POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Krisis Literasi: Ratusan Siswa SMP Tidak Bisa Membaca

RedaksiOleh Redaksi
April 18, 2025
Tags: Literasi
Guru
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

Berita yang sedang mencuat dari Kabupaten Buleleng, Bali, mengenai ratusan siswa SMP yang belum bisa membaca, seharusnya bukan lagi sekadar sorotan sesaat. Dari 34.062 siswa, 155 di antaranya tidak bisa membaca sama sekali, sementara 208 lainnya belum lancar. Angka ini tidak hanya memprihatinkan, tapi juga menjadi cermin buram dari wajah sistem pendidikan kita yang perlu dievaluasi ulang.

Sebagai seseorang yang juga bekerja menjadi pengajar privat, saya tidak terkejut dengan fenomena ini. Saya sendiri pernah mendampingi siswa kelas 2 SMP yang harus mulai belajar dari nol: mengenal huruf, mengeja kata, hingga bisa membaca kalimat sederhana. Butuh sekitar tiga bulan intensif hanya untuk menembus keterbatasan dasar ini. Kedengarannya ironis, namun inilah kenyataan yang selama ini tersembunyi di balik euforia kelulusan dan slogan “merdeka belajar.”

Fenomena ini sepatutnya mendorong kita untuk meninjau ulang sistem pendidikan sejak jenjang paling dasar. Mari kita lihat ke belakang, pada masa taman kanak-kanak. Kurikulum di TK diisi dengan agenda study tour, jalan-jalan, dan kegiatan rekreatif lainnya. Dalihnya, anak-anak usia dini belum siap belajar secara akademik, mereka tidak boleh dipaksa mengunyah buku-buku yang belum seharusnya, Karena katanya bisa merusak tumbuh kembang anak dan membuat mentalnya tertekan. Sehingga alih-alih belajar membaca, TK lebih sering dijadikan sebagai sarana dasar  sosialisasi bagi anak yang dipenuhi jadwal rekreasi yang cukup menguras anggaran. Akibatnya, anak-anak lulus dari TK tanpa bisa membaca. Namun, mereka dianggap “anak-anak bahagia” karena sering diajak wisata.

Ketika lulus TK, anak-anak ini masuk ke jenjang SD tanpa bekal membaca. Mayoritas hanya sedikit anak-anak yang masuk ke SD sudah lancar membaca. Namun tidak masalah karena katanya pintar itu ada waktunya, anak-anak tidak boleh dipaksa membaca. Ironisnya, buku-buku pelajaran kelas 1 SD sudah penuh dengan teks narasi panjang yang mengasumsikan anak sudah harus lancar membaca. Karena jika anak tidak bisa membaca di kelas 1 SD, bagaimana ia bisa memahami buku tematik yang tebalnya puluhan halaman?

📚 Artikel Terkait

Model Hadih Maja Antarkan Alfian Raih Gelar Doktor di UPI Bandung

Tgk. Joel Buloh Guru MTsN 6 Aceh Utara Penulis 10 Buku Bergabung Ke PGRI

Kereta Angin

Sajak – Sajak Ina Nur Fazlina

Tapi tidak masalah karena kembali lagi pada narasi bahwa anak tidak boleh dipaksa membaca.

Namun akibatnya, setiap ujian tiba, guru harus membacakan soal untuk anak-anak yang belum bisa membaca. Fenomena ini berlangsung hingga kelas-kelas berikutnya, bahkan sampai kelulusan SD. Anak-anak yang belum lancar membaca ini tetap naik kelas, karena kurikulum merdeka tidak memperbolehkan anak-anak untuk tinggal kelas.

Naik kelas menjadi semacam formalitas, bukan hasil capaian, tidak ada intervensi yang sistematis. Mau bisa membaca atau tidak, siswa tetap naik kelas. Pada akhirnya, mereka sampai di jenjang SMP tanpa fondasi yang kokoh.

Kondisi ini bukan semata-mata kesalahan guru atau sekolah. Ini adalah gambaran dari sistem yang abai terhadap urgensi pendidikan dasar. Kurikulum disusun dengan asumsi ideal, namun pelaksanaannya di lapangan jauh dari harapan. Tidak semua sekolah memiliki SDM, waktu, dan metode untuk mengejar ketertinggalan siswa yang bahkan belum bisa mengeja.

Kita perlu evaluasi menyeluruh, bukan tambal sulam. Pendidikan usia dini harus dikembalikan pada esensi: membentuk kesiapan belajar, bukan hanya memberi pengalaman menyenangkan. SD harus memprioritaskan literasi dasar secara serius. Pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua perlu bersinergi dengan arah yang sama: memastikan anak-anak benar-benar mampu membaca, bukan sekadar naik kelas. Karena membaca itu adalah ilmu wajib yang semua orang harus bisa, berbeda dengan matematika, yang tidak semua orang harus menguasai persamaan linear atau teknik aljabar.

Jika kita terus menutup mata, maka fenomena siswa SMP belajar huruf bukanlah kasus luar biasa, melainkan gejala sistemik yang akan terus terulang. Dan ketika itu terjadi, kita tidak lagi berbicara soal pendidikan, kita sedang menyaksikan kegagalan dalam membentuk generasi bangsa yang cerdas dan berdaya. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Tags: Literasi
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
“Walid nak Dewi, Boleh?”

"Walid nak Dewi, Boleh?"

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00