• Latest
Saat Hujan Deras Kau Pergi Tinggalkan Aku

Saat Hujan Deras Kau Pergi Tinggalkan Aku

Mei 9, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Saat Hujan Deras Kau Pergi Tinggalkan Aku

Redaksiby Redaksi
Mei 9, 2025
Reading Time: 4 mins read
Saat Hujan Deras Kau Pergi Tinggalkan Aku
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Blora

Langit sore itu kelabu, seperti hatinya. Angin meniup ranting-ranting basah, membuat daun gugur tanpa suara. Lesmana berdiri di depan jendela kamarnya, menatap hujan yang mulai turun perlahan. Di luar sana, suara sepeda motor Fadil sayup-sayup terdengar. Hari ini seharusnya hari bahagia: tiket ke Jepang di tangannya, program beasiswa pascasarjana di universitas impian sudah menunggu. Tapi hatinya tak damai.

“Sudah yakin?” tanya Darmuji, ayahnya, masuk ke kamar dengan langkah berat.

Lesmana menoleh pelan. “Belum, Pak. Tapi aku harus jalan.”

Lisna muncul di ambang pintu, wajahnya menyimpan cemas. “Kamu sudah bilang ke Ratih, Les?”

Lesmana hanya menggeleng. Diam.


Sementara itu, Ratih duduk bersama Cyntia dan Putri di warung langganan mereka. Semangkuk bakso mengepul di depannya, tapi sendok pun tak disentuh.

“Kamu kelihatan aneh hari ini,” kata Cyntia, mengernyit. “Biasanya kamu cerewet soal sambal, ini malah diam.”

“Les nggak balas chat sejak tadi malam,” gumam Ratih.

Putri menoleh. “Kamu nggak tahu, ya?”

“Tahu apa?” Ratih mengangkat kepala.

Putri dan Cyntia saling berpandangan. Akhirnya, Cyntia menghela napas. “Les berangkat sore ini. Fadil dan Damar yang antar ke bandara.”

Darah Ratih serasa berhenti mengalir. “Apa?” suaranya parau.

“Dia dapat beasiswa itu. Ke Jepang. Tapi… dia bilang belum siap bilang ke kamu.”

Ratih meletakkan sendoknya. “Dia mau pergi tanpa pamit?”

Tak ada yang menjawab. Ratih berdiri, matanya mulai panas. Ia tak peduli meski hujan deras mulai turun. Ia lari—meninggalkan bakso yang tak disentuh, meninggalkan temannya yang terpaku, dan meninggalkan harapan bahwa ini semua hanyalah salah paham.


Lesmana sedang menaikkan kopernya ke mobil Fadil ketika suara langkah kaki terdengar di balik hujan. Ia menoleh, dan di sanalah Ratih berdiri, kuyup, napasnya memburu. Damar dan Salfa yang duduk di jok belakang menunduk tak nyaman.

“Kamu serius pergi hari ini?” Ratih bertanya, nyaris teriak.

Lesmana ingin menjawab, tapi suaranya tercekat.

“Kamu tahu, Les?” Ratih melangkah maju. “Yang paling menyakitkan bukan kamu pergi. Tapi kamu memilih diam, seolah aku nggak penting buat keputusan hidupmu.”

ADVERTISEMENT

“Aku takut,” Lesmana akhirnya bersuara. “Kalau aku bilang, kamu akan minta aku tetap tinggal.”

“Dan kamu akan tinggal?”

Lesmana menatap matanya. “Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena aku punya mimpi. Dan kamu… kamu bagian dari mimpi itu. Tapi kamu nggak bisa ikut sekarang.”

Ratih menggigit bibir, mencoba menahan air mata. “Jadi kamu lebih pilih pergi, daripada memperjuangkan aku?”

“Justru karena aku memperjuangkan kamu, aku pergi. Aku ingin kembali dengan sesuatu yang layak. Aku ingin kita punya masa depan.”

Hujan makin deras. Ratih tertawa lirih. “Lucu ya… kamu pikir masa depan itu cuma soal gelar dan negeri seberang.”

Lesmana mendekat, menyentuh pipinya yang basah. “Aku mencintaimu, Ratih. Tapi cinta bukan alasan untuk memenjarakan mimpi.”

Ia mencium keningnya sebentar, lalu melangkah mundur, masuk ke mobil. Damar menutup pintu dengan hati-hati. Fadil menginjak gas.

Baca Juga

IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026

Ratih berdiri di tengah hujan, tak lagi bicara. Di balik jendela mobil, Lesmana menoleh sekali, lalu mengalihkan pandangan. Ia tak sanggup.

Dari jendela rumah, Silfi memeluk Ratih begitu ia pulang dalam keadaan kuyup. Bimantara hanya menatap anak gadisnya dengan mata penuh iba.

Beberapa hari kemudian, Angga datang membawa surat. Ratih membukanya perlahan. Tulisan tangan Lesmana memenuhi selembar kertas sederhana.

“Aku pergi bukan karena aku tak cinta. Aku justru pergi karena aku mencintaimu cukup dalam untuk menjauh sementara. Tapi jika semesta merestui, aku akan kembali. Aku janji.”

Ratih menggenggam surat itu erat. Di luar, hujan turun lagi. Tapi kini, ia tak menangis.

Karena meski hujan membawa kepergian, ia tahu: cinta yang tak pergi sia-sia… akan pulang sebagai doa. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Jangan Bertanya Tentang Wilayah Tuhan!

Jangan Bertanya Tentang Wilayah Tuhan!

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com