• Latest
Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan - IMG 20250416 WA0004 | # Ironi | Potret Online

Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan

April 16, 2025
651a665d-a972-4237-889b-3f896bd0ff78

Komitmen dan Konsistensi Sebagai Penakar Etika, Moral dan Akhlak Mulia Yang bersifat Ilahiyah

April 12, 2026
1ac9c27f-7427-4c6a-b3f3-76cd09bc22ae

Selangkangan Borjuis

April 12, 2026
dc7b6933-d445-40b2-9886-71a08edbedd9

Menghalau Petaka Intelektual: Refleksi Sains dan Iman ala Al-Ghazali.

April 12, 2026
IMG_0751

Macet Menulis? Jangan Paksa! Lakukan Ini Saja (Resep dari Larry L. King)

April 12, 2026
de17d6a0-a45b-4472-ab39-12da2eea3a53

Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

April 12, 2026
ilustrasi stereotip budaya komunikasi Aceh

Benarkah Orang Aceh Kasar? Tinjauan Psikologi dan Budaya

April 12, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Antara Efek Jera dan Keadilan

April 12, 2026
Illegal mining and corruption in Indonesia

Tambang Ilegal dan Absennya Negara

April 12, 2026
  • #22859 (tanpa judul)
  • Al-Qur’an
  • Disclaimer
  • Home
  • Kirim Naskah
  • Penulis
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • ToS
Senin, April 13, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan - IMG 20250416 WA0004 | # Ironi | Potret Online

Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan

Redaksi by Redaksi
April 16, 2025
in # Ironi, # Penyakit, #Tenaga Medis, Bau Busuk, Kekerasan Seksual, Perempuan
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh : Ririe Aiko

“Dunia Medis Sedang Tidak Baik-Baik Saja bagi Perempuan”

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis kandungan (obgyn) di Garut kembali membuka luka lama: dunia medis belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi perempuan. Rumah sakit yang selama ini dianggap sebagai tempat menyelamatkan nyawa, tempat manusia berharap pulih dari sakit dan trauma, kini tercoreng oleh tindakan bejat oknum tenaga medis. Ironisnya, ini terjadi justru pada profesi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga kehormatan dan keselamatan pasien terutama perempuan.

🔥 Artikel Terkait
Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren - 2025 06 22 17 27 47 | #Kriminal | Potret Online 1
Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren
Juni 22, 2025
2
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
Juli 14, 2025
3
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
Agustus 24, 2025
Menjadi Ratu di Hati Rakyat - ed514dd5 7d3c 4994 81e3 f65bbaa6b8da | Esai | Potret Online 4
Menjadi Ratu di Hati Rakyat
Februari 24, 2026

Perempuan yang menjalani pemeriksaan kandungan kerap datang dengan kerentanan yang tak main-main: tubuhnya diperiksa, ruang pribadinya terbuka, dan kepercayaannya penuh diberikan pada seorang tenaga medis. Namun ketika ruang medis yang harusnya steril dari niat buruk justru menjadi panggung kejahatan seksual, kita patut bertanya: bagaimana sistem perlindungan terhadap pasien perempuan bisa sebegitu rapuhnya?

Kasus di Garut bukanlah yang pertama. Tapi mungkin inilah salah satu yang menunjukkan bahwa perempuan kini mulai berani bersuara. Media sosial, forum-forum komunitas, dan bahkan layanan aduan menjadi tempat para korban mulai speak up, menceritakan pengalaman traumatis mereka di ruang yang dulu mereka kira aman. Ini adalah pertanda penting, bahwa budaya diam dan menormalisasi pelecehan di dunia medis mulai dilawan.

Namun pertanyaannya, cukupkah keberanian korban bersuara jika sistem dan budaya kerja di dunia medis masih membiarkan kekosongan pengawasan? Masih banyak rumah sakit atau klinik yang tidak menyediakan sistem pendampingan ketika pasien perempuan menjalani pemeriksaan sensitif. Dalam banyak kasus, perempuan datang sendiri, diperiksa di ruang tertutup tanpa saksi, dan akhirnya tak berdaya saat menjadi korban pelecehan.

Sudah saatnya dunia medis menyadari bahwa pelayanan kesehatan tidak bisa semata soal keterampilan medis, tapi juga soal etika dan perlindungan hak asasi pasien. Setiap pemeriksaan fisik terhadap pasien perempuan, terutama yang menyangkut area sensitif, harus memiliki protokol keamanan yang ketat. Kehadiran perawat pendamping saat pemeriksaan, kamera pengawas di titik-titik tertentu, hingga pelatihan etika profesi yang serius harus menjadi standar baru dalam sistem kesehatan kita.

🔥 Artikel Terkait
Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren - 2025 06 22 17 27 47 | #Kriminal | Potret Online 1
Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren
Juni 22, 2025
2
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
Juli 14, 2025
3
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
Agustus 24, 2025
Menjadi Ratu di Hati Rakyat - ed514dd5 7d3c 4994 81e3 f65bbaa6b8da | Esai | Potret Online 4
Menjadi Ratu di Hati Rakyat
Februari 24, 2026

Di sisi lain, perlu ada keberpihakan nyata dari pihak rumah sakit dan organisasi profesi untuk memberi dukungan kepada korban. Selama ini, banyak korban yang justru merasa disalahkan, dicurigai, bahkan dituduh merusak nama baik institusi medis. Pendekatan seperti ini hanya akan membuat korban semakin enggan melapor, dan membuat pelaku merasa kebal hukum.

Negara pun tak bisa tinggal diam. Pemerintah perlu memastikan bahwa regulasi tentang perlindungan pasien tidak hanya berhenti di atas kertas. Pengawasan internal harus diperkuat, saluran aduan harus dibuat ramah korban, dan sanksi terhadap tenaga medis yang terbukti melakukan pelecehan harus tegas dan terbuka. Dunia medis harus bersih dari pelaku predator, dan satu-satunya cara mewujudkan itu adalah dengan menempatkan keselamatan pasien, terutama perempuan sebagai prioritas utama.

Perempuan berhak mendapat pelayanan medis yang aman, bermartabat, dan penuh empati. Rumah sakit seharusnya menjadi ruang penyembuhan, bukan medan ketakutan. Jika dunia medis ingin kembali dipercaya, maka pembersihan dari dalam adalah keharusan. Kepercayaan yang rusak hanya bisa dibangun kembali melalui tindakan nyata, bukan sekadar permintaan maaf atau klarifikasi. Saatnya kita serius mengawal hak-hak pasien perempuan, sebelum makin banyak nyawa dan martabat yang dikorbankan oleh kelalaian sistem dan kejahatan oknum. Dunia medis memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi perubahan bisa dimulai hari ini, jika kita memilih untuk berpihak pada korban dan tidak lagi menutup mata.

Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan - 202504160819 main.cropped_1744766404 | # Ironi | Potret Online

Mengenal Petinggi Wilmar Group Penyuap Tiga Hakim 60M

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com