Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Di tengah pusaran ketidakpastian ekonomi global yang memukul banyak negara, Indonesia tetap tegak, tidak tumbang oleh badai, justru menyusun ulang langkah-langkah strategis menuju masa depan yang lebih baik. Kendati pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2025 melambat ke angka 4,87%—angka yang memang paling rendah sejak 2021—tanda-tanda kebangkitan masih sangat terasa dan menjadi alasan kuat bagi kita untuk optimis.
Pemerintah sendiri tetap percaya diri menetapkan target pertumbuhan 5,2% tahun ini. Ini bukan sekadar angka kosong, tetapi wujud komitmen dan optimisme bahwa dengan modal yang kita miliki, bangsa ini bisa tumbuh lebih kuat. Bahkan lembaga sekelas OECD memprediksi pertumbuhan Indonesia akan menembus angka itu pada akhir tahun. Walau Fitch Ratings agak pesimis dengan merevisi ke angka 4,9%, kita tahu bahwa proyeksi bukanlah takdir. Sejarah membuktikan: Indonesia tak sekali dua kali melampaui prediksi para ekonom dunia.
Saya, Dayan Abdurrahman, sebagai pemerhati isu sosial budaya, melihat bahwa keunggulan Indonesia bukan hanya terletak pada angka-angka makro ekonomi, melainkan pada modal sosial dan budaya yang dimiliki bangsa ini. Gotong royong, semangat kolektif, serta nilai-nilai religius yang mengakar, menjadi fondasi kokoh yang tak dimiliki banyak bangsa lain. Inilah energi sosial yang tidak tercermin dalam grafik, tetapi nyata dalam kehidupan masyarakat kita.
Lihatlah sektor energi terbarukan—salah satu senjata Indonesia dalam menghadapi masa depan. Dengan potensi 443 ribu megawatt dari energi air, panas bumi, dan surya, Indonesia tidak hanya bicara soal energi hijau, tetapi juga soal kedaulatan. Pembangunan kawasan industri hijau di Kalimantan Utara adalah langkah revolusioner yang jarang disorot media dengan cara semestinya.
Di sektor digital, transformasi UMKM ke dalam ekosistem e-commerce menunjukkan lonjakan signifikan. Nilai transaksi diperkirakan menembus Rp1.500 triliun pada 2025. Ini bukan hanya angka, tetapi cerminan dari bagaimana rakyat kecil kini menjadi bagian dari rantai nilai digital global.
📚 Artikel Terkait
Dan yang lebih penting: pemerintah tampak serius dalam investasi terhadap manusia. Anggaran pendidikan tahun ini mencapai lebih dari Rp700 triliun. Dana ini, jika dikelola dengan tepat dan transparan, dapat mempercepat lompatan kualitas SDM kita. Kita ingin generasi mendatang bukan hanya cerdas secara kognitif, tapi juga berkarakter dan berdaya saing tinggi di panggung dunia.
Namun jangan buru-buru tepuk tangan. Tantangan kita masih banyak. Ketergantungan pada ekspor komoditas mentah, korupsi, birokrasi yang lamban, hingga ketimpangan pendidikan di daerah-daerah terluar masih menjadi PR besar. Tapi sekali lagi, tantangan bukan alasan untuk menyerah. Justru itulah ladang amal dan kerja nyata untuk semua elemen bangsa.
Sebagai orang yang memadukan pandangan sosial budaya dengan spiritualitas, saya percaya Indonesia tidak hanya dibentuk oleh politik dan ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai Ilahiyah. Dalam Islam, prinsip keadilan, keberkahan rezeki, serta amanah dalam memimpin adalah pilar sosial yang seharusnya menjadi panduan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang tidak adil hanyalah pertumbuhan yang sia-sia. Maka, mari tumbuhkan ekonomi, tapi jangan tinggalkan sisi kemanusiaan dan ketuhanan kita.
Di universitas tempat saya mengabdi, saya sering berdiskusi dengan mahasiswa mengenai arah bangsa ini. Mereka penuh semangat, namun juga penuh tanya. Maka tugas kita adalah memastikan bahwa optimisme bukan sekadar slogan, tapi nyata dalam kebijakan, dalam perilaku, dan dalam cara kita memperlakukan satu sama lain.
Indonesia memang tidak sempurna, tetapi bangsa ini memiliki semua bahan untuk menjadi besar: sumber daya alam melimpah, manusia yang resilien, budaya yang luhur, serta spiritualitas yang kuat. Maka izinkan saya menutup tulisan ini dengan keyakinan pribadi yang lahir dari pengamatan panjang: Indonesia tidak sedang menuju kejatuhan, tapi tengah meniti tangga kebangkitannya sendiri.
Optimisme ini bukan ilusi. Ia adalah keyakinan rasional yang lahir dari fakta, analisis, dan tentu saja, iman.
—Dayan Abdurrahman, Pemerhati Isu sosial budaya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






