Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Wak Dalek dan Wan Dollah kembali ngopi. Pagi tadi, dua pensiunan yang udah aki-aki ini ngopi di Jalan Hijaz Pontianak. Malam ini, mereka ngopi di sebuah kafe di Jalan Ayani.
Dua sahabat yang sudah sepuh ini duduk di sudut, serius. Kali ini, investigasi mereka harus fokus: Siapa sebenarnya tersangka korupsi Dinas PU itu? Soalnya, KPK bilang, sudah ada tersangkanya, cuma belum diumumkan.
“Tak bisa begini terus, Wan,” bisik Wak Dalek, matanya menyipit seperti mata elang rabun jauh. “Kita mesti bongkar!”
Wan Dollah mengangguk. Ia sudah siap dengan alat investigasi canggih, kaca pembesar bekas mainan cucunya dan pulpen yang sudah kering tintanya. “Mari kita bahas fakta,” kata Wak Dalek sambil membuka kertas koran kusut:
- KPK geledah kantor PU.
- Ada tersangka, belum diumumkan.
- Barang bukti: dokumen kontrak, transferan keuangan.
- Kasus pengadaan barang.
“Jadi,” Wak Dalek mengetuk meja, “siapa yang paling dekat dengan barang-barang ini?”
Wan Dollah merenung dalam-dalam, sampai nyaris masuk koma ringan. Lalu dia menepuk paha.
“Wak! Aku rasa, yang paling berbahaya bukan pejabat besar, tapi pejabat kecil yang tahu jalur uang! Kayak… Kepala Seksi Pengadaan!”
Wak Dalek mendelik, “Betul! Kepala Seksi itu biasanya tak nampak, tapi punya akses semua anggaran!”
Mereka berdua bersorak pelan.
📚 Artikel Terkait
Tapi, karena mereka berjiwa investigatif, dan rada sok tahu, mereka tidak mau asal tuduh. Mereka bikin hipotesis ilmiah. Ada 5 Besar Kandidat Tersangka Versi Wak Dalek & Wan Dollah:
- Kepala Seksi Pengadaan – karena semua barang lewat dia.
- Bendahara Proyek – karena dia yang pegang buku kas dan “buku kas tambahan” di bawah meja.
- Kabid (Kepala Bidang) Jalan dan Jembatan – karena proyek aspal fiktif bisa lahir dari sini.
- Kepala Dinas itu sendiri – ya iyalah, kalau tak tanda tangan, duit tak jalan.
- Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) – karena dia suka bilang “komitmen” padahal maknanya sangat cair, kayak teh tarik.
Wan Dollah menggertakkan gigi palsunya, semangat membara.
“Wak! Aku yakin, salah satu dari lima ini. Mana mungkin tukang ketik yang jadi tersangka! Masa tukang ketik bisa bikin proyek aspal jalan dari Google Docs?”
Mereka tertawa, lalu kembali serius.
“Logikanya, Wan,” kata Wak Dalek mengerutkan dahi, “kalau cuma dokumen kontrak dan bukti transfer yang digeledah, berarti modusnya: markup harga, pengadaan fiktif, atau main proyek siluman.”
Wan Dollah menimpali, “Kalau OTT, mungkin ada duit tunai. Tapi ini penggeledahan administrasi. Artinya… korupsinya licik, terselubung, dan sangat intelek, kayak copet pakai jas almamater.”
Mereka terdiam sejenak, menundukkan kepala mengenang nasib negara. Lalu Wak Dalek bangkit, tangannya mengepal, menggelegar seperti orator revolusi.
“Kesimpulannya, tersangkanya pasti orang dalam, berpangkat minimal Kepala Seksi atau Kepala Bidang, yang ngerti alur duit dan bisa main proyek! Bukan tukang fotokopi. Bukan tukang antar surat. Bukan kucing. Bukan tukang kebun.”
Wan Dollah berdiri juga, menghentak kaki, hampir membuat barista kaget jatuh. “Kita sudah pecahkan misteri negara ini, Wak! Sekarang tinggal tunggu waktu. Begitu KPK umumkan, kita tinggal cek, cocok tak sama prediksi kita!”
Mereka berdua tertawa penuh kemenangan, sambil menepuk dada, dada yang kini makin lebar karena kebanggaan investigatif yang ngawur tapi penuh dedikasi.
Sebelum pulang, Wak Dalek sempat berbisik, “Kalau tebakan kita benar, Wan… besok kita buat spanduk, ‘Prediktor Terakurat, Ahli Korupsi Secara Teoritis.'”
Wan Dollah mengangguk serius. “Dan kita buka jasa konsultasi: Ramalan Tersangka KPK.”
Dengan langkah mantap, dua aki-aki pensiunan itu meninggalkan kafe, merasa seperti Sherlock Holmes, kalau Sherlock suka ngopi sambil ngemil kentang goreng.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






