Dengarkan Artikel
Oleh Sindi Hazirah
Dalam dunia yang semakin penuh intrik politik dan kepentingan, kita menyaksikan fenomena yang menyedihkan: para pemimpin yang dingin, kaku, dan menjauh dari denyut hati rakyatnya. Mereka bekerja untuk manusia, namun sering lupa bagaimana rasanya menjadi manusia. Mereka menguasai ilmu politik, tetapi buta terhadap ilmu yang lebih halus—psikologi manusia.
Ilmu politik mengatur sistem, tetapi psikologi menyentuh nurani. Politik mengajarkan cara memerintah, tetapi psikologi mengajarkan cara memahami. Padahal manusia, sebagai inti dari kepemimpinan, bukanlah angka dalam statistik atau sekadar suara dalam pemilu. Mereka adalah makhluk kompleks—dengan luka, impian, dan kisah yang mendalam.
Pemimpin tanpa empati adalah pemimpin yang kering. Ia membuat keputusan dari atas menara kekuasaan, bukan dari dalam hati yang ikut merasakan. Di sinilah pentingnya pendidikan psikologi bagi pemimpin. Bukan untuk menjadikan mereka psikiater, tetapi agar mereka belajar mendengar dengan hati, memahami tanpa menghakimi, dan menyentuh rakyat tanpa menyakiti.
📚 Artikel Terkait
Selain itu, muncul sebuah gagasan yang berani namun logis: bagaimana jika kepemimpinan justru lebih cocok dipegang oleh anak muda yang belum berkeluarga? Anak-anak muda, yang masih idealis dan belum terikat kepentingan keluarga kecil, cenderung lebih murni dalam niat. Mereka belum memiliki ambisi untuk menumpuk kekayaan demi keturunan atau mempertahankan kekuasaan demi status. Mereka masih takut akan sanksi sosial, masih peduli pada citra dan nilai.
Sebaliknya, sering kali, kedewasaan membawa beban yang menyempitkan pandangan. Banyak orang dewasa yang, demi keluarga kecilnya, rela menutup mata terhadap keadilan, mengorbankan orang lain demi keamanan pribadi, dan akhirnya menjadi rakus. Mereka mulai meyakini bahwa menyelamatkan keluarga mereka adalah satu-satunya kebenaran—tanpa peduli jika itu merugikan banyak orang lain.
Namun tentu saja, usia bukanlah satu-satunya ukuran. Ada anak muda yang bisa lebih haus kuasa dari orang tua, dan ada pula orang dewasa yang tetap jernih, penuh welas asih, dan setia pada kebenaran. Yang membedakan adalah kesadaran, integritas, dan keinginan untuk tetap menjadi manusia—meski berada di tengah pusaran kekuasaan.
Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak kehilangan sisi manusianya. Mereka yang tidak hanya pandai mengatur, tetapi juga mampu memahami. Mereka yang melihat rakyat bukan sebagai beban, tetapi sebagai cermin dari dirinya sendiri. Dan di dunia yang mulai kekurangan pemimpin seperti itu, harapan kita ada pada mereka yang masih berani mencintai manusia, sebelum mencintai kekuasaan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






