POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Luka ke Luhur: Menapaki Jalan Demokrasi Melalui Derita Bangsa

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 9, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Sebuah bangsa tidak lahir sebagai sosok yang langsung dewasa. Ia seperti anak kecil yang harus jatuh, menangis, bahkan berdarah, sebelum bisa berjalan tegak. Demokrasi bukanlah hadiah yang turun dari langit, tapi buah dari proses panjang: dari penderitaan, dari kebodohan yang disadari, dan dari luka-luka sejarah yang tak bisa dilupakan. Untuk menjadi bangsa yang luhur dan bijaksana, sebuah masyarakat harus terlebih dahulu merasakan getirnya kesalahan, pahitnya pengkhianatan elite, dan kerasnya hidup di tengah sistem yang timpang.

  1. Perspektif Ekonomi: Luka dari Ketimpangan

Dalam sejarah bangsa-bangsa, hampir selalu ada pola yang sama: ketimpangan ekonomi menjadi akar dari keresahan. Indonesia pun tidak luput. Kekayaan yang hanya berputar di tangan segelintir orang, ditambah kemiskinan yang menahun di desa dan pinggiran kota, menciptakan jurang sosial yang dalam. Ketika rakyat lapar, suara mereka mudah dibeli. Demokrasi yang seharusnya memilih pemimpin berdasarkan akal dan visi, malah dibajak oleh kekuatan uang. Luka ini tidak bisa disembuhkan hanya dengan janji kampanye, tetapi harus melalui perubahan struktural: pemerataan akses ekonomi, pemberdayaan yang nyata, dan penghapusan budaya feodal dalam birokrasi ekonomi.

  1. Perspektif Militer: Luka dari Kekuasaan yang Memaksa

Bangsa ini pernah berada dalam bayang-bayang militerisme, di mana senjata menjadi alat pendisiplinan bukan hanya musuh, tetapi juga rakyat sendiri. Ketika kekuasaan dijaga dengan ancaman dan ketakutan, demokrasi tidak tumbuh, tapi tercekik. Luka itu masih membekas dalam ingatan masyarakat, terutama yang pernah mengalami represi di masa lalu. Namun, kesadaran perlahan tumbuh: bahwa keamanan sejati tidak lahir dari laras senjata, tapi dari keadilan dan kesejahteraan.

  1. Perspektif Budaya dan Sosial: Luka dari Keterpecahan

Budaya bangsa ini kaya, tetapi justru sering dijadikan alat pecah belah. Isu SARA, agama, dan identitas sering dijadikan senjata dalam politik. Ketika rakyat mudah tersulut oleh perbedaan, maka demokrasi berubah menjadi arena adu benci. Luka sosial ini baru bisa sembuh jika masyarakat belajar melihat perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Demokrasi membutuhkan kedewasaan sosial: kemampuan berdialog, menerima perbedaan, dan membangun kesamaan tujuan sebagai bangsa.

📚 Artikel Terkait

Keresahan Tokoh Muda Tentang Black Campaign di Pilkada Aceh Tenggara 2024.

Membangun Anak Hebat dari Tanah Rencong

Senandung Burung

Sukses Menggapai Asa, Meraih Doktor di Universitas Malang (UM)

  1. Perspektif Moral dan Religi: Luka dari Pemimpin yang Berkhianat

Bangsa ini dikenal religius, tetapi ironisnya, banyak pemimpinnya tidak mencerminkan nilai agama yang mereka serukan. Korupsi, kebohongan publik, dan pencitraan kosong membuat rakyat kehilangan kepercayaan. Ini luka moral yang dalam, karena rakyat merasa dikhianati oleh orang yang mereka anggap wakil Tuhan di dunia. Untuk bangkit, bangsa ini harus kembali pada etika politik: pemimpin sebagai pelayan, bukan penguasa. Religiusitas yang sejati tidak hanya tampak di simbol, tetapi tercermin dalam kejujuran, empati, dan tanggung jawab.

  1. Kesimpulan: Dari Luka ke Luhur

Bangsa yang kuat bukan bangsa yang tidak pernah jatuh, tapi bangsa yang mampu belajar dari jatuhnya. Proses menuju kedewasaan demokrasi memang panjang dan menyakitkan. Tapi luka-luka itu, jika direnungkan dan diolah dengan jujur, bisa menjadi sumber kebijaksanaan. Bangsa yang mampu menertawakan kesalahannya, mengakui kebodohannya, dan memperbaiki dirinya, adalah bangsa yang akan tumbuh menjadi luhur, teguh, dan sulit digoyang oleh gelombang populisme atau godaan kekuasaan sesaat.

Dan barangkali, dari derita itulah demokrasi yang sehat akan tumbuh—bukan sebagai topeng, tetapi sebagai kesadaran.

penulis adalah pemerhati isu budaya pendidikan dan politik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00