POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Waspadai Tontonan Anomali Berbasis AI: Ancaman Nyata bagi Perkembangan Otak Anak

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
May 10, 2025
Waspadai Tontonan Anomali Berbasis AI: Ancaman Nyata bagi Perkembangan Otak Anak
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Maraknya tontonan anomali dengan karakter animasi absurd yang diproduksi menggunakan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi ancaman tersembunyi di balik layar gawai anak-anak. Di balik warna-warni yang ceria dan tokoh-tokoh populer seperti Elsa, Peppa Pig, atau Spiderman, tersembunyi konten yang menyimpang, membingungkan, bahkan berbahaya. Konten semacam ini sering kali tampil di platform yang dikenal ramah anak seperti YouTube Kids, padahal banyak dari video tersebut mengandung elemen disturbing dan pesan yang tidak logis.

Dengan teknologi AI, para kreator konten kini mampu memproduksi ratusan video dalam waktu singkat. Suara karakter bisa dipalsukan, animasi bisa digerakkan otomatis, bahkan wajah tokoh kartun bisa dimanipulasi tanpa keterlibatan animator profesional. Sayangnya, teknologi ini kerap digunakan tanpa etika. Judul video dibuat seolah aman, namun isi di dalamnya memuat adegan kekerasan, konflik absurd, suara robotik yang mengganggu, hingga simbol-simbol yang tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak.

Penelitian dari American Academy of Pediatrics (2022) menyebutkan bahwa anak-anak yang menonton konten digital tidak sesuai usia selama lebih dari dua jam per hari mengalami penurunan fungsi eksekutif otak. Ini termasuk kemampuan berkonsentrasi, berpikir logis, serta mengendalikan emosi. Efek ini diperparah pada anak usia di bawah tujuh tahun, ketika otak masih dalam tahap pembentukan dan sangat mudah terpengaruh oleh rangsangan visual dan audio.

📚 Artikel Terkait

Puisi -Puisi Lapar, Afridal Darmi

Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Dari Istana ke Sel: Ironi Kekuasaan dan Pelajaran dari Sarkozy

Sementara itu, laporan dari Tech Transparency Project (2023) menemukan bahwa lebih dari 60% video bermasalah yang beredar menggunakan teknologi AI untuk memproduksi kontennya. Video-video tersebut bukan hanya lolos dari pengawasan moderasi digital, tapi juga dengan mudah masuk ke algoritma rekomendasi dan muncul di layar anak-anak secara terus-menerus. Ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada jumlah konten, tapi juga pada kecepatan penyebarannya yang melampaui kemampuan deteksi manusia.

Anak-anak yang sering menonton tontonan anomali buatan AI mulai menunjukkan gejala seperti sulit fokus, gelisah, bahkan meniru adegan tak pantas yang mereka lihat. Psikolog anak dr. Diah Anggraini menyatakan bahwa stimulasi visual yang berlebihan dan tidak masuk akal dapat merusak persepsi anak terhadap kenyataan. Ketika karakter kartun yang mereka kenal berubah menjadi tokoh yang kasar, menakutkan, atau bersikap tidak pantas, anak mulai mengalami kebingungan antara dunia fiksi dan dunia nyata.

Tantangan ini tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada teknologi atau sistem moderasi platform digital. Orang tua perlu kembali menjadi penjaga utama layar yang dilihat anak. Waspadai video yang tampak lucu namun janggal, perhatikan perubahan perilaku anak setelah menonton, dan yang terpenting, hadir secara emosional dalam keseharian mereka. Tontonan bukan sekadar hiburan. Ia adalah pintu masuk informasi yang membentuk cara berpikir, merasakan, dan berperilaku. Di tengah gelombang konten AI yang tak terbendung, kewaspadaan adalah tameng terakhir yang kita punya. Jangan biarkan generasi masa depan tumbuh dalam kebingungan yang diciptakan mesin.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share7SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Ijazah Jokowi Melebar, UGM pun Digugat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00