POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sunyi dalam Keramaian Digital: Mengurai Alasan di Balik Diamnya Grup Alumni

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
April 29, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman 

Waktu itu, aku membuka WhatsApp di pagi hari yang lengang. Ada satu notifikasi dari grup alumni sekolah yang lama tak kulihat: “Selamat pagi semua. Semoga sehat selalu.” Hanya satu pesan, tanpa balasan. Setelah itu, hening lagi, seperti menabur benih di tanah kering. Grup yang dulu pernah begitu hidup dengan rencana reuni, tawa berbagi kenangan, kini seperti danau beku — diam dan memantulkan sunyi.

Aku pun merenung: kenapa grup alumni yang menghubungkan kita dengan masa lalu, justru sering menjadi ruang hampa tanpa gema?

Mungkin jawabannya sederhana, tapi dalam: hidup membawa kita ke persimpangan yang berbeda. Ada yang sibuk mengejar karier, ada yang bergulat dalam urusan rumah tangga, ada pula yang tenggelam dalam pencarian jati diri yang tak selesai. Sedikit demi sedikit, perbedaan itu membangun tembok-tembok halus di antara kita: rasa canggung, takut tak relevan, atau sekadar merasa, “Ah, mungkin tak ada yang peduli lagi.”

Namun, bukankah dalam kesunyian itu, seharusnya kita justru menemukan alasan untuk kembali menghidupkan rasa?

Grup alumni, jika kita mau melihat dengan mata hati, bukan sekadar ruang basa-basi atau pengingat betapa cepat waktu berlalu. Ia adalah simpul spiritual dan sosial — tempat kita mengingat, bahwa pernah ada masa kita berlari bersama mengejar mimpi, tertawa dalam kegagalan, atau berbagi keringat dalam kebersamaan yang polos dan jujur. Ia adalah jembatan memori dan harapan.

Dalam dunia yang kian gaduh, grup alumni justru bisa menjadi ruang yang lebih tenang, lebih tulus. Bukan untuk pamer keberhasilan atau membandingkan jalan hidup, melainkan untuk menguatkan satu sama lain, berbagi kebijaksanaan kecil yang lahir dari luka-luka hidup, dan saling mengingatkan bahwa di atas semua pencapaian dunia, ada nilai kekal yang lebih tinggi: persaudaraan, ilmu, dan kasih sayang.

Ada keindahan intelektual di situ — ketika kita berbagi cerita tentang bagaimana kita jatuh, bagaimana kita bangkit, dan bagaimana kita kini lebih mengerti hidup bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk menjadi berkat bagi sesama.

Ada persuasi kooperatif — ketika kita mengajak tanpa menggurui, membangunkan tanpa menghakimi, mengundang tanpa mengintimidasi.

Karena semua kita sedang berjalan dalam jalan panjang yang sama: jalan menjadi manusia yang lebih baik di hadapan sesama dan di hadapan Tuhan.

Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “Ah, untuk apa berbagi? Aku siapa? Ceritaku biasa saja.”

Tapi justru dari cerita-cerita kecil, lahir kehangatan kolektif. Mungkin kisah sederhana tentang perjuanganmu menjaga integritas di tempat kerja, atau pengalamanmu merawat orangtua yang sakit, bisa menjadi lilin kecil bagi teman yang sedang dilanda gelap.

Kita semua pernah merasa malu. Kita semua pernah merasa tak layak. Tapi sesungguhnya, di mata teman lama, tak ada yang lebih indah daripada kejujuran hati.

Bukan kesuksesan yang membuat grup alumni hidup.

Bukan pula cerita heroik semata.

Yang menghidupkan grup alumni adalah ketulusan berbagi — pengalaman, nasihat, tawa, bahkan kegagalan.

📚 Artikel Terkait

Pemanfaatan Lahan Perkarangan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Pangan Pondok Pesantren Hidayatullah Mentawai

Pasar Murah Dinilai Membantu Masyarakat Kota Banda Aceh

Menjarah Dalam Musibah

PENJABAT BUPATI LEMBATA BUKA FESTIVAL LITERASI LEMBATA 2024

Maka, izinkanlah aku berbicara lebih dalam, dari hati ke hati:

Mari kita kembalikan makna sejati dari pertemanan itu.

Mari hadir di grup bukan sekadar dengan emoji atau basa-basi formalitas, melainkan dengan niat memperkaya, menguatkan, dan mencerahkan.

Mari kita menjadi bagian dari energi positif yang mengalirkan kebaikan kecil, demi pencerahan kolektif alumni kita.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan,

> “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Apa yang lebih mulia daripada membangun kebajikan dalam lingkaran kecil kita?

Apa yang lebih luhur daripada menjadi tangan kecil yang menguatkan, di saat dunia luar kerap menghakimi dan melelahkan?

Bukan soal besar atau kecilnya kontribusi.

Bukan soal seberapa pandai kita menulis atau berbicara.

Tetapi soal keberanian kecil untuk berkata: “Aku di sini. Aku peduli. Aku ingin berbagi.”

Mari kita jangan lagi terlalu memikirkan rasa malu, takut tidak relevan, atau canggung. Karena setiap langkah kecil yang kita ambil untuk menyapa, membagi cerita, atau sekadar bertanya kabar, adalah sebuah bentuk cinta.

Cinta kepada kenangan kita.

Cinta kepada persahabatan kita.

Cinta kepada cahaya kebaikan yang tidak pernah padam.

Maka, teman-teman alumni sekalian, mari kita rebut kembali ruang ini.

Kita isi grup ini dengan saling berbagi kabar baik, saling mendoakan dalam diam, saling mengoreksi dalam santun, dan saling membangun jembatan pengertian baru.

Sebab kita tak sekadar pernah belajar bersama,

kita pernah bertumbuh bersama.

Kini, saatnya kita tumbuh sekali lagi — bersama-sama.

*Peminat isu sosial dan pendidikan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Mengapa Tuhan Tak Menjodohkan Kita(hening malam)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00