POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
May 9, 2025
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Sebanyak 11 orang tewas usai truk menabrak angkot di Purworejo, Jawa Tengah. Para korban tewas merupakan rombongan guru SD asal Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, yang hendak takziah. [1}


Mereka berangkat dengan tas berisi doa, bukan kapur.
Tiga mobil mengangkut guru-guru dari SD ITQ As Syafi’iyah, penjaga huruf-huruf Alif hingga Ya.

Di kursi belakang, Siti Nur Rodiyah masih memegang kertas daftar nama murid yang akan diuji esok.
“Kita hanya sebentar,” bisik Aulia Anggi, menyelipkan sebungkus kue untuk keluarga yang berduka.

Angkot itu bergerak pelan, seperti anak didik mereka yang baru belajar mengeja.
Tapi jalanan Purworejo-Magelang adalah guru yang kejam:
di Desa Kalijambe, di tikungan yang membisu, truk bermuatan pasir B 9970 BYZ datang membawa hukum gravitasi.

Remnya menangis, tapi tak ada yang mendengar.
“Kenapa kita berhenti?”
“Itu bukan lampu merah, Bu Guru. Itu langit yang runtuh.”

-000-

Di RSUD Tjokronegoro, lima perempuan dan satu lelaki berbaring dengan rapor terakhir:
nilai kesabaran sempurna, keikhlasan tanpa catatan.

Dokter Sastro Supadi membisikkan laporan ke langit-langit kamar mayat:
“Enam jiwa. Lima perempuan. Satu lelaki. Semua dari angkot yang ringsek”.

Di seberang kota, RSUD Tjitrowardoyo menerima lima tubuh lagi.
Seorang perempuan pemilik rumah, yang dindingnya kini jadi saksi bisu, masih menggenggam sapu di ruang gawat darurat.

Sapunya tak bisa membersihkan noda besi yang melekat di dinding.
Di antara mereka ada Melani Septiani Putri, yang pagi tadi masih mengajar doa Asmaul Husna. Kini, 99 nama-Nya terpatri luka di dahinya.

-000-

Pendopo SD ITQ As Syafi’iyah menjadi ruang ujian tanpa kunci jawaban.
Bhineke Giandika, seorang wali murid, memandang jam dinding yang berhenti di pukul 11:00.

“Mobil ketiga pasti terlambat,” gumamnya, tapi telepon genggam hanya mengulang nada sibuk.
Di sudut lain, seorang anak menggambar tiga mobil di buku tulis.

📚 Artikel Terkait

Sahabatku Agam dan Bayangan Kekuasaan

SAHARA DILAMUN SENJA

Adakan Edukasi Kebencanaan Pada Anak, Move up Gandeng Tim Tangga Tangguh Bencana.

Ruman Aceh Tak Sekadar Taman Bacaan Berjalan

Dua di antaranya ia coret dengan pensil merah.
“Yang ini pulangnya lewat jalan lain, kan Bu?”
Guru-guru yang tersisa memandang papan tulis kosong.

Di sana tertulis kalimat terakhir sebelum berangkat:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya ke surga.”

Tapi hari ini, jalanan menjawab dengan bahasa berbeda.

-000-

“Aku hanya ingin berhenti,” rintih truk bermuatan pasir itu pada aspal yang meleleh.
“Tapi remku adalah puisi yang terpotong.”

Pengemudinya, yang kini jadi tawanan kursi roda, berbisik pada penyidik:
“Di tanjakan itu, pedalku menjadi sajak yang patah”.

Di TKP, polisi mengukur jejak yang bukan jejak. Tak ada garis hitam pengereman, hanya serpihan kaca yang berkilau seperti bintang jatuh.

“Ini bukan kecelakaan,” kata seorang akademisi di berita televisi, “ini pertemuan antara angin yang lupa pada sayapnya”.

-000-

Mereka dikuburkan dengan tiga baris data:
Siti Nur Rodiyah, Guru kelas 3, ahli membuat anak-anak tertawa saat menghafal
Edi Sunaryo, Sopir angkot yang selalu mengingatkan murid pakai helm
Naely Nur Sa’diyah, Wanita yang rajin menyisihkan gaji untuk perpustakaan
… sampai 11 bait yang terpotong.

Di nisan mereka, keluarga menulis:
“Di sini terbaring seorang guru yang mengajar hingga detik terakhir, bahkan kematian pun harus antri mengambil ilmunya.”

-000-

Kini, di tikungan Kalijambe, warga memasang plang dari kayu bekas truk:
“Hati-hati, di sini, 11 guru mengajar kita tentang arti kepergian.”

Setiap malam, suara rem blong masih terdengar, bukan dari truk, tapi dari langit yang menangis untuk rombongan takziah yang tak sampai tujuan.


Rumah Kayu Cepu, 9 Mei 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini ditulis dari kejadian 11 Korban Tewas di Purworejo Rombongan Guru SD yang Hendak Takziah sebagaimana yang diberitakan di https://news.detik.com/berita/d-7903870/11-korban-tewas-di-purworejo-rombongan-guru-sd-yang-hendak-takziah

• Kecelakaan melibatkan truk B 9970 BYZ dengan rem blong menabrak angkot berisi guru SD ITQ As Syafi’iyah.
• 11 korban tewas termasuk 6 orang di RSUD Tjokronegoro dan 5 di RSUD Tjitrowardoyo .
• Korban merupakan rombongan takziah ke KH Barzakki di Purworejo.
• Nama-nama korban termasuk Melani Septiani Putri dan Siti Nur Rodiyah.

Dan, puisi esai ini adalah monumen untuk 11 guru yang perjalanannya terpotong di tikungan Sejarah, di mana rem yang menangis harusnya jadi pelajaran, bukan epitaf.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Haji dan Dua Kota Suci: Miniatur Perjalanan Kehidupan

Haji dan Dua Kota Suci: Miniatur Perjalanan Kehidupan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00