• Latest
Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas - 2025 05 02 10 56 44 | # Ironi | Potret Online

Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas

Mei 2, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Mei 2, 2025
in # Ironi, #Hardiknas, #Pendidikan, Kualitas pendidikan, Pendidikan, Pendidikan insklusif, Politik Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas - 2025 05 02 10 56 44 | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Hari Pendidikan Nasional kembali datang. Seperti biasa, kita semua mendadak jadi cerdas, nasionalis, dan bijak bestari. Ya, minimal di caption Instagram. Upacara dilaksanakan, pidato disampaikan, dan hashtag #MerdekaBelajar kembali digaungkan. Padahal, di lapangan, yang merdeka itu justru kebingungan. Pendidikan kita hari ini adalah perpaduan ajaib antara niat baik, kebijakan aneh, dan realitas pahit yang dibalut jargon motivasional.

Mari kita rayakan dulu ketimpangan sebagai warisan budaya bangsa. Di Jakarta, anak-anak sudah belajar AI, coding, dan bahasa Inggris dengan guru yang lulusan luar negeri. Di Papua Pegunungan, anak-anak belajar membaca huruf dari papan tulis yang sudah setengah dikerat waktu. Rata-rata lama sekolah di sana hanya 5,1 tahun. Itu pun sudah hebat, karena untuk sampai ke sekolah saja, mereka harus mendaki bukit, menyeberangi sungai, dan bernegosiasi dengan kambing liar. Sementara di kota besar, sekolah lengkap dengan AC, CCTV, dan kantin menjual minuman boba. Semua tampak adil, setidaknya menurut mereka yang duduk di kursi empuk ber-AC sambil memegang pointer dan presentasi PowerPoint berjudul “Pendidikan Inklusif”.

Soal literasi, kita juga unggul. Anak-anak kita bisa bikin caption viral, komen nyinyir, bahkan debat di kolom komentar pakai teori yang entah dari mana. Tapi saat disodorkan satu paragraf bacaan dari buku pelajaran, matanya kosong, pikirannya jalan-jalan. Banyak siswa kesulitan membaca, menulis, apalagi memahami. Tapi tenang, kementerian rajin menyelenggarakan lomba menulis puisi dan pidato tema “Cinta Tanah Air” yang syaratnya adalah hafalan, bukan pemahaman. Literasi? Nanti dulu. Yang penting ada dokumentasi kegiatan.

Sementara itu, dana BOS yang katanya disalurkan demi pendidikan merata lebih sering nyasar ke tempat-tempat yang tidak butuh. Bahkan dalam beberapa kasus, dana BOS disalahgunakan. Mungkin karena terlalu banyak uang, sampai bingung mau dipakai buat apa. Guru honorer masih terima gaji setara uang parkir satu bulan, tapi laporan keuangan sekolah selalu rapi. Dana pembelian proyektor cair, tapi barangnya tidak pernah muncul. Seolah-olah uangnya berubah menjadi ilmu telepati, tidak terlihat tapi dipercaya ada.

Bicara soal biaya pendidikan, hari ini pendidikan tinggi adalah mimpi yang harus ditebus dengan utang. UKT naik terus, dengan alasan inflasi, pengembangan kampus, atau kadang cuma “penyesuaian”. Mahasiswa yang kritis disuruh memahami kondisi, yang protes dianggap tidak bersyukur, dan yang diam dapat bonus semester tambahan karena skripsinya tak kunjung selesai akibat dosen pembimbing yang sibuk pelatihan ke luar negeri, penelitian ini dan itu. Pendidikan tinggi kini bukan lagi hak, tapi privilese.

Sekolah rusak? Banyak. Lebih dari 60% ruang kelas SD mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Tapi jangan khawatir, karena selama atap belum ambruk saat pelajaran, dianggap masih bisa dipakai. Kadang murid belajar sambil memegang ember, menampung air hujan yang bocor dari langit-langit. Tapi itu kan pengalaman hidup, bagian dari kurikulum tersembunyi bernama “adaptasi ekstrem”.

Jangan lupakan kurikulum. Kita sudah ganti kurikulum lebih sering dari ganti kalender dinding. Setiap menteri datang dengan semangat dan nama kurikulum baru. Guru dipaksa belajar ulang, siswa jadi kelinci percobaan, orang tua bingung, dan dunia usaha hanya tertawa sambil berkata, “Lulusan ini kita latih lagi dari nol ya, Bu.” Pendidikan kita ibarat sinetron panjang, plot-nya berputar-putar, aktornya gonta-ganti, tapi ending-nya tak pernah sampai.

Namun di balik semua absurditas ini, masih ada guru-guru hebat, murid-murid gigih, dan orang tua yang percaya bahwa pendidikan bisa menyelamatkan masa depan. Mereka adalah pahlawan tanpa panggung. Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita kirim doa, semoga tahun depan kita tidak hanya upacara dan berpuisi, tapi benar-benar belajar. Bukan hanya untuk dapat nilai, tapi untuk hidup yang lebih waras.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas - IMG 20250502 WA0010 | # Ironi | Potret Online

Sebuah Refleksi Sosial; Berpendidikan Tinggi, Tapi Tak Bisa Mengantre: Di Mana Budaya Etika Kita?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com