POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
May 7, 2025
Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Eza, 28 tahun, lulusan universitas negeri ternama, penuh prestasi dan berlembar-lembar sertifikat dari TK hingga kuliah—kini harus menelan kenyataan pahit: ia masih menganggur.

Bukan karena malas. Justru sebaliknya, Eza lebih rajin dari sebagian orang yang sudah punya pekerjaan. Ia bangun pagi, rapi berpakaian, menata berkas lamaran seperti hendak berangkat kerja. Tapi bukan ke kantor tujuannya—melainkan ke tempat fotokopi, atau sekadar duduk di warung kopi, menanti kabar lowongan dari grup pencari kerja.

Lima tahun berlalu sejak ia lulus. Ratusan lamaran telah dikirim, puluhan wawancara dijalani. Ia hafal bentuk-bentuk penolakan, yang intinya sama: “Maaf, bukan kamu yang kami cari.” Bahkan, mungkin map coklat yang ia beli lebih sering jadi bungkus gorengan ketimbang sampai ke tangan HRD.

Padahal, IPK-nya cumlaude. Di SMA, ia langganan olimpiade, membawa pulang medali demi medali. Namanya sempat dibanggakan sekolah, dipajang di media sosial oleh para guru. Tapi kini, semua penghargaan itu tersimpan rapi dalam laci—berdebu, nyaris dilupakan.

📚 Artikel Terkait

Ini Strategi Pemko dalam Mencapai KLA Penuh

Empat Nilai Pendidikan Karakter Pahlawan yang Bisa diterapkan pada Generasi Muda

HABA Si PATok

Bingung

Dompetnya pun lebih sering berisi catatan utang daripada uang. Semua demi ongkos cetak, fotokopi, dan transport mencari kerja. Kadang ia bertanya dalam hati: Apakah semua perjuangan itu sia-sia?

Lebih menyakitkan lagi, Eza mencari kerja di tengah gelombang PHK massal. Ribuan kehilangan pekerjaan—sementara ia bahkan belum pernah diberi kesempatan untuk memulai.

Ia mulai bertanya-tanya:
Apakah negeri ini tak lagi butuh orang berpotensi?
Apakah nilai tinggi dan piagam penghargaan kini cuma formalitas?
Atau, jangan-jangan negeri ini hanya ramah bagi yang punya koneksi, bukan kompetensi?

Kisah Eza memang fiktif. Tapi getirnya nyata. Ia satu dari sekian banyak “Eza-Eza” lain—terjebak dalam siklus lamaran, wawancara, lalu ditolak.

Sementara itu, negeri ini terus bicara soal bonus demografi, generasi emas, dan kebanggaan atas prestasi anak bangsa. Tapi lupa, bahwa banyak anak-anak berprestasi kini duduk termenung di kamar—bukan karena menyerah, tapi karena tak pernah diberi ruang untuk membangun masa depan. Kesempatan tertutup oleh kualifikasi yang kadang tak masuk akal.

Selamat datang di negeri para pengangguran
—tempat di mana sertifikat hanya hiasan, ijazah jadi pelengkap, dan masa depan? Entah di mana.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00