berbagai penghargaan, menjalin kerja sama dengan komunitas ibu-ibu lokal, serta mempresentasikan produk ini dalam berbagai forum nasional. Komitmen mereka membawa Bhoi Morica dari sebuah ide sederhana menjadi representasi Aceh di panggung global, sekaligus memperkuat posisi generasi muda sebagai agen perubahan berbasis sains dan budaya.

Bhoi Morica diciptakan secara cermat, bukan hanya untuk memuaskan selera, tetapi juga untuk memberikan manfaat fungsional yang nyata. Kombinasi bahan-bahan aktif dalam produk ini dirancang untuk meningkatkan asupan gizi, mendukung sistem imun, serta membantu mencegah stunting dan infeksi cacing. Visi ini selaras dengan upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting nasional, yang masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah di Indonesia.

Lebih dari sekadar inovasi pangan, Bhoi Morica juga mengusung semangat pemberdayaan ekonomi dan sosial. Dalam proses produksinya, ibu-ibu lokal dilibatkan secara aktif, mulai dari pelatihan pengolahan bahan, produksi, hingga pengemasan produk secara mandiri. Dari dapur-dapur sederhana, lahirlah produk lokal yang kini siap tampil di kancah internasional, membawa semangat kemandirian dan keberlanjutan.

Inovasi ini secara konkret mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain:

SDG 2: Tanpa Kelaparan,

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

SDG 5: Kesetaraan Gender,

SDG 9: Inovasi dan Infrastruktur Berkelanjutan, serta

SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Dengan tujuan-tujuan tersebut, Bhoi Morica siap diusungkan sebagai solusi stunting dan cacingan global di kegiatan Korea International Women’s Invention Exposition (KIWIE) 2025. Menurut data WHO tahun 2022, terdapat sekitar 149 juta anak balita di dunia mengalami stunting, dengan hampir setengah dari angka kematian anak terkait dengan malnutrisi. Di Indonesia, tingkat infeksi cacing masih tinggi, berkisar antara 2,5% hingga 62%, sebagaimana tercatat dalam PERMENKES RI tahun 2023. Kondisi ini menunjukkan pentingnya intervensi gizi dan kesehatan yang lebih tepat sasaran, terutama melalui pendekatan berbasis pangan lokal.

Penelitian terhadap Bhoi, kue tradisional asal Aceh, menunjukkan kandungan protein sebesar 0,96% dan karbohidrat sebesar 69,97%, menjadikannya sumber energi yang potensial. Inovasi Bhoi Morica memperkaya nilai gizi tersebut dengan biji pepaya (Carica papaya L.) yang mengandung senyawa aktif seperti benzyl isothiocyanate (BITC), sinigrin, myrosin, dan carpasein yang dikenal memiliki efek antibakteri dan anthelmintik. Sementara itu, tepung daun kelor (Moringa oleifera L.) ditambahkan sebagai antioksidan kuat yang berpotensi mencegah stres oksidatif, salah satu penyebab stunting. Gula aren, sebagai pemanis alami, berkontribusi pada peningkatan asupan mikronutrien penting, khususnya bagi wanita dan anak-anak.

Inovasi cemilan Bhoi Morica menawarkan solusi preventif infeksi cacingan dan stunting berbasis pangan lokal yang aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan dan memperkuat kesehatan ibu sebagai kunci utama dalam memutus siklus malnutrisi dengan berdampak signifikan bagi anak-anak dan calon Ibu yang membutukan nutrisi lebih dan mencegah cacingan dan stunting pada anak tanpa efek samping. Bhoi Morica juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan melalui produksi skala komunitas, menjadikannya inovasi yang mendukung peran perempuan dalam kesehatan, pemberdayaan, dan ketahanan pangan keluarga, sehingga produk inovasi ini berhasil lulus pada pihak penyelenggara INNOPA dan bisa dilanjutkan untuk tahapan selanjutnya pada kompetisi KIWIE 2025.

Share234SendTweet146Share
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Next Post
Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan - 2025 05 16 20 10 55 | Kompetisi | Potret Online

Sekolah Harus Pandai Bercerita dan Bicara

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com