POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

“Walid nak Dewi, Boleh?”

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 18, 2025
in # Ironi, #Film Waled, Film, Perempuan, Ulasan Film
0
“Walid nak Dewi, Boleh?” - 66b6dfd0 86ef 45e4 aa87 3fbc98eee9d8 | # Ironi | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Ungkapan itu sedang viral, wak. Diambil dari serial film Bidaah, produksi negeri jiran. Ntah kenapa film itu menjadi terkenal? Mungkin ada kesamaan dengan fenomena di negeri kita. Mungkin? Yok, kita kupas tentu dengan kopi liberika.

Ketika logika sudah pensiun dini dan nafsu naik pangkat jadi ustaz, lahirlah tokoh ikonik bernama Walid Muhammad dari serial Bidaah, drama Malaysia yang baru-baru ini viral di TikTok. Ia bukan sekadar tokoh fiksi. Ia adalah simbol. Simbol bagaimana agama bisa dibengkokkan seperti sendok warung prasmanan, asal kuat niat, semua bisa dilenturkan.

Baca Juga
  • “Walid nak Dewi, Boleh?” - 935c28b0 b61d 4e0e a9a7 e06fb0709da3 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia
    23 Jan 2026
  • 02
    # Ironi
    HABA Si PATok
    15 Apr 2025

Dalam serial tersebut, Walid adalah pemimpin sekte bernama Jihad Ummah, kelompok keagamaan yang katanya membawa umat menuju Tuhan, tapi di tengah jalan malah singgah ke kamar Dewi. Dengan jubah putih dan kata-kata manis seperti sirup di bulan puasa, Walid merayu para pengikut perempuan lewat konsep “pernikahan batin.” Bukan batin karena sakral, tapi batin karena korban harus menahan sakit, malu, dan air mata.

Lalu, muncul adegan viral, “Saya nak Dewi, boleh?”

Baca Juga
  • “Walid nak Dewi, Boleh?” - 1001361361_11zon | # Ironi | Potret Online
    Perempuan
    Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal
    21 Apr 2026
  • “Walid nak Dewi, Boleh?” - 2025 05 31 07 23 54 | # Ironi | Potret Online
    # Book Opinion
    Batas Usia Dihapus, PHK Merajalela – Lowongannya Dimana?
    31 Mei 2025

Kalimat ini dilontarkan Walid saat ingin menjadikan Dewi, salah satu pengikutnya, sebagai istri spiritual. Sebuah kalimat yang lembut di telinga, tapi tajam di hati. Bukan sekadar rayuan, tapi manipulasi. Bukan cuma gombal, tapi penyalahgunaan kuasa. Ironisnya, alih-alih mengundang kemarahan, kalimat ini jadi bahan meme. Netizen tertawa, konten kreator berlomba-lomba bikin parodi, sementara pesan seriusnya tenggelam di laut lelucon.

Fenomena ini bukan sekadar tontonan. Ia cermin sosial yang memantulkan wajah para lelaki “suci-suci syariah” yang suka sekali bilang, “Menikah lagi itu sunnah.”

Baca Juga
  • Ilustrasi artikel
    # Ironi
    Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf
    27 Mar 2026
  • IMG_0698
    Perempuan
    Aceh: Negeri yang Tak Mengenal Emansipasi
    10 Mei 2026

Padahal mereka menafsirkan sunnah hanya di bagian nikahnya, lupa bahwa Nabi juga menyapu rumah dan menjahit baju sendiri.

Mereka berdalih ingin “menyelamatkan janda-janda malang” padahal yang malang justru istri pertama, kedua, dan ketiga, yang hidupnya berubah jadi episode telenovela penuh air mata dan biaya hidup.
Mereka bangga bisa berlaku “adil,” padahal adil mereka hanya soal jatah malam, bukan jatah susu anak. Istri pertama dapat cemburu, istri kedua dapat harapan, istri ketiga dapat giliran lebaran, dan istri keempat, kalau masih sanggup, dapat tagihan.

Drama Bidaah sebenarnya membawa pesan penting, betapa bahayanya bila agama diselewengkan oleh pemuka karismatik yang haus kuasa dan syahwat. Di balik setiap “Saya nak Dewi, boleh?” tersimpan ribuan kisah nyata tentang perempuan yang dimanfaatkan atas nama Tuhan. Namun masyarakat lebih suka tertawa dari berpikir. Lebih sibuk menghafal quote viral dari mencerna makna.

Kalau ente hari ini mengetik pesan kepada istri pertama dengan gaya Walid, berharap dia menjawab dengan ikhlas dan air mata tertahan, cobalah bercermin. Tanyakan, apakah kamu sungguh ingin “membahagiakan” lebih banyak perempuan, atau sekadar memperbanyak korban dari kegagalanmu memahami cinta?

Karena cinta itu bukan menambah istri, tapi menambah tanggung jawab. Kalau kamu masih pakai kalimat “Saya nak Dewi, boleh?” sebagai pembuka, maka izinkan kami menjawab dengan santun, “Nak Dewi? Boleh. Tapi logika dan kewajibannya dulu ditunaikan, ya. Bukan ditukar dengan janji manis atas nama ilahi.”

Hadeh..! Ngopi lagi wak!

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Krisis Literasi: Ratusan Siswa SMP Tidak Bisa Membaca

Next Post

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

Next Post
“Walid nak Dewi, Boleh?” - cd34353e 5c30 4100 8eb5 e8f722c93362 | # Ironi | Potret Online

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah