POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pendidikan Karakter ala Dedi Mulyadi, Barak Sebagai Sekolah Kehidupan

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
May 4, 2025
Pendidikan Karakter ala Dedi Mulyadi, Barak Sebagai Sekolah Kehidupan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
(Ketua Satupena Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah)

Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang sibuk mengejar nilai, muncul pendekatan yang menggugah, yakni pendidikan karakter di barak ala Dedi Mulyadi.
Bukan metode konvensional, bukan pula hukuman semata, melainkan ruang belajar kehidupan dalam bentuk yang paling nyata.

Barak yang dirintis Dedi Mulyadi bukan tempat untuk menghukum anak-anak nakal.
Ia menjadi ruang menempa jiwa, menanamkan nilai, dan membangkitkan kesadaran lewat disiplin, kerja keras, dan kasih sayang.

Anak-anak yang masuk ke sana tidak langsung dicap bersalah.Mereka diperlakukan seperti anak sendiri, dengan cinta yang tegas, bukan kemarahan yang meledak-ledak.

Aktivitas mereka sederhana, seperti bangun subuh, membersihkan lingkungan, mencuci baju sendiri, dan belajar sopan santun.
Namun dari kesederhanaan itu tumbuh kebiasaan tanggung jawab yang selama ini hilang dari rumah dan sekolah.

Pendidikan karakter selama ini sering hanya menjadi jargon kosong di ruang kelas.
Ia hadir di atas kertas, tapi menguap dalam praktik kehidupan nyata anak-anak.

Dedi Mulyadi memberi contoh bahwa karakter dibentuk bukan lewat ceramah panjang, melainkan lewat pembiasaan yang konsisten.
Ia hadir bukan sebagai pejabat, tapi sebagai figur ayah yang mengulurkan tangan kepada mereka yang tersesat.

Di dalam barak, anak belajar bahwa hidup tak bisa seenaknya.
Bahwa kebebasan memiliki batas, dan setiap tindakan membawa konsekuensi.

Ia membangun sistem yang menghidupkan kembali nilai-nilai lama yang mulai punah, seperti menghormati orang tua, mencium tangan guru, dan menyayangi sesama.
Nilai-nilai itu tak cukup diajarkan lewat teori, tapi harus dicontohkan dalam kehidupan.

Banyak pihak memuji pendekatan ini sebagai solusi alternatif kenakalan remaja.
Namun tentu ada juga yang mempertanyakan dari sisi psikologis, hak anak, dan efektivitas jangka panjang.

Namun mari kita jujur, sistem pendidikan kita selama ini terlalu fokus pada angka dan rapor.
Padahal banyak anak tumbuh menjadi pribadi yang pintar secara teori, tapi miskin empati.

📚 Artikel Terkait

Dispora Tampilkan Catur Budaya Ekshibisi

Kisah Bocornya Ban dan Heroisme Tersembunyi

SDIT Muhammadiyah Manggeng Mempelajari Proses Pembuatan Ikan Asin

Fenomena Tangisan di Akhir Ramadan

Ketika orang tua sibuk dengan gawai dan pekerjaan, barak Dedi hadir sebagai pengganti rumah yang ramah.
Di sana, anak kembali dipeluk, ditegur, dan diarahkan dengan penuh kesabaran.

Ia tak sekadar menyuruh anak mandi atau salat.
Ia ikut bangun subuh, ikut menyapu, dan duduk bersama mendengar curhat mereka.

Itulah pendidikan sejati, kehadiran yang tulus dan keteladanan yang nyata.
Bukan hanya guru yang mengajar, tapi sahabat yang membimbing.

Konsep barak ini sekaligus menyindir sistem pendidikan nasional yang cenderung elitis dan terlalu teoritis.
Mengapa seorang Dedi Mulyadi harus turun tangan sendiri menyelamatkan anak-anak yang tersisih?

Ini menjadi alarm bagi pemerintah, sekolah, dan masyarakat luas.
Anak-anak yang “nakal” bukan untuk dijauhi, tapi justru harus didekati dengan empati.

Dedi menunjukkan bahwa perubahan bukan datang dari seminar mahal atau teori pendidikan mutakhir.
Tapi dari keberanian hadir, menyapa, dan membina dengan ketulusan hati.

Bayangkan jika setiap daerah punya barak pembinaan karakter seperti ini.
Bukan sebagai tempat hukuman, melainkan taman pemulihan bagi jiwa-jiwa muda yang rapuh.

Tentu saja metode ini tidak cocok untuk semua anak dan bukan solusi tunggal.
Namun pendekatan ini memberi kita refleksi penting, sejauh mana kita sungguh-sungguh mendidik, bukan sekadar mengajar?

Barak Dedi Mulyadi membuktikan bahwa anak-anak bisa berubah, selama ada yang benar-benar peduli.
Dan kepedulian itu bukan sekadar kata-kata, tapi tindakan nyata.

Di zaman yang makin individualistik, barak ini menjadi oase moral.
Menjadi ruang praktik pendidikan karakter yang selama ini hilang dari kurikulum dan rumah.

Pendidikan bukan hanya soal prestasi akademik, tapi tentang membentuk manusia seutuhnya, dan Dedi Mulyadi sedang memperjuangkan itu.
Dengan cara yang tak biasa, tapi sangat membekas di hati.

Ia memperlihatkan bahwa mendidik adalah bentuk tertinggi dari mencintai.
Dan barak itu adalah rumah cinta yang dibangun dari ketegasan, kesabaran, dan pengharapan.

Semoga pendekatan ini bukan hanya viral sesaat, tapi menjadi inspirasi nasional.
Sebab mendidik karakter bukan tugas individu, tapi tanggung jawab bersama. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Tgk. Khaidir Ali El-Sawanji Tulis Buku Miftahul Khairat

Tgk. Khaidir Ali El-Sawanji Tulis Buku Miftahul Khairat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00