POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Trauma dan Syair Smong Pengingat Saat Gempa

RedaksiOleh Redaksi
May 12, 2025
Trauma dan Syair Smong Pengingat Saat Gempa
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Siti Hajar


Aku menulis ini karena Qadarullah. Kemarin sore saat kami sedang bersantai menikmati kopi sore, tiba-tiba dikejutkan dengan gempa. Lantai tempat kami berpijak terasa bergoyang. 
Seketika itu juga kami keluar rumah, menghindari bahaya reruntuhan yang mungkin saja terjadi. Suamiku sudah bersiap dengan tas emergency dan kunci kendaraan di tangan—siap-siap mengungsi jika situasi memburuk. 

Kami baru sedikit tenang setelah mendapat informasi yang beredar cepat di grup-grup WhatsApp: seberapa besar kekuatan gempa, di mana titik pusatnya, dan berapa jaraknya dari tempat tinggal kami. Begitulah kami, masyarakat Aceh, bereaksi ketika bumi kembali berguncang. Karena kami tahu, rasa trauma itu masih tinggal di tubuh dan jiwa kami. Kami yang pernah merasakan langsung dahsyatnya bencana gempa dan tsunami Aceh pada Desember 2004, akan selalu punya alarm waspada yang menyala lebih dulu dibanding yang lain.


Trauma adalah luka. Bukan luka di kulit yang bisa sembuh dalam hitungan hari, tapi luka di dalam jiwa yang kadang tak kasat mata, namun nyata terasa. Dalam psikologi, trauma merujuk pada respons emosional seseorang terhadap peristiwa yang sangat menegangkan, menakutkan, atau menyakitkan secara mendalam.


Trauma bisa hadir tiba-tiba, menyeruak dalam ingatan, bahkan ketika kita merasa telah melupakannya. Trauma adalah jejak dari peristiwa yang begitu besar, yang mengoyak rasa aman dan mengubah cara seseorang melihat dunia.


Mengapa kita bisa trauma? Karena manusia memiliki naluri dasar untuk bertahan. Ketika kenyataan hidup tiba-tiba menjadi ancaman, seperti kecelakaan, kehilangan orang tercinta, kekerasan, atau bencana alam, otak kita mencatat semuanya sebagai sinyal bahaya.

Sistem saraf simpatis bereaksi: jantung berdebar kencang, napas memburu, tubuh bersiaga. Kita melawan, lari, atau membeku. Tapi saat tubuh selamat, jiwa belum tentu demikian. 


Sebagian dari kita membawa pulang kenangan itu dalam bentuk bayangan yang terus menghantui, ketakutan yang tak wajar, atau kewaspadaan berlebihan yang tak kunjung reda. Inilah yang kita sebut trauma psikologis.


Dua puluh tahun yang lalu, masyarakat Aceh mengalami luka kolektif yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 tak hanya meruntuhkan rumah dan kota, tetapi juga mencabik-cabik rasa aman, memisahkan keluarga, dan meninggalkan duka mendalam yang menahun. Saat itu, dalam hitungan menit, laut yang biasa menjadi sumber penghidupan berubah menjadi dinding air yang menggulung apa saja yang ada di hadapannya. Ratusan ribu jiwa melayang, dan yang selamat, menyisakan cerita yang akan terus hidup dalam ingatan generasi.


Kini, dua dekade berselang, saat tanah kembali bergetar, ingatan itu bangkit. Di sebagian orang, rasa panik seketika menguasai tubuh. Di sebagian lainnya, kewaspadaan muncul seperti refleks yang tak diajarkan. Antara panik dan siaga satu, dua reaksi itu menyatu dalam tubuh-tubuh yang dulunya pernah bertahan. Trauma membuat mereka tak bisa tenang, tapi juga tak bisa diam.

Mereka bergerak, berjaga, memastikan pintu terbuka dan anak-anak dalam dekapan.
Trauma mungkin tak pernah benar-benar pergi. Ia akan muncul ketika pemicunya datang. Namun, karena pernah trauma-lah, manusia menjadi lebih peka, lebih siap, dan sering kali lebih kuat dari yang mereka kira.
Seperti masyarakat Aceh, yang dari reruntuhan bisa kembali berdiri, membangun, dan melanjutkan hidup, meski dengan jiwa yang tak lagi stabil.


Trauma tidak untuk dipelihara dalam bentuk ketakutan yang membatu. Ia perlu disembuhkan—pelan-pelan, dengan dukungan, penerimaan, dan pengakuan bahwa luka itu nyata.


Proses penyembuhan trauma seringkali melibatkan terapi psikologis, ruang aman untuk bercerita, hingga pendekatan spiritual atau budaya yang menenangkan jiwa. Komunitas yang saling menguatkan juga punya peran besar dalam proses ini. Saat orang tidak merasa sendiri dalam lukanya, ia mulai belajar berdamai, bukan melupakan, tetapi menerima bahwa luka itu bagian dari perjalanan hidupnya. 


Menariknya, trauma juga bisa diwariskan. Tapi bukan selalu dalam bentuk luka, melainkan dalam bentuk ingatan kolektif dan kewaspadaan. Anak-anak yang lahir setelah tsunami sering kali tumbuh mendengar cerita orang tuanya—tentang bunyi sirene, tentang ombak raksasa, tentang bagaimana mereka selamat. 


