Dengarkan Artikel
Oleh Muslimin Lamongan
Marak di medsos seorang guru SD memberi tutorial cara menyeterika pakaian pada para siswanya. Kemudian para siswa mempraktikkannya. Hasilnya? Para netizen memuji sang guru tersebut. Dalam video tersebut tampak para siswa antusias melakukannya. Diiringi canda tawa, mereka menyeterika dengan gembira. Pakaian yang diseterika terlihat rapi. Hal yang sederhana, namun akan selalu dikenang para siswa. Membekas dan tersimpan, terwujud dalam perilaku rapi dan penuh tanggung jawab. Kelak mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat video itu, saya jadi teringat kenangan waktu kelas 6 SD. Tahun 1982, empat puluh tiga tahun yang lalu. Waktu ujian praktik keterampilan, yang pertama membuat vas bunga dari tampar plastik. Yang kedua, menyeterika baju dan celana dengan seterika arang. Waktu itu listrik belum terpasang. Sebelum praktik, ibu guru menjelaskan cara membuat vas bunga dan menyeterika pakaian. Tibalah saat praktik menyeterika. Bau arang yang membara segera menyergap hidung. Dengan cepat membuat panas seterika, cekatan kami melakukan tugas dengan gembira. Rupanya hasil seterikaan kami cukup baik, licin berbau eksotis. Terlihat ibu guru tersenyum senang melihatnya. Terbukti hingga sekarang, saya sering menyeterika pakaian sendiri, tidak membebani Mak. Sampai berkeluarga, bila istri sibuk, saya menyeterika sendiri dengan senang hati. Mencuci dan menyapu juga kegiatan yang sering saya lakukan. Kegiatan yang tampak sederhana, namun tidak merasa terbebani dan sedikit meringankan beban orang lain. Jadi, laki-laki yang menyeterika sendiri tidak akan jatuh gengsi atau rendah diri.
Saya kira, mengajarkan keterampilan keluarga pada anak-anak sejak dini adalah hal yang baik. Anak-anak perlu dibiasakan mengerjakan pekerjaan rumah secara mandiri. Menyapu, merapikan baju, menyeterika, diajak masak-memasak, adalah aktivitas yang bisa menjadi cara belajar pendewasaan. Juga sarana berlatih untuk kemandirian anak. Di samping orang tua, para guru seyogyanya mendidikkan keterampilan keluarga dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Meski hidup di era teknologi canggih, anak-anak perlu bekal keterampilan keluarga. Memang banyak pekerjaan rumah bisa diselesaikan dengan teknologi. Akan tetapi, sentuhan tangan terampil dan keceriaan rasa menjalani, menjadikan kehidupan keluarga semakin harmonis. Keutuhan keluarga bisa tercapai. Keluarga menjadi bahagia. Menjalar dalam seluruh wilayah bahkan sebangsa. Anak-anak yang biasa mandiri menjadi tangguh ketika menghadapi berbagai benturan kehidupan. Bayangkan jika generasi Indonesia bisa mandiri secara penuh, cita-cita bangsa yang mulia bisa terwujud segera. Amiiin……….
Lamongan, 15 April 2025
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





