POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Donald Trump & Pujangga Pantat Naga

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
April 15, 2025
Donald Trump & Pujangga Pantat Naga
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Sebanyak 75 negara wajahnya sudah ditempeleng oleh Donald Trump. Bahkan, negara itu sudah mencium “pantat”nya. Kecuali, China. Wajahnya memang sempat ditempeleng. Bolak-balik malah. Tapi, bergeming. Justru malah menempeleng balik, Trump pun KO. Sekarang ia sedang menjilat ludahnya sendiri atas negeri panda.

Ketika perang dagang diluncurkan oleh sang maestro tarif impor, ia berkata lantang di depan mikrofon dan kerumunan, “China akan membayar harga!”

Kenyataannya, tak seindah drama KOVO Korea. Apa yang dibayarkan oleh China? Hanya secuil PR effort untuk menyembunyikan senyum licik saat mereka menikmati mie panas buatan lokal, tak terganggu oleh iPhone dengan tarif 20% yang kini lebih mahal dari harga jujur di kampus Ivy League.

Sementara itu, Trump, si rambut jagung, berlutut dalam diplomasi dan mengeluarkan kebijakan yang lebih fleksibel dari odol di bawah panas matahari. Ia menghapus sementara tarif untuk laptop, semikonduktor, dan smartphone. Alasan? Tentu saja bukan karena cinta damai, melainkan karena rakyatnya mulai bertanya kenapa harga headphone naik seperti harga rumah di San Francisco. China tersenyum. Negeri kekuasaan Xi Jinping malah tertawa ngakak melihat dalam negeri Paman Sam.

Di Washington, drum perang berbunyi bukan dari luar, tapi dari dalam dinding Capitol. Al Green, sang pendekar Demokrat, mengacungkan pedang pemakzulan yang ketiga, berharap bisa menebas bayangan si rambut jagung yang tak pernah hilang dari kursi kekuasaan. Namun, ini Amerika, tuan. Di mana logika adalah badut pesta, dan mayoritas Senat lebih setia pada cuitan Twitter dari konstitusi.

📚 Artikel Terkait

Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum

Indonesia Bukan Negara

TikTok Jadi Guru Belajar?

WALHI Aceh Desak Pemerintah Bekukan Izin PT Medco E&P Malaka

Meski telah dua kali dimakzulkan seperti kaset rusak yang diputar ulang, Trump selalu bangkit seperti hantu penasaran di rumah tua Partai Republik.

Rakyat turun ke jalan. Mereka bernyanyi, menjerit, melolong. Bukan karena mabuk kemenangan, tapi mabuk kenyataan. Di 1.400 lokasi, dari Alaska hingga Miami, mereka menggenggam poster bertuliskan, “Jangan sentuh Medicare-ku, tapi tolong sentuh nurani presidenmu!”

Gerakan “50501” adalah puisi kolektif, di mana 50 negara bagian bersenandung dalam nada minor. Sedangkan “Hands Off!” adalah opera tragikomedi, di mana rakyat menyadari bahwa tangan Trump tak hanya memegang pena veto, tapi juga masa depan sosial mereka, dan, dalam beberapa kasus, kantong uang federal.

Trump kini berjalan pelan di lorong kenangan, menatap pantulan dirinya dalam cermin yang retak oleh kebohongan masa lalu. Ia menjilat ludah yang pernah ia tumpahkan, ludah berisi janji perang, ludah berisi retorika nasionalis murahan, ludah yang kini terasa asin karena air mata inflasi dan tarif impor.

Dan China? Ia duduk di atas singgasananya, mengisap teh, sambil berkata pelan, “Biarkan naga tidur. Tapi kalau dibangunkan, dia tidak hanya membakar. Ia membuatmu jatuh cinta, lalu menjadikanmu budaknya.”

Perang dagang ini bukanlah perang, melainkan pertunjukan boneka di mana satu pihak membawa bom nuklir, dan yang lain membawa kupon diskon dari Alibaba. Dalam dunia yang sudah gila ini, bisa ngopi adalah satu-satunya kewarasan terakhir.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
MASELA, HARAPAN YANG TAK LAGI TERAPUNG

MASELA, HARAPAN YANG TAK LAGI TERAPUNG

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00