POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Represi Intelektual

RedaksiOleh Redaksi
April 28, 2025
Represi Intelektual
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

„Sekali lagi, keadilan harus dibeli dengan darah manusia.“ — Albert Camus(1913-1960), Resistance, Rebellion, and Death(1944).

Aktivis perempuan intelektual paling kritis sejak 2014 silam, dr. Tifauzia Tyassuma,
sangat getol mengritik kepalsuan kekuasaan yang dipawani para elit politik.

Akibatnya, ia harus menerima kekerasan verbal dengan model perang asimetris maupun cyberwar yang memanfaatkan teknologi digital.

Salah satu gerundelan dan geruduknya, bersama kerabatnya Roy Suryo dan Rismon Sianipar, merangsek praktek pelacuran intelektual menyangkut ijazah palsu Presiden 2014-2024, Ir. Joko Widodo di Fakultas Kehutanan UGM.

Karena itu, di dua laman X dan FB, ia mensinyalir tumbuhnya kriminalisasi nalar kritis dan represi intelektual.

Terkait represi intelektual, Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia — telah mengalami kemajuan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya sejak Proklamasi 1945 — kembali digoda oleh otoriterianisme baru.

Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat tantangan yang cukup serius dalam bentuk represi intelektual oleh satu kekuatan yang anti nalar kritis. Mereka beranggapan nalar kritis membahayakan kemapanan kekuasaan yang lancung dan lacur.

Sebagaimana banyak dihadapi kaum intelektual kritis seperti Raushan fikr Ali Shariati di Iran atau Faraq Fauda di Mesir, represi ini tidak hanya membatasi kebebasan berpikir dan berekspresi.

Akan tetapi, ikut mengancam esensi demokrasi itu sendiri. Bahkan bisa membunuh mereka, para aktivis intelektual kritis seperti dialami Shariati dan Fauda. Tentu, di Indonesia telah menimpa aktivis reformasi, Munir, Udin, Marsinah, Wiji Thukul dan 14 aktivis reformasi lainnya.

Sejarah ringkas represi intelektual di Indonesia hingga dewasa ini dapat dilihat dari beberapa faktor(baca, Cendekiawan dan Kekuasaan, Daniel Dhakidae, 2003; Muslim Inteligensia dan Kuasa, Yudi Latif, 2005; Intellectuals in developing societies, S.H. Alatas,1977).

Pertama, meningkatnya intoleransi terhadap perbedaan pendapat dan pandangan.

Banyak kasus di mana individu atau kelompok yang memiliki pandangan berbeda dari mainstream politik atau sosial dihadapkan pada tekanan, ancaman atau kekerasan bahkan pembunuhan.

📚 Artikel Terkait

Subuh di Arasyi

Bulan Rajab Sebagai Momentum Refleksi Diri dan Tingkatkan Kualitas Diri

Dunia People, Planet, Benefit (PPB) – Untuk Refleksi Hari Buruh 1 Mei 2023

Savana dan Gagahnya Sumba dalam Keberagaman Indonesia

Hal ini sengaja disulut untuk menciptakan atmosfer ketakutan yang menghambat kebebasan berpikir dan berekspresi. Sebagai misalnya, kasus ijazah palsu di UGM, preman H harus datang ke Solo(https://www.tempo.co/politik/silaturahmi-ke-solo-hercules-gerah-dengan-isu-ijazah-jokowi-palsu-1231701).

Kedua, kontrol terhadap media dan informasi juga berperan penting dalam represi intelektual seperti UU ITE(https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220816154256-37-364266/mengenal-apa-itu-uu-ite-apa-saja-yang-diatur-di-dalamnya/amp).

Dengan kemajuan teknologi informasi, akses terhadap informasi menjadi lebih mudah. Namun, kontrol terhadap narasi dan penyebaran informasi dapat membatasi perspektif masyarakat.

Hal ini dapat menyebabkan penyebaran informasi yang tidak akurat atau bias dan pada galibnya sangat mempengaruhi cara berpikir masyarakat, terutama para buzzer, preman bayaran hingga intelektual tukang.

Ketiga, represi intelektual juga dapat dilihat dalam konteks sistem pendidikan, terutama kurikulum pendidikan Dikdas dan universitas-universitas yang dirasuk waham kekuasaan seperti yang terjadi pada UI dan UGM belakang.

Kurikulum yang kaku dan tidak mendorong pemikiran kritis dapat membatasi kemampuan siswa dan mahasiswa untuk berpikir secara mandiri dan kreatif.

Selain itu, tekanan untuk mengikuti norma-norma tertentu dalam berpikir dan berpendapat, juga dapat menghambat perkembangan intelektual.

Dampak yang dihasilkan represi intelektual ini sangat luas. Di antaranya:

/1/ Penghambatan pada inovasi dan kreativitas akibat kurangnya ruang kebebasan untuk berpikir di luar kotak(out of the box).

/2/ Lemahnya sikap kritis dan lebih cenderung menerima informasi tanpa mempertanyakannya.

/3/ Terganggunya praktek demokrasi substantif, terutama intervensi eksekutif pada lembaga yudikatif. Akibatnya, represi intelektual kuat untuk membatasi partisipasi aktif masyarakat dalam proses politik.

Lantas, langkah apa yang bisa mengatasi represi intelektual di tengah kontrol publik yang lagi berlaku di lembaga perwakilan publik seperti legislatif, sudah sangat merosot(https://www.kompas.id/artikel/saat-penguasa-ramai-ramai-koreksi-kritik-publik-tentang-ruu-tni).

Meski kondisi itu mirip fiksi The Captive Mind dari Czesław Miłosz maupun 1984 dari George Orwell, represi intelektual memerlukan model pendidikan kaum tertindas ala Paulo Freire. Atau, gerakan intelektual “bebalisme” yang pernah disarankan S.H. Alatas dalam Intelektual Masyarakat Berkembang(LP3ES, 1988).

Dengan terus mendorong pemikiran kritis dan kreatif, kebebasan berekspresi dan akses informasi yang akurat — UU Informasi Publik yang dihasilkan dari sejarah reformasi tidak efektif dan dilemahkan UU ITE — partisipasi aktif dalam diskusi dan debat publik jangan sampai dibungkam.

Dengan kata lain, represi intelektual dapat dienyahkan sepanjang publik kritis dan inovatif harus makin diperluas.

Akhirnya, garansi publik kritis untuk mengganyang represi intelektual, akan memperkuat demokrasi dan kemajuan bangsa bagi G-Z dan mempercepat matinya rezim gerontokrasi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kenangan dan inspirasi Dwiyanto Setyawan Melahirkan Karya 80 Judul Buku Cerita dan Novel(1)

Kenangan dan inspirasi Dwiyanto Setyawan Melahirkan Karya 80 Judul Buku Cerita dan Novel(1)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00