POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Cerita

Asal Mula Mukim Cot Saluran

Redaksi by Redaksi
November 23, 2021
in Cerita, fajar Hidayah, Legenda, Potret Remaja
0

Oleh: Amira Uzlifatul Jannah

Baca Juga
  • 01
    Potret Remaja
    Hanya Asa
    20 Nov 2021
  • Asal Mula Mukim Cot Saluran - 7E205908 0577 4965 9D26 30C5F2A224B7 scaled | Cerita | Potret Online
    BIngkai Remaja
    MELEWATI MINGGU KE TAMAN KOTA SAMBIL BELAJAR MENULIS
    23 Mar 2023

Siswi Kelas VIII SMP Fajar Hidayah

 

Baca Juga
  • 01
    Artikel
    Peran Pemuda dalam Menghadapi Sustainable Development Goals
    28 Nov 2016
  • Asal Mula Mukim Cot Saluran - 2025 07 16 20 05 45 | Cerita | Potret Online
    Cerita
    Bahagia Menyambut Mürid Baru
    16 Jul 2025

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil di pinggiran kota kerajaan, hiduplah beberapa Puak keluarga dengan damai. Semuanya aman tenteram tanpa ada yang mengganggu. Sehari-hari, penduduk desa menggarap sawah atau menggembala ternak.

Baca Juga
  • Asal Mula Mukim Cot Saluran - 749472e3 7f16 4797 b216 476ac7618aee | Cerita | Potret Online
    Artikel
    POTRET KEHIDUPAN PENGEMIS DI TENGAH PERKOTAAN
    16 Nov 2024
  • Asal Mula Mukim Cot Saluran - IMG_0515 scaled 1 | Cerita | Potret Online
    Ananda Nayla
    MY FIRST POEMS, FLYING ME TO THE SKY
    17 Okt 2024

Hari itu, penduduk desa berembuk untuk memperbaiki balai desa. Disepakatilah untuk diadakan gotong royong. Semua orang berbondong-bondong datang dengan alat-alat di tangan. Ada yang membawa cangkul, linggis, parang dan ibu-ibu membawa minuman serta cemilan. Suasana saat itu riuh rendah. Beberapa orang bekerja sambil berdendang. Beberapa lainnya saling bergurau.

Ketika hari menjelang siang, seorang lelaki tua yang tinggal di kebun dekat persawahan sibuk mencangkuli bebatuan di tempat yang akan digunakan untuk peletakan batu pondasi. Ketika ia berusaha mencungkil batu yang tancapannya paling dalam, sedikit air terciprat ke wajahnya.

“Hah, apa ini?” gumamnya.

Lelaki yang kerap disapa Yah Bit itu mempercepat pekerjaannya dan berhasil mengangkat batu tersebut. Ternyata, cekungan bekas batu itu sudah dipenuhi genangan air bersih.

“Apa itu, Yah Bit?” tanya salah satu pemuda desa.

“Sepertinya ini mata air,” celetuk warga yang lain.

Kepala desa memasuki kerumunan dan memeriksa sumber air itu, “Kita biarkan saja dulu. Paling sebentar lagi juga bakal mengering,”

Ucapan kepala desai tu bertentangan dengan yang sesungguhnya terjadi. Beberapa minggu setelah kerja bakti hari itu, air dari mata air itu semakin deras dan kadang-kadang melambung seperti air mancur. Balai desa yang dibuat tepat di sampingnya itu kayunya melapuk karena sering terkena air. Warga mulai resah. Bahkan belakangan ini, mata air itu mulai membentuk genangan air. Balai desa yang dibuat berbentuk panggung itu sudah di kelilingi dengan mata air.

Warga protes ke Yah Bit. Menurut mereka, mata air itu sudah di sumpal para nenek moyang dengan batu besar itu agar tidak membanjiri pemukiman. Tapi Yah Bit malah membuka gerbang menuju kehancuran desa. Yah Bit merasa sedih. Ia merasa bersalah.

“Bagaimana ini? Desa kita bisa tenggelam!”

“Benar! Kalau dibiarkan bisa menjadi telaga bahkan danau!”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?!”

Di tengah ribut-ribut warga, seorang nenek renta yang tinggal di dekat balai desa datang dengan lesung besar di tangannya.

Nek Nyak, begitu biasa disapa, adalah wanita bijak dan sering memberi nasihat untuk orang yang mendatanginya.

“Kalau tetua kita menyumpal mata air ini, maka kita sekarang juga harus menyumpalnya,” kata Nek Nyak. Ia mengangkat lesung dengan susah payah dan menyerahkannya kepada Yah Bit. “Nak, tancapkan lesung ini di asal mata air nya. Lalu, buat aliran agar airnya menuju sawah kita,”

Yah Bit mengangguk dan segera mendatangi tempat ia menemukan mata air itu. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tangannya dan menekan lesung itu. Air yang mengalir tampak surut. Warga lain langsung menggerakkan cangkul dan mengalirkan air ke sawah terdekat.

“Dengan begini, aliran air akan terhambat sehingga tidak ada banjir. Selain itu, air nya masih bisa berguna untuk kita,” ujar Nek Nyak.

Lama setelah itu, aliran air dari mata air itu terus meluas dan menjalar kemana-mana. Kampung-kampung sekitar pun juga mendapat penghidupan dari sana. Lama-kelamaan, aliran itu dijadikan irigasi. Di sekitar situ, penduduk mulai membuat rumah dan mendirikan toko. Kampung-kampung yang berada di sepanjang irigasi itu disebut dengan Cot Saluran. Sekarang, Pemukiman Cot Saluran telah menjadi salah satu dari 3 mukim yang ada di Kecamatan Blang Bintang.  

Previous Post

JALAN YANG SUNYI

Next Post

PANDEMI

Next Post

PANDEMI

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah