• Latest
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 2025 05 02 21 01 31 | #Pendidikan | Potret Online

Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita

Mei 2, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Pendidikan | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 2025 05 02 21 01 31 | #Pendidikan | Potret Online

Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Mei 2, 2025
in #Pendidikan, Aceh, Geohistory, pendidikan Aceh, Sejarah
Reading Time: 5 mins read
0
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Ketika melintasi jalan Teuku Umar bersama anak yang paling kecil, Arisya Anum Tabrani Yunis, ia melihat sebuah bangunan putih terbit dari beton yang kelihatan begitu kokoh. Ia bertanya, what house  is that? Ya, bangunan apa itu ayah?  Ia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu dalam bahasa Inggris. Padahal usianya belum 5 tahun.  Ia tersengat melihat bangunan putih yang berdiri kokoh di tengah taman dekat taman Putroe Phang. Ia tertarik, karena ia sangat suka melihat rumah-rumah besar dan cantik.  Setiap saat ia  melihat rumah besar dan cantik, Ia selalu mengungkapkan dengan kata-kata, wow! The house is big and beautiful. 

Saya sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Ya, saya tahu jawabannya. Jadi, sebagai ayah yang  tahu tentang nama bangunan tersebut, wajib memberi tahu padanya. Walau hanya menyebut nama Gunongan.  Saya katakan itu “ Gunongan”. Ia pun mengulangi dengan kata yang sama. Tentu di usianya yang belum 5 tahun, saya tidak bisa menjelaskan lebih detail pada Arisya bahwa itu adalah bangunan bersejarah, tempat permandian putri masa kerajaan Aceh. Belum bisa, dia belum tahu apa arti sejarah. Itu wajar.

Bukan hanya itu, ketika  berbalik arah dari Setui ke kota, kami melintas lagi dan ia melihat pula ada komplek yang banyak batu nisannya. Ia pun bertanya lagi, kalau itu  apa ayah? Saya berfikir sejenak. Jawaban apa yang harus diberi?  Lalu saya menyebutkan  That is “Kerkhof”.  Kerkhof? What is that?

Yes, baby. Jawab saya. Do you want to know more about it? Yes, jawabnya. Tapi sekali lagi saya merasa sulit juga menjelaskannya bahwa Kerkhof Pocut itu adalah kompleks pemakaman serdadu Belanda dan serdadu KNIL yang mati terbunuh di Aceh dalam perang Aceh. Ia pasti sangat asing dengan hal itu. Namun, kata yang paling ia ketahui adalah kata kuburan atau grave. Saya pun mengatakan itu kuburan. 

Apa yang menghentak pikiran saya adalah anak seusia Arisya punya rasa ingin tahu (coriousity) terhadap benda atau bangunan yang selama ini tidak menjadi titik perhatian orang dan bisa saja tidak penting untuk tahu, karena itu hanyalah peninggalan sejarah yang mungkin tidak ada untungnya untuk diketahui atau diingat.

Namun, sesungguhnya ketika anak kecil itu bertanya dan ingin tahu, saya melihat ada kebutuhan untuk mengisi rasa ingin tahunya terhadap dua peninggalan sejarah Aceh itu. Idealnya, pertanyaan itu menjadi pertanyaan para genarasi muda yang sudah usia sekolah. Karena kepada mereka sudah bisa dijelaskan lebih jauh tentang peninggalan sejarah Aceh itu. 

Ingin rasanya saya menceritakan kepada Arisya  dengan bangga sebagai orang Aceh bahwa di Aceh ini ada banyak situs sejarah yang sebenarnya wajib diketahui bahkan dikuasai informasinya oleh orang muda Aceh. Sebab Aceh yang memiliki sejarah kerajaan dan perang yang begitu panjang dalam mempertahankan setiap jengkal tanah, mewarisi kita begitu banyak bukti dan fakta sejarah yang wajib dijaga atau dipelihara sebagai pusat pembelajaran sejarah bagi anak cucu yang menjadi pewaris masa depan.

Baca Juga

cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | #Pendidikan | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026

Ya, terus terang, ingin sekali menceritakan kepadanya dan menunjukan situs-situs tersebut. Misalnya Benteng Indrapatra yang  berada di jalan Krueng Raya yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu- Budha, sebelum masuknya Islam ke Aceh. Juga seharusnya saya bisa menceritakan kepadanya tentang  Benteng Iskandar Muda  yang menjadi bukti sejarah Suktan Iskandar Muda mempertahankan  Aceh mass lalu. 

Bahkan, ketika ia bertanya tentang bangunan Gunongan, di lokasi berdekatan juga ada kuburan Belanda yang dikenal dengan Kerkhof itu, tempat dikuburkannya tentara Belanda yang gugur di Aceh dan pasukan KNIL yang berasal dari Batak, Jawa dan Ambon.  Tempat yang disebut dengan Kerkhof Peucut itu adalah bukti sejarah dalam bentuk komplek pemakaman militer Belanda di kota Banda Aceh. Tentu banyak sekali cerita sejarahnya dan tak mungkin saya ceritakan pada Arisya yang masih berumur belum  5 tahun itu.

Makanya seperti dikatakan di atas bahwa harusnya ini menjadi pengetahuan para generasi muda Aceh, apakah milenial, gen Z (Genzi) maupu gen Alhpa, khususnya di Aceh dan bangsa Indonesia umumnya. 

Sayangnya saat ini orang-orang muda, generasi milenial, gennzi maupun Alhpa, banyak yang tidak mengenal sejarah bangsa dan negara mereka.  Mereka sudah tidak lagi mau membaca sejarah, apalagi belajar sejarah, karena pelajaran ini sudah tidak begitu penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Sehingga mereka, tidak melihat pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang sangat penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah adalah pedoman untuk membangun kehidupan  generasi yang lebih baik.

Sayangnya, realitas kekinian juga menunjukan terjadinya distorsi pengetahuan terhadap makna penting pelajaran  sejarah. Bukan saja sejarah, tetapi juga mata pelajaran geografi, sebagai bagian dari cabang ilmu sosial. Seakan pelajaran ini hanya sekadar pengetahuan yang tidak memberikan manfaat.

Ya, nasib mata pelajaran sejarah dan geografi dalam kurikulum pendidikan Indonesia mengalami distorsi dan terdampak proses disrupsi. Sebagaimana kita ketahui bahwa pelajaran sejarah dan geografi di sekolah di Indonesia telah mengalami perubahan ketika konsep kurikulum Merdeka digadang-gadang sebagai kurikulum yang kemerdekaan itu.

Bayangkan saja, mata pelajaran Sejarah yang sebelumnya terbagi menjadi Sejarah Indonesia dan Sejarah Peminatan digabung menjadi satu mata pelajaran umum, dengan jam pelajaran yang berkurang dibandingkan kurikulum sebelumnya. Perubahan ini  menimbulkan kebingungan bagi siswa dan juga menimbulkan tantangan bagi guru Sejarah, terutama terkait jam mengajar dan pemenuhan syarat tunjangan profesi. Apalagi. Kurikulum  Merdeka memberikan fleksibilitas bagi siswa dalam memilih mata pelajaran, yang dapat berdampak pada jumlah peminat dan jam pelajaran untuk mata pelajaran tertentu seperti Sejarah dan Geografi. Jadi masalah nasib pelajaran sejarah dan geografi yang mengenaskan, ternyata ikut membuat pelajaran sejarah dan pengetahuan sejarah perjuangan bangsa ini menjadi tragis.

Padahal  sejarah dan geografi sangat diperlukan bagi setiap generasi bangsa, agar mereka tahu bagaimana sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan di masa lalu.  Penjajahan yang tidak diinginkan lagi saat ini dan di masa depan. 

Lalu bagaimana kita bisa berharap anak cucu kita atau generasi sekarang dan mendatang mau mempertahankan berjuang  agar negeri ini tidak dicaplok atau dijajah oleh bangsa lain,  batas-batas wilayah negara, potensi bumi dan lain-lain, yang seharusnya tidak boleh sejengkal tanah pun hilang dan harus dipertahankan, tidak mereka ketahui?

ADVERTISEMENT

Agaknya, fenomena dan realitas history and teritory or geography amnesia, harus disikapi segera. pemerintah harus merevitalisasi eksistensi pelajaran sejarah perjuangan bangsa dan juga pelajaran Geografi sebagai sebuah pelajaran yang wajib dipelajari oleh setiap peserta didik di sekolah, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Bila ini tidak disikapi, kita akan menerima akibat buruk di masa depan. Selayaknya pemerintah bergerak cepat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 345x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 264x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 207x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post

AI dan Marxisme

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com