POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Panggung Media ke Kursi Kekuasaan: Pelajaran Bangsa tentang Memilah Popularitas dan Integritas

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 4, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman,

Ketika Popularitas Mengalahkan Integritas

Kita hidup di zaman di mana pemimpin bisa lahir, bukan dari proses panjang pendidikan moral, integritas, dan rekam jejak kinerja, tetapi cukup dari “tayangan yang menyentuh” dan pencitraan media. Politik hari ini bukan lagi soal visi besar atau akal sehat, melainkan soal siapa yang paling sering muncul di layar kaca, trending di linimasa, dan berhasil mencuri simpati publik lewat gaya bicara, pakaian sederhana, dan narasi merakyat. Fenomena inilah yang mengantar tokoh-tokoh seperti Joko Widodo dari panggung media ke kursi kekuasaan.

Sebagai bangsa, kita perlu jujur: terlalu banyak dari kita yang lebih sibuk membahas gaya blusukan daripada menelaah arah kebijakan. Kita lebih cepat memuji gaya pidato dibanding mengkritik substansi pidato. Kita jatuh cinta pada simbol, bukan substansi. Ini penyakit demokrasi yang lahir dari ketidakmampuan kita memilah antara popularitas dan integritas.

Demokrasi dalam Genggaman Industri Citra

Dalam teori politik, demokrasi seharusnya menjamin hak rakyat untuk memilih pemimpin berdasarkan pertimbangan rasional dan informasi yang utuh. Namun, kenyataannya hari ini, demokrasi kita direbut oleh industri citra—oleh para konsultan politik, rumah produksi konten, dan jaringan media besar yang menggiring opini publik dengan narasi yang dikemas manis, namun miskin makna.

Seseorang bisa menjadi presiden bukan karena gagasan besarnya, tetapi karena kameranya tepat menyasar emosi rakyat. Inilah bentuk baru penjajahan nalar publik: demokrasi yang dikuasai layar, bukan akal sehat.

Ketidakadilan dalam Akses Politik

Sementara itu, banyak tokoh berintegritas yang gagal tampil di panggung nasional karena tak punya cukup anggaran pencitraan. Mereka kalah sebelum bertarung. Ini bukan demokrasi. Ini adalah pasar bebas citra yang menyingkirkan keadilan politik.

Siapa pun yang tak bisa menyewa media atau konsultan politik akan dipinggirkan dari panggung. Padahal, bisa jadi mereka adalah pemimpin sejati—yang bekerja diam-diam, membangun dari bawah, dan berpikir jauh ke depan. Tapi sayangnya, tak semua yang bijak itu “layak jual”.

Moral Politik dan Agama yang Tergerus

Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius, kita mestinya menolak pemimpin yang dibentuk oleh ilusi media. Agama apapun menekankan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan dagangan. Tapi yang terjadi hari ini, politik kita seperti pasar malam: gemerlap di luar, kosong di dalam. Pemimpin disulap seperti artis, bukan negarawan.

Apakah ini yang kita wariskan pada anak-anak kita? Demokrasi yang menuhankan tampilan, bukan keteladanan?

📚 Artikel Terkait

“Wahabi Lingkungan” atau Suara Nalar yang Dikebiri?

Ketika Guru SD Berteman dengan Teknologi: Belajar, Berkarya, dan Menginspirasi

HABA Si PATok

Potret Ketangguhan Kaum Perempuan

Media Sosial: Antara Harapan dan Bencana

Media sosial, alih-alih menjadi ruang dialog yang sehat, justru sering berubah menjadi alat pembunuhan karakter dan propaganda. Figur-figur yang tak sejalan dengan narasi populer kerap dibungkam dengan fitnah, buzzer, dan hoaks. Ini jelas bukan ruang demokrasi, tapi ladang manipulasi.

Ketika media sosial menjadi tolok ukur kelayakan pemimpin, maka kita sedang membiarkan bangsa ini berjalan tanpa arah. Kita menyerahkan masa depan republik ke tangan algoritma, bukan akal sehat.

Budaya Instan dan Lupa Diri

Bangsa ini sedang kehilangan kesabaran. Kita ingin solusi cepat, pemimpin instan, hasil segera. Kita tak lagi menghargai proses. Padahal membangun bangsa adalah kerja jangka panjang, bukan kerja content creator.

Budaya instan inilah yang membuat kita mudah tertipu. Seseorang cukup tampil dengan gaya sederhana dan kalimat menyentuh, lalu kita jatuhkan pilihan politik padanya tanpa kajian mendalam. Inilah budaya malas berpikir yang membuat demokrasi Indonesia rapuh, manipulatif, dan mudah dibajak.

Penyegaran Politik: Saatnya Berpikir Ulang

Sudah cukup kita tertipu oleh wajah kamera. Sudah cukup kita pilih pemimpin karena viral. Pemilu mendatang harus menjadi momen refleksi. Kita harus bertanya: apakah pemimpin kita selama ini benar-benar bekerja atau hanya pandai tampil? Apakah mereka berpihak pada rakyat atau sekadar menghibur publik?

Kita perlu menyegarkan cara berpikir politik. Pendidikan politik harus ditanamkan di sekolah, pesantren, gereja, meunasah, dan kampus. Media harus kembali menjadi kontrol, bukan alat dagang. Tokoh agama dan budaya harus bersuara, bukan diam karena takut kehilangan akses kekuasaan.

Pencerahan Politik untuk Masa Depan

Bangsa ini punya potensi besar. Tapi semua itu akan sia-sia jika kita terus memilih pemimpin dengan logika viral dan citra. Sudah saatnya kita kembali ke nilai-nilai dasar: kejujuran, kapasitas, rekam jejak, dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Politik bukan panggung hiburan. Ia adalah ruang penuh tanggung jawab. Jangan serahkan masa depan bangsa hanya kepada mereka yang paling sering muncul di layar, tapi kepada mereka yang paling tulus bekerja dalam senyap.

Penutup

Sebagai warga Aceh Besar yang mencintai republik ini, saya menulis bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tetapi untuk menggugah kita semua. Demokrasi bisa menjadi berkah jika dijalankan dengan akal sehat. Tapi ia bisa menjadi bencana jika hanya dijalankan dengan perasaan dan tontonan.

Dari panggung media ke kursi kekuasaan, perjalanan politik seharusnya disaring oleh nurani rakyat. Mari kita pilih pemimpin bukan karena dia terkenal, tapi karena dia layak.

*Penulis adalah pemerhati isu sosial budaya tinggal di Aceh Besar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00