POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Saat Hujan Deras Kau Pergi Tinggalkan Aku

RedaksiOleh Redaksi
May 9, 2025
Saat Hujan Deras Kau Pergi Tinggalkan Aku
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Blora

Langit sore itu kelabu, seperti hatinya. Angin meniup ranting-ranting basah, membuat daun gugur tanpa suara. Lesmana berdiri di depan jendela kamarnya, menatap hujan yang mulai turun perlahan. Di luar sana, suara sepeda motor Fadil sayup-sayup terdengar. Hari ini seharusnya hari bahagia: tiket ke Jepang di tangannya, program beasiswa pascasarjana di universitas impian sudah menunggu. Tapi hatinya tak damai.

“Sudah yakin?” tanya Darmuji, ayahnya, masuk ke kamar dengan langkah berat.

Lesmana menoleh pelan. “Belum, Pak. Tapi aku harus jalan.”

Lisna muncul di ambang pintu, wajahnya menyimpan cemas. “Kamu sudah bilang ke Ratih, Les?”

Lesmana hanya menggeleng. Diam.


Sementara itu, Ratih duduk bersama Cyntia dan Putri di warung langganan mereka. Semangkuk bakso mengepul di depannya, tapi sendok pun tak disentuh.

“Kamu kelihatan aneh hari ini,” kata Cyntia, mengernyit. “Biasanya kamu cerewet soal sambal, ini malah diam.”

“Les nggak balas chat sejak tadi malam,” gumam Ratih.

Putri menoleh. “Kamu nggak tahu, ya?”

“Tahu apa?” Ratih mengangkat kepala.

Putri dan Cyntia saling berpandangan. Akhirnya, Cyntia menghela napas. “Les berangkat sore ini. Fadil dan Damar yang antar ke bandara.”

Darah Ratih serasa berhenti mengalir. “Apa?” suaranya parau.

“Dia dapat beasiswa itu. Ke Jepang. Tapi… dia bilang belum siap bilang ke kamu.”

Ratih meletakkan sendoknya. “Dia mau pergi tanpa pamit?”

📚 Artikel Terkait

Bencana dalam Perspektif Islam

Pulang Mudik Yang Terhimpit Kondisi Ekonomi Yang Sulit

Dari Adam Smith ke Omnibus Law

HARGA NAIK, DAYA BELI RENDAH

Tak ada yang menjawab. Ratih berdiri, matanya mulai panas. Ia tak peduli meski hujan deras mulai turun. Ia lari—meninggalkan bakso yang tak disentuh, meninggalkan temannya yang terpaku, dan meninggalkan harapan bahwa ini semua hanyalah salah paham.


Lesmana sedang menaikkan kopernya ke mobil Fadil ketika suara langkah kaki terdengar di balik hujan. Ia menoleh, dan di sanalah Ratih berdiri, kuyup, napasnya memburu. Damar dan Salfa yang duduk di jok belakang menunduk tak nyaman.

“Kamu serius pergi hari ini?” Ratih bertanya, nyaris teriak.

Lesmana ingin menjawab, tapi suaranya tercekat.

“Kamu tahu, Les?” Ratih melangkah maju. “Yang paling menyakitkan bukan kamu pergi. Tapi kamu memilih diam, seolah aku nggak penting buat keputusan hidupmu.”

“Aku takut,” Lesmana akhirnya bersuara. “Kalau aku bilang, kamu akan minta aku tetap tinggal.”

“Dan kamu akan tinggal?”

Lesmana menatap matanya. “Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena aku punya mimpi. Dan kamu… kamu bagian dari mimpi itu. Tapi kamu nggak bisa ikut sekarang.”

Ratih menggigit bibir, mencoba menahan air mata. “Jadi kamu lebih pilih pergi, daripada memperjuangkan aku?”

“Justru karena aku memperjuangkan kamu, aku pergi. Aku ingin kembali dengan sesuatu yang layak. Aku ingin kita punya masa depan.”

Hujan makin deras. Ratih tertawa lirih. “Lucu ya… kamu pikir masa depan itu cuma soal gelar dan negeri seberang.”

Lesmana mendekat, menyentuh pipinya yang basah. “Aku mencintaimu, Ratih. Tapi cinta bukan alasan untuk memenjarakan mimpi.”

Ia mencium keningnya sebentar, lalu melangkah mundur, masuk ke mobil. Damar menutup pintu dengan hati-hati. Fadil menginjak gas.

Ratih berdiri di tengah hujan, tak lagi bicara. Di balik jendela mobil, Lesmana menoleh sekali, lalu mengalihkan pandangan. Ia tak sanggup.

Dari jendela rumah, Silfi memeluk Ratih begitu ia pulang dalam keadaan kuyup. Bimantara hanya menatap anak gadisnya dengan mata penuh iba.

Beberapa hari kemudian, Angga datang membawa surat. Ratih membukanya perlahan. Tulisan tangan Lesmana memenuhi selembar kertas sederhana.

“Aku pergi bukan karena aku tak cinta. Aku justru pergi karena aku mencintaimu cukup dalam untuk menjauh sementara. Tapi jika semesta merestui, aku akan kembali. Aku janji.”

Ratih menggenggam surat itu erat. Di luar, hujan turun lagi. Tapi kini, ia tak menangis.

Karena meski hujan membawa kepergian, ia tahu: cinta yang tak pergi sia-sia… akan pulang sebagai doa. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Jangan Bertanya Tentang Wilayah Tuhan!

Jangan Bertanya Tentang Wilayah Tuhan!

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00