POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

RA Kartini di Era Artificial Intelligence

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
April 20, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok Raden Ajeng Kartini, pejuang emansipasi perempuan yang pemikirannya melampaui zamannya. Kini, lebih dari seabad sejak surat-suratnya menggema ke seantero negeri, kita hidup di era yang sangat berbeda: era Artificial Intelligence (AI).

Teknologi cerdas kini bukan sekadar alat bantu, tetapi mitra kerja, penasihat, bahkan pengganti di berbagai bidang. Perubahan ini membuka peluang besar bagi perempuan Indonesia, sekaligus tantangan yang tak kecil.

RA Kartini dikenal sebagai perempuan yang sangat peduli terhadap pendidikan, terutama akses bagi kaum perempuan. Dalam dunia AI, pendidikan tetap menjadi kunci utama agar perempuan tidak tertinggal dalam arus transformasi digital.

AI telah merevolusi dunia kerja, dari industri kreatif, kesehatan, hingga pertanian. Jika dahulu Kartini memperjuangkan hak untuk belajar membaca dan menulis, maka kini perjuangan itu bertransformasi menjadi akses literasi digital dan literasi data.

Pertanyaannya, apakah semangat Kartini masih relevan di era ketika algoritma menggantikan intuisi dan mesin mengalahkan kekuatan manusia? Jawabannya: sangat relevan, bahkan semakin penting.

Kartini bukan hanya simbol perempuan yang cerdas, tetapi juga berani mengambil sikap terhadap ketimpangan dan ketidakadilan. Di tengah derasnya teknologi, masih banyak perempuan yang belum mampu mengakses AI karena kendala ekonomi, pendidikan, atau budaya.

Kesetaraan akses menjadi isu besar dalam dunia AI. Banyak riset menunjukkan bahwa teknologi seringkali mencerminkan bias gender, karena dikembangkan tanpa partisipasi cukup dari perempuan. Semangat Kartini dapat menjadi inspirasi untuk mendorong keterlibatan perempuan dalam pengembangan AI yang inklusif.

📚 Artikel Terkait

Bunda Literasi Sumbar Ny. Harneli Mahyeldi Bakal Bedah Buku Menggugat Ibu SatuPena Sumbar

Pesanan Air Mata: Karya Terbaharu Al-Azim Menyentuh Jiwa

Kopi itu Pahit

Sepak Terjang Sekda Singkawang Tamat

Pendidikan berbasis sains dan teknologi harus menjadi ruang perjuangan baru bagi perempuan. Seperti Kartini yang rajin belajar secara mandiri melalui buku dan korespondensi, generasi perempuan hari ini bisa memanfaatkan platform digital untuk mengakses ilmu pengetahuan.

Namun, tidak cukup hanya menjadi pengguna. Perempuan harus didorong untuk menjadi pencipta teknologi, penulis kode, dan arsitek kecerdasan buatan yang etis dan adil bagi semua. Di sinilah peran negara, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi sangat krusial.

Penting untuk mengembangkan kebijakan afirmatif yang mendorong partisipasi perempuan dalam STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Karena semakin banyak perempuan di ruang inovasi, semakin besar peluang lahirnya solusi yang berperspektif keadilan.

Kartini muda di era AI adalah mereka yang tak takut bersaing dalam dunia digital, tetapi tetap membawa nilai-nilai luhur: keadilan, kemanusiaan, dan kebijaksanaan. Dalam situasi yang serba otomatis, empati dan suara perempuan menjadi penyeimbang kemajuan.

Perempuan di pedesaan juga tak boleh tertinggal. Program pemberdayaan berbasis AI bisa diarahkan untuk membantu petani perempuan, UMKM perempuan, hingga ibu rumah tangga agar lebih produktif. Dengan teknologi, kesenjangan bisa dipersempit jika dirancang dengan hati-hati.

Di satu sisi, AI juga membawa ancaman baru bagi perempuan: eksploitasi data, kekerasan berbasis digital, hingga stereotip dalam media algoritmik. Maka, kesadaran kritis perlu ditanamkan sejak dini, agar perempuan tidak hanya melek teknologi, tetapi juga berdaya mengontrolnya.

RA Kartini pernah berkata, “Habis gelap terbitlah terang.” Dalam konteks kekinian, terang itu bisa diwujudkan dengan memanfaatkan AI secara etis dan inklusif. Bukan sebagai alat dominasi, tetapi sebagai jembatan menuju dunia yang lebih setara.

Generasi muda perempuan harus disiapkan tidak hanya sebagai pekerja, tapi juga sebagai pemimpin dalam revolusi digital. Seperti Kartini yang berani menyuarakan gagasannya kepada Belanda, perempuan kini harus berani menyuarakan ide dan inovasinya ke dunia global.

Hari Kartini adalah momen refleksi, bukan sekadar seremoni memakai kebaya. Di era AI, memperingati Kartini berarti menghidupkan kembali semangat belajar, semangat berpikir kritis, dan semangat memperjuangkan hak perempuan dalam ruang digital.

Sudah saatnya kita memiliki lebih banyak “Kartini Digital” yang bukan hanya piawai menggunakan teknologi, tetapi juga bijak mengarahkan teknologi untuk kebaikan bersama. Mereka yang mampu memimpin dengan integritas dan berkontribusi nyata dalam dunia yang terus berubah.

RA Kartini di era Artificial Intelligence bukanlah nostalgia masa lalu, tetapi inspirasi yang terus tumbuh. Semangatnya menjelma dalam tiap langkah perempuan yang belajar, berkarya, dan mencipta di ruang digital yang semakin luas.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ijazah Penting

Buah Simalakama UGM

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00