POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kulepas Asaku di Taman Seribu Lampu Cepu

RedaksiOleh Redaksi
May 3, 2025
Kulepas Asaku di Taman Seribu Lampu Cepu
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hendriyatmoko

Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Blora

Taman Seribu Lampu malam itu tak hanya diterangi cahaya lampu warna-warni, tapi juga oleh harapan yang perlahan meredup. Chika duduk diam di bangku kayu dekat air mancur. Jemarinya menggenggam erat scarf biru pemberian Arga. Malam ini adalah malam yang tak ingin ia hadapi, tapi juga tak bisa ia hindari.

Langkah kaki yang ia kenal baik mendekat. Arga berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di sampingnya. Ia membawa seikat bunga lili putih.

“Bunganya masih favoritmu, kan?” tanya Arga pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.

Chika menerima bunga itu dengan senyum samar. “Selalu. Tapi mungkin malam ini, aku harus menjadikannya bunga perpisahan.”

Arga menunduk. “Aku… nggak tahu harus mulai dari mana.”

“Mulailah dari yang jujur,” balas Chika lembut.

Diam sesaat. Arga menarik napas dalam.

“Besok… aku akan bertunangan dengan Cinta.”

Chika menutup mata sejenak, seolah mencoba menenangkan hatinya yang bergetar. “Aku tahu. Ari bilang tadi sore. Aku… sempat berharap kamu yang cerita langsung.”

“Aku pengecut, Chika. Aku takut lihat kamu hancur karena aku.”

Chika menoleh padanya. “Aku nggak hancur, Ga. Aku terluka, iya. Tapi aku nggak menyesal pernah mencintaimu. Aku cuma menyesal… karena berharap terlalu jauh.”

Arga menggenggam tangan Chika. “Aku pernah membayangkan kita menikah, punya anak, tinggal di rumah kecil dengan taman bunga… Tapi hidup bukan hanya soal perasaan, Chi.”

📚 Artikel Terkait

Yahudi dalam Sorotan Sejarah dan Politik Global: Realitas, Stereotip, dan Tantangan

SULAIMAN JUNED LATIH GURU DAN SISWA CIPTA DAN BACA PUISI

Sri Wahyuni, Guru MAN 6 Aceh Utara Menulis Buku Cerita Anak

Post Power Syndrome dan Pencitraan Yang Terus Kasmaran Untuk Tetap Terus Berkuasa

“Aku tahu,” jawab Chika, menatap lampu-lampu di taman yang berkelap-kelip. “Cinta nggak selalu cukup buat membuat dua orang bersama, kan?”

“Kalau aku punya pilihan, aku akan memilihmu seribu kali,” kata Arga nyaris lirih.

Chika menggeleng perlahan. “Tapi nyatanya kamu nggak bisa. Dan itu cukup bagiku untuk belajar melepas.”

Tepat saat itu, Arman dan Bulan datang membawa dua gelas kopi panas.

“Kami tahu kamu butuh kekuatan, Chi,” kata Bulan, memeluknya dari belakang.

“Terima kasih, kalian selalu datang di waktu yang paling tepat,” ucap Chika dengan suara bergetar.

Arga berdiri, menatap Chika dengan mata yang nyaris basah. “Terima kasih karena pernah mencintai aku tanpa syarat.”

Chika berdiri perlahan, menatap mata Arga dalam-dalam. “Dan terima kasih karena pernah menjadi rumah bagiku, walau hanya sebentar.”

Arga melangkah pergi. Chika menatap punggungnya, lalu mendongak ke langit.

“Malam ini, aku benar-benar melepasmu… di tempat di mana aku pertama kali jatuh cinta padamu.”

Apakah kamu ingin bagian akhir cerpen ini ditambahkan narasi harapan baru bagi Chika setelah melepas Arga?

Angin malam masih setia menyapa wajahnya. Tapi kali ini, Chika merasakannya berbeda. Ada kelegaan, ada ketulusan yang mengalir di dada. Ia menatap bunga lili di pangkuannya, lalu tersenyum.

Bulan duduk di sebelahnya, menepuk pelan bahunya. “Kamu hebat, Chi. Nggak semua orang bisa mencintai dan melepas dengan hati yang tetap utuh.”

Chika menghela napas pelan. “Aku pikir hatiku akan hancur… Tapi ternyata, ketika aku ikhlas, rasanya justru damai. Luka itu ada, tapi aku siap sembuh.”

Arman ikut duduk, menyodorkan segelas kopi kedua. “Kamu nggak sendiri. Kami di sini, dan suatu hari… seseorang akan datang, bukan untuk pergi, tapi untuk tinggal.”

Chika menatap sekeliling taman. Lampu-lampu itu tetap menyala, hangat dan tak berpura-pura. Seperti harapan, yang meski redup, tak pernah benar-benar padam.

Ia berdiri, menatap ke depan. “Mungkin malam ini aku melepas asaku… Tapi aku juga membuka ruang untuk harapan baru.”

Langkahnya mantap meninggalkan bangku itu. Bersama sahabat-sahabat yang mencintainya tanpa syarat, Chika melangkah keluar dari taman dengan senyum kecil—bukan karena luka telah hilang, tapi karena ia tahu, hidup masih punya banyak cerita.

Dan di antara ribuan cahaya yang menyala malam itu, ada satu yang tetap menyala di dalam hatinya: harapan akan cinta yang datang, bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Surat Yasin Terakhir

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00