• Latest
“Walid nak Dewi, Boleh?” - 66b6dfd0 86ef 45e4 aa87 3fbc98eee9d8 | # Ironi | Potret Online

“Walid nak Dewi, Boleh?”

April 18, 2025
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
“Walid nak Dewi, Boleh?” - 1001348646_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
“Walid nak Dewi, Boleh?” - 1001353319_11zon | # Ironi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
“Walid nak Dewi, Boleh?” - 1001361361_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

“Walid nak Dewi, Boleh?”

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 18, 2025
in # Ironi, #Film Waled, Film, Perempuan, Ulasan Film
Reading Time: 3 mins read
0
“Walid nak Dewi, Boleh?” - 66b6dfd0 86ef 45e4 aa87 3fbc98eee9d8 | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Ungkapan itu sedang viral, wak. Diambil dari serial film Bidaah, produksi negeri jiran. Ntah kenapa film itu menjadi terkenal? Mungkin ada kesamaan dengan fenomena di negeri kita. Mungkin? Yok, kita kupas tentu dengan kopi liberika.

Ketika logika sudah pensiun dini dan nafsu naik pangkat jadi ustaz, lahirlah tokoh ikonik bernama Walid Muhammad dari serial Bidaah, drama Malaysia yang baru-baru ini viral di TikTok. Ia bukan sekadar tokoh fiksi. Ia adalah simbol. Simbol bagaimana agama bisa dibengkokkan seperti sendok warung prasmanan, asal kuat niat, semua bisa dilenturkan.

Baca Juga
  • Suara dan Gerakan Kaum Perempuan Indonesia Yang Patut dan Harus Diperhitungkan
  • HABA Si PATok

Dalam serial tersebut, Walid adalah pemimpin sekte bernama Jihad Ummah, kelompok keagamaan yang katanya membawa umat menuju Tuhan, tapi di tengah jalan malah singgah ke kamar Dewi. Dengan jubah putih dan kata-kata manis seperti sirup di bulan puasa, Walid merayu para pengikut perempuan lewat konsep “pernikahan batin.” Bukan batin karena sakral, tapi batin karena korban harus menahan sakit, malu, dan air mata.

Lalu, muncul adegan viral, “Saya nak Dewi, boleh?”

Baca Juga
  • Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera
  • Kartel Narkoba, Kekuasaan Politik, dan Ancaman Terhadap Kedaulatan Negara

Kalimat ini dilontarkan Walid saat ingin menjadikan Dewi, salah satu pengikutnya, sebagai istri spiritual. Sebuah kalimat yang lembut di telinga, tapi tajam di hati. Bukan sekadar rayuan, tapi manipulasi. Bukan cuma gombal, tapi penyalahgunaan kuasa. Ironisnya, alih-alih mengundang kemarahan, kalimat ini jadi bahan meme. Netizen tertawa, konten kreator berlomba-lomba bikin parodi, sementara pesan seriusnya tenggelam di laut lelucon.

Fenomena ini bukan sekadar tontonan. Ia cermin sosial yang memantulkan wajah para lelaki “suci-suci syariah” yang suka sekali bilang, “Menikah lagi itu sunnah.”

Baca Juga
  • HABA Si PATok
  • đźš©SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Padahal mereka menafsirkan sunnah hanya di bagian nikahnya, lupa bahwa Nabi juga menyapu rumah dan menjahit baju sendiri.

Mereka berdalih ingin “menyelamatkan janda-janda malang” padahal yang malang justru istri pertama, kedua, dan ketiga, yang hidupnya berubah jadi episode telenovela penuh air mata dan biaya hidup.
Mereka bangga bisa berlaku “adil,” padahal adil mereka hanya soal jatah malam, bukan jatah susu anak. Istri pertama dapat cemburu, istri kedua dapat harapan, istri ketiga dapat giliran lebaran, dan istri keempat, kalau masih sanggup, dapat tagihan.

Drama Bidaah sebenarnya membawa pesan penting, betapa bahayanya bila agama diselewengkan oleh pemuka karismatik yang haus kuasa dan syahwat. Di balik setiap “Saya nak Dewi, boleh?” tersimpan ribuan kisah nyata tentang perempuan yang dimanfaatkan atas nama Tuhan. Namun masyarakat lebih suka tertawa dari berpikir. Lebih sibuk menghafal quote viral dari mencerna makna.

Kalau ente hari ini mengetik pesan kepada istri pertama dengan gaya Walid, berharap dia menjawab dengan ikhlas dan air mata tertahan, cobalah bercermin. Tanyakan, apakah kamu sungguh ingin “membahagiakan” lebih banyak perempuan, atau sekadar memperbanyak korban dari kegagalanmu memahami cinta?

Karena cinta itu bukan menambah istri, tapi menambah tanggung jawab. Kalau kamu masih pakai kalimat “Saya nak Dewi, boleh?” sebagai pembuka, maka izinkan kami menjawab dengan santun, “Nak Dewi? Boleh. Tapi logika dan kewajibannya dulu ditunaikan, ya. Bukan ditukar dengan janji manis atas nama ilahi.”

Hadeh..! Ngopi lagi wak!

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
“Walid nak Dewi, Boleh?” - cd34353e 5c30 4100 8eb5 e8f722c93362 | # Ironi | Potret Online

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com