POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan

RedaksiOleh Redaksi
April 16, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh : Ririe Aiko

“Dunia Medis Sedang Tidak Baik-Baik Saja bagi Perempuan”

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis kandungan (obgyn) di Garut kembali membuka luka lama: dunia medis belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi perempuan. Rumah sakit yang selama ini dianggap sebagai tempat menyelamatkan nyawa, tempat manusia berharap pulih dari sakit dan trauma, kini tercoreng oleh tindakan bejat oknum tenaga medis. Ironisnya, ini terjadi justru pada profesi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga kehormatan dan keselamatan pasien terutama perempuan.

Perempuan yang menjalani pemeriksaan kandungan kerap datang dengan kerentanan yang tak main-main: tubuhnya diperiksa, ruang pribadinya terbuka, dan kepercayaannya penuh diberikan pada seorang tenaga medis. Namun ketika ruang medis yang harusnya steril dari niat buruk justru menjadi panggung kejahatan seksual, kita patut bertanya: bagaimana sistem perlindungan terhadap pasien perempuan bisa sebegitu rapuhnya?

Kasus di Garut bukanlah yang pertama. Tapi mungkin inilah salah satu yang menunjukkan bahwa perempuan kini mulai berani bersuara. Media sosial, forum-forum komunitas, dan bahkan layanan aduan menjadi tempat para korban mulai speak up, menceritakan pengalaman traumatis mereka di ruang yang dulu mereka kira aman. Ini adalah pertanda penting, bahwa budaya diam dan menormalisasi pelecehan di dunia medis mulai dilawan.

📚 Artikel Terkait

Aku Berhenti Bekerja

Tangan-Tangan Gelap dan Keserakahan yang Menjamur: Korupsi

Aceh di Persimpangan Kuasa Global

Kopi Mawar

Namun pertanyaannya, cukupkah keberanian korban bersuara jika sistem dan budaya kerja di dunia medis masih membiarkan kekosongan pengawasan? Masih banyak rumah sakit atau klinik yang tidak menyediakan sistem pendampingan ketika pasien perempuan menjalani pemeriksaan sensitif. Dalam banyak kasus, perempuan datang sendiri, diperiksa di ruang tertutup tanpa saksi, dan akhirnya tak berdaya saat menjadi korban pelecehan.

Sudah saatnya dunia medis menyadari bahwa pelayanan kesehatan tidak bisa semata soal keterampilan medis, tapi juga soal etika dan perlindungan hak asasi pasien. Setiap pemeriksaan fisik terhadap pasien perempuan, terutama yang menyangkut area sensitif, harus memiliki protokol keamanan yang ketat. Kehadiran perawat pendamping saat pemeriksaan, kamera pengawas di titik-titik tertentu, hingga pelatihan etika profesi yang serius harus menjadi standar baru dalam sistem kesehatan kita.

Di sisi lain, perlu ada keberpihakan nyata dari pihak rumah sakit dan organisasi profesi untuk memberi dukungan kepada korban. Selama ini, banyak korban yang justru merasa disalahkan, dicurigai, bahkan dituduh merusak nama baik institusi medis. Pendekatan seperti ini hanya akan membuat korban semakin enggan melapor, dan membuat pelaku merasa kebal hukum.

Negara pun tak bisa tinggal diam. Pemerintah perlu memastikan bahwa regulasi tentang perlindungan pasien tidak hanya berhenti di atas kertas. Pengawasan internal harus diperkuat, saluran aduan harus dibuat ramah korban, dan sanksi terhadap tenaga medis yang terbukti melakukan pelecehan harus tegas dan terbuka. Dunia medis harus bersih dari pelaku predator, dan satu-satunya cara mewujudkan itu adalah dengan menempatkan keselamatan pasien, terutama perempuan sebagai prioritas utama.

Perempuan berhak mendapat pelayanan medis yang aman, bermartabat, dan penuh empati. Rumah sakit seharusnya menjadi ruang penyembuhan, bukan medan ketakutan. Jika dunia medis ingin kembali dipercaya, maka pembersihan dari dalam adalah keharusan. Kepercayaan yang rusak hanya bisa dibangun kembali melalui tindakan nyata, bukan sekadar permintaan maaf atau klarifikasi. Saatnya kita serius mengawal hak-hak pasien perempuan, sebelum makin banyak nyawa dan martabat yang dikorbankan oleh kelalaian sistem dan kejahatan oknum. Dunia medis memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi perubahan bisa dimulai hari ini, jika kita memilih untuk berpihak pada korban dan tidak lagi menutup mata.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Mengenal Petinggi Wilmar Group Penyuap Tiga Hakim 60M

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00