• Latest
Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran

Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran

Mei 7, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Mei 7, 2025
Reading Time: 2 mins read
Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko

Eza, 28 tahun, lulusan universitas negeri ternama, penuh prestasi dan berlembar-lembar sertifikat dari TK hingga kuliah—kini harus menelan kenyataan pahit: ia masih menganggur.

Bukan karena malas. Justru sebaliknya, Eza lebih rajin dari sebagian orang yang sudah punya pekerjaan. Ia bangun pagi, rapi berpakaian, menata berkas lamaran seperti hendak berangkat kerja. Tapi bukan ke kantor tujuannya—melainkan ke tempat fotokopi, atau sekadar duduk di warung kopi, menanti kabar lowongan dari grup pencari kerja.

Lima tahun berlalu sejak ia lulus. Ratusan lamaran telah dikirim, puluhan wawancara dijalani. Ia hafal bentuk-bentuk penolakan, yang intinya sama: “Maaf, bukan kamu yang kami cari.” Bahkan, mungkin map coklat yang ia beli lebih sering jadi bungkus gorengan ketimbang sampai ke tangan HRD.

Baca Juga

Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Cum Laude, Standar Global, dan Kesadaran Pendidikan Abad ke-21

September 6, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Cum Laude, Standar Global, dan Tantangan Pendidikan Abad ke-21

Agustus 28, 2025

Satu Keluarga (miskin) Satu Sarjana

Juli 31, 2025

Padahal, IPK-nya cumlaude. Di SMA, ia langganan olimpiade, membawa pulang medali demi medali. Namanya sempat dibanggakan sekolah, dipajang di media sosial oleh para guru. Tapi kini, semua penghargaan itu tersimpan rapi dalam laci—berdebu, nyaris dilupakan.

Dompetnya pun lebih sering berisi catatan utang daripada uang. Semua demi ongkos cetak, fotokopi, dan transport mencari kerja. Kadang ia bertanya dalam hati: Apakah semua perjuangan itu sia-sia?

Lebih menyakitkan lagi, Eza mencari kerja di tengah gelombang PHK massal. Ribuan kehilangan pekerjaan—sementara ia bahkan belum pernah diberi kesempatan untuk memulai.

Ia mulai bertanya-tanya:
Apakah negeri ini tak lagi butuh orang berpotensi?
Apakah nilai tinggi dan piagam penghargaan kini cuma formalitas?
Atau, jangan-jangan negeri ini hanya ramah bagi yang punya koneksi, bukan kompetensi?

Kisah Eza memang fiktif. Tapi getirnya nyata. Ia satu dari sekian banyak “Eza-Eza” lain—terjebak dalam siklus lamaran, wawancara, lalu ditolak.

Sementara itu, negeri ini terus bicara soal bonus demografi, generasi emas, dan kebanggaan atas prestasi anak bangsa. Tapi lupa, bahwa banyak anak-anak berprestasi kini duduk termenung di kamar—bukan karena menyerah, tapi karena tak pernah diberi ruang untuk membangun masa depan. Kesempatan tertutup oleh kualifikasi yang kadang tak masuk akal.

Selamat datang di negeri para pengangguran
—tempat di mana sertifikat hanya hiasan, ijazah jadi pelengkap, dan masa depan? Entah di mana.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com