Cerita-cerita ini menanamkan kehati-hatian yang mendalam dalam benak mereka. Mereka belajar sejak dini tentang pentingnya jalur evakuasi, tentang tanda-tanda alam, tentang tidak bermain terlalu dekat ke laut jika air tiba-tiba surut.


Inilah bentuk warisan trauma yang sehat—saat luka menjadi pelajaran, dan pelajaran menjadi kesiapsiagaan. Dalam masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana, seperti Aceh, Sumatera Barat, Nusa Tenggara, atau Sulawesi, budaya siaga bencana menjadi warisan yang sangat penting. 


Bencana alam gempa bumi, badai tropis, tanah longsor, hingga banjir bandang—semua menjadi bagian dari kemungkinan yang harus dihadapi dengan kepala dingin dan langkah terencana.


Mewariskan kewaspadaan adalah bagian dari mencintai generasi berikutnya. Kita tidak bisa menghindarkan mereka dari gempa, dari angin yang mengamuk, atau air bah yang datang tiba-tiba. Tapi kita bisa menguatkan jiwa generasi kita.

📚 Artikel Terkait

ULAMA KOK MELANGGAR SYARIAT AGAMA?

Pendidikan dan Middle Income Trap

Belum Ada Judul

AKU ORANG TUHAN


Kita dapat membekali mereka dengan pengetahuan, kesadaran, dan keberanian untuk menghadapi bencana—dengan tetap berpijak pada harapan, Insyaallah pertolongan Allah sangatlah dekat.


Di balik trauma yang mendalam, selalu ada kekuatan besar yang tidak semua kita menyadarinya yaitu kemampuan manusia untuk pulih, untuk bangkit, dan untuk menjaga kehidupan agar terus berjalan, dalam segala keterbatasannya. 

Di tengah segala duka dan trauma akibat tsunami Aceh 2004, tersimpan sebuah pelajaran penting dari masyarakat Seumuleung (Seumulu), sebuah pulau kecil di Kabupaten Simeulue, Aceh. Jauh sebelum istilah “tsunami” dikenal luas di tanah air, masyarakat di sana sudah lebih dulu mewarisi pengetahuan tentang bahaya gelombang besar laut yang mereka sebut dengan istilah “smong” atau “sumong”.


Smong bukan sekadar istilah lokal, melainkan bagian dari kearifan turun-temurun yang hidup dalam lagu, cerita rakyat, dan petuah orang tua. Bagi masyarakat Simeulue, setiap kali terjadi gempa yang kuat disertai surutnya air laut secara tiba-tiba, mereka tahu: itu tanda smong akan datang. Maka tanpa menunggu instruksi resmi, mereka segera berlari ke tempat yang lebih tinggi, menyelamatkan diri.

Salah satu warisan budaya itu tertuang dalam syair tradisional yang selalu dilantunkan oleh Masyarakat pulau simeulu turun temurun, mari kita simak syairnya sebagai berikut;

Longola amba curito
(Dengarlah sebuah cerita)

Pado zaman nafe’e
(Pada zaman dahulu)

Tobanam amba desa
(Tenggelam satu desa)

Nak daya feila la curitokan
(Begitulah mereka ceritakan)

Ya lunen afe dulu
(Diawali oleh gempa)

Lentuk bakat yu ekhi eba
(Disusul ombak yang besar sekali)

Tobanam amban gampung
(Tenggelam seluruh negeri)

Tibo–tibo amak
(Tiba-tiba saja)

Bo dulu ni abe le
(Jika gempanya kuat)

Idane yu ata’a
(Disusul air yang surut)

Rongkap akhuli
(Segeralah cari)

Banuami yu ala wa
(Tempat kalian yang lebih tinggi)

Nak daya emong deini
(Itulah smong namanya)

Curito nenek moyang ta
(Sejarah nenek moyang kita)

Enuge ekhi–ekhi
(Ingatlah ini baik-baik)

Amanah afe nasehatla
(Pesan dan nasihatnya)

Syair ini diajarkan sejak kecil, menjadi kata-kata pengingat yang akan warisan dan peringatan dini berbasis budaya kepada generasinya.


Berkat kearifan ini, saat tsunami 26 Desember 2004 melanda Aceh, korban jiwa di Pulau Simeulue hanya sedikit. Sementara daerah-daerah lain yang tidak memiliki pengetahuan lokal semacam itu mengalami korban dalam jumlah sangat besar. Ini menjadi bukti nyata bahwa pengetahuan lokal yang diwariskan secara konsisten dari generasi ke generasi bisa menjadi benteng awal perlindungan terhadap bencana alam.


Kita bisa belajar banyak dari masyarakat Simeulue. Bahwa dalam menghadapi ancaman alam, tak selamanya teknologi jadi satu-satunya penyelamat. Kadang, ingatan kolektif, cerita nenek moyang, dan nilai-nilai yang dijaga dalam tradisi lokal justru menjadi penyelamat pertama. Oleh karena itu, penting bagi kita, masyarakat Aceh dan Indonesia secara umum, untuk menggali kembali dan merawat kearifan lokal dalam menghadapi bencana—dengan tetap membuka diri pada sains dan teknologi modern. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Elegi Negeri Nan Gelap Padam

Elegi Negeri Nan Gelap Padam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00