• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Sunyi dalam Keramaian Digital: Mengurai Alasan di Balik Diamnya Grup Alumni

April 29, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sunyi dalam Keramaian Digital: Mengurai Alasan di Balik Diamnya Grup Alumni

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
April 29, 2025
in Alumni, Alumni Australia, Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Dayan Abdurrahman 

Waktu itu, aku membuka WhatsApp di pagi hari yang lengang. Ada satu notifikasi dari grup alumni sekolah yang lama tak kulihat: “Selamat pagi semua. Semoga sehat selalu.” Hanya satu pesan, tanpa balasan. Setelah itu, hening lagi, seperti menabur benih di tanah kering. Grup yang dulu pernah begitu hidup dengan rencana reuni, tawa berbagi kenangan, kini seperti danau beku — diam dan memantulkan sunyi.

Aku pun merenung: kenapa grup alumni yang menghubungkan kita dengan masa lalu, justru sering menjadi ruang hampa tanpa gema?

Mungkin jawabannya sederhana, tapi dalam: hidup membawa kita ke persimpangan yang berbeda. Ada yang sibuk mengejar karier, ada yang bergulat dalam urusan rumah tangga, ada pula yang tenggelam dalam pencarian jati diri yang tak selesai. Sedikit demi sedikit, perbedaan itu membangun tembok-tembok halus di antara kita: rasa canggung, takut tak relevan, atau sekadar merasa, “Ah, mungkin tak ada yang peduli lagi.”

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Namun, bukankah dalam kesunyian itu, seharusnya kita justru menemukan alasan untuk kembali menghidupkan rasa?

Grup alumni, jika kita mau melihat dengan mata hati, bukan sekadar ruang basa-basi atau pengingat betapa cepat waktu berlalu. Ia adalah simpul spiritual dan sosial — tempat kita mengingat, bahwa pernah ada masa kita berlari bersama mengejar mimpi, tertawa dalam kegagalan, atau berbagi keringat dalam kebersamaan yang polos dan jujur. Ia adalah jembatan memori dan harapan.

Dalam dunia yang kian gaduh, grup alumni justru bisa menjadi ruang yang lebih tenang, lebih tulus. Bukan untuk pamer keberhasilan atau membandingkan jalan hidup, melainkan untuk menguatkan satu sama lain, berbagi kebijaksanaan kecil yang lahir dari luka-luka hidup, dan saling mengingatkan bahwa di atas semua pencapaian dunia, ada nilai kekal yang lebih tinggi: persaudaraan, ilmu, dan kasih sayang.

Ada keindahan intelektual di situ — ketika kita berbagi cerita tentang bagaimana kita jatuh, bagaimana kita bangkit, dan bagaimana kita kini lebih mengerti hidup bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk menjadi berkat bagi sesama.

Ada persuasi kooperatif — ketika kita mengajak tanpa menggurui, membangunkan tanpa menghakimi, mengundang tanpa mengintimidasi.

Karena semua kita sedang berjalan dalam jalan panjang yang sama: jalan menjadi manusia yang lebih baik di hadapan sesama dan di hadapan Tuhan.

Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “Ah, untuk apa berbagi? Aku siapa? Ceritaku biasa saja.”

Tapi justru dari cerita-cerita kecil, lahir kehangatan kolektif. Mungkin kisah sederhana tentang perjuanganmu menjaga integritas di tempat kerja, atau pengalamanmu merawat orangtua yang sakit, bisa menjadi lilin kecil bagi teman yang sedang dilanda gelap.

Kita semua pernah merasa malu. Kita semua pernah merasa tak layak. Tapi sesungguhnya, di mata teman lama, tak ada yang lebih indah daripada kejujuran hati.

Bukan kesuksesan yang membuat grup alumni hidup.

Bukan pula cerita heroik semata.

Yang menghidupkan grup alumni adalah ketulusan berbagi — pengalaman, nasihat, tawa, bahkan kegagalan.

Maka, izinkanlah aku berbicara lebih dalam, dari hati ke hati:

Mari kita kembalikan makna sejati dari pertemanan itu.

Mari hadir di grup bukan sekadar dengan emoji atau basa-basi formalitas, melainkan dengan niat memperkaya, menguatkan, dan mencerahkan.

Mari kita menjadi bagian dari energi positif yang mengalirkan kebaikan kecil, demi pencerahan kolektif alumni kita.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan,

> “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Apa yang lebih mulia daripada membangun kebajikan dalam lingkaran kecil kita?

Apa yang lebih luhur daripada menjadi tangan kecil yang menguatkan, di saat dunia luar kerap menghakimi dan melelahkan?

Bukan soal besar atau kecilnya kontribusi.

Bukan soal seberapa pandai kita menulis atau berbicara.

Tetapi soal keberanian kecil untuk berkata: “Aku di sini. Aku peduli. Aku ingin berbagi.”

ADVERTISEMENT

Mari kita jangan lagi terlalu memikirkan rasa malu, takut tidak relevan, atau canggung. Karena setiap langkah kecil yang kita ambil untuk menyapa, membagi cerita, atau sekadar bertanya kabar, adalah sebuah bentuk cinta.

Cinta kepada kenangan kita.

Cinta kepada persahabatan kita.

Cinta kepada cahaya kebaikan yang tidak pernah padam.

Maka, teman-teman alumni sekalian, mari kita rebut kembali ruang ini.

Kita isi grup ini dengan saling berbagi kabar baik, saling mendoakan dalam diam, saling mengoreksi dalam santun, dan saling membangun jembatan pengertian baru.

Sebab kita tak sekadar pernah belajar bersama,

kita pernah bertumbuh bersama.

Kini, saatnya kita tumbuh sekali lagi — bersama-sama.

*Peminat isu sosial dan pendidikan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Mengapa Tuhan Tak Menjodohkan Kita(hening malam)

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com