POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengapa Tuhan Tak Menjodohkan Kita(hening malam)

RedaksiOleh Redaksi
April 29, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Luhur Susilo
(Guru SMPN 1 Sambong, Blora)

Kamu,
adalah nama terakhir yang kupinta dalam gelap.

Namun yang turun,
hanya sunyi.

Barangkali,
aku tak pernah benar-benar meminta untuk memiliki,
hanya untuk mengerti cara melepaskan.

Aku,
adalah jiwa kecil yang sering lupa,
bahwa aku pun berharga.

Dalam patah,
aku menemukan serpihan diriku sendiri.

Dalam hilang,
aku belajar mengeja namaku kembali.

Merawat diri,
bukan bentuk pengkhianatan,
tetapi sebuah doa yang diam-diam bertumbuh.

Aku menanam tawa,
di ladang hati yang pernah mati.

Aku terlalu sering menjadi hujan,
bagi tanah yang memilih gersang.

Terlalu lama,
menjadi kata dalam percakapan yang sudah layu.

Kini aku memilih,
untuk diam.

Untuk pulang,
tanpa bertanya lagi.

Tak semua doa,
harus dijawab.

Tak semua cinta,
harus dibalas.

Kadang,
cinta adalah pedang bermata dua.

Kadang,
kesetiaan adalah jalan pulang ke sunyi.

📚 Artikel Terkait

Membuka Gerbang Masa Depan Melalui BK

Predator Anak – Ulasan Artikel

SLB YBSM Banda Aceh Selenggarakan Persami di Sekolah

Plusnya Kuambil, Minusnya Kubuang

Aku melepaskan semua yang kutambatkan,
tanpa ingin memetik kembali.

Mencintaimu,
adalah perjalanan melintasi samudra tanpa peta,
menuju pelabuhan bernama ikhlas.

Bukan berhenti mencintai,
hanya berubah cara mencintai.

Aku belajar,
bahwa aku layak mencintai diriku sendiri.

Tuhan,
lebih mengerti air mata yang tak pernah jatuh,
lebih paham doa yang hanya menggetarkan dada.

Bukan kamu yang salah.
Bukan aku yang gagal.
Hanya semesta,
yang menginginkan kita berjalan sendiri-sendiri.

Ada cinta,
yang lebih utuh dalam jarak.

Ada kehilangan,
yang justru menguatkan.

Kesendirian,
bukan kehampaan.
Ia adalah lentera kecil,
yang tetap menyala dalam hujan.

Aku menerima duka ini,
sebagai taman.
Bukan kuburan.

Aku membiarkan cinta ini bersemi,
di tanah yang mungkin tak pernah kau jamah.

Dalam kepergianmu,
aku menemukan jalan pulangku.

Dalam kehilanganmu,
aku bertemu kembali dengan diriku sendiri.

Aku belajar,
bahwa melepaskan,
adalah bentuk tertinggi dari mencinta.

Aku tidak lagi memohonmu tinggal.
Aku hanya memohon,
agar aku tetap utuh.

Aku tidak lagi berharap padamu.
Aku belajar,
berharap pada diriku sendiri.

Kamu,
tetaplah bait yang kusemat di langit sunyi.

Namun kini,
aku memilih menjadi puisi bagi diriku sendiri.

Aku mencintai kisah ini,
meski tanpa ujung.

Sebab dari patahnya,
aku belajar tentang utuh.

Mengapa Tuhan tak menjodohkan kita?
Mungkin,
karena mencintai,
tak selalu berarti memiliki.

Malam memelukku,
dengan bisu yang perlahan membaikkan luka.

Dan dalam gelap,
aku menemukanmu.
Dalam diam.
Dalam doa.

Rumah Tua, 28 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Indonesia : 60,3% Rakyat Miskin?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00