POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Lagu Terakhir Titiek Puspa

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
April 10, 2025
Lagu Terakhir Titiek Puspa
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Sore itu, langit Jakarta terasa berat. Pukul 16.25 WIB, Kamis 10 April 2025, waktu seperti berhenti. Sunyi menjadi satu-satunya bahasa. Di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, Hj. Titiek Puspa, perempuan yang telah menaburkan cahaya dalam ribuan bait lagu bangsa, mengembuskan napas terakhirnya. Dalam damai. Dalam tenang. Dalam cinta yang tak sempat terucap seluruhnya.

Putrinya, Petty Tunjungsari, berdiri menggenggam naskah duka yang tak pernah siap dibacakan. Dengan suara pecah dan mata yang menyimpan laut kesedihan, ia berkata, “Telah wafat ibu kami, eyang, mertua, Hj. Titiek Puspa… hari ini… pukul 16.25… dengan tenang dan damai…”

Berita itu menyayat. Bukan hanya bagi keluarga. Tapi bagi jutaan hati yang tumbuh bersama lagu-lagu Titiek. Ia bukan sekadar penyanyi. Ia adalah nyawa yang hidup dalam setiap melodi Indonesia. Ia adalah penyair yang membuat air mata tak malu jatuh. Ia adalah Ibu.

Sebelum kepergiannya, Titiek sempat pingsan usai menyelesaikan syuting tiga episode program Lapor Pak! di Trans 7 pada 26 Maret. Ya, di usia 87 tahun, ia masih bekerja. Masih berdiri. Masih tersenyum di depan kamera. Satu babak terakhir dari kisah agung seorang seniman yang tak pernah berhenti mencintai panggungnya.

Dua hari sebelum itu, ia terlihat sehat. Hadir dalam acara sosial, bercengkerama dengan anak yatim, menyapa dengan tawa, berbicara tanpa cela. Siapa sangka tubuhnya tengah menyimpan bahaya? Mungkin, seperti kata Petty, ia lupa minum obat tekanan darah tinggi. Atau mungkin, seperti semua legenda, ia terlalu sibuk dengan mimpi-mimpinya.

Dokter menemukan pendarahan otak di sisi kiri kepalanya. Operasi dilakukan. Tiga hari pertama berjalan baik. Ada harapan. Tapi waktu punya caranya sendiri untuk mengajar kita pasrah. Hari demi hari, ia berbaring di ICU. Tanpa kunjungan. Tanpa keramaian. Hanya dijaga cinta, dan harapan yang perlahan merapuh.

📚 Artikel Terkait

Inlander Modern: Bencana, Kekuasaan, dan Amnesia Post-Kolonialisme

Sisi Gelap Belajar di Era Digital – Ulasan Artikel

YUK JADI PENGUSAHA SAJA

Belajar Hidup dari Harimau

Ketika napas terakhirnya berhenti, dunia menjadi lebih sepi. Seolah sebuah suara agung yang biasa mengisi senyap malam telah lenyap. Tak ada suara emas itu lagi. Tak ada tangan yang menulis lirik kehidupan dengan kelembutan. Tak ada lagi tawa khasnya yang menular. Yang tersisa kini hanyalah gema dan duka.

Jenazah disemayamkan di Wisma Puspa, rumah yang menyimpan ribuan kenangan, ratusan lagu, dan satu kehidupan yang sepenuhnya diberikan pada bangsa. Di sana, bunga-bunga duka diletakkan dengan tangan gemetar. Di sana, kenangan datang sebagai tamu paling setia.

Orang-orang berkumpul. Beberapa terisak pelan, yang lain menangis dalam diam. Seorang anak kecil bertanya siapa gerangan yang tidur dalam peti itu. Ibunya menjawab, “Itu orang yang menulis lagu tentang cinta dan harapan.” Tapi ia tak berkata bahwa yang sedang mereka tangisi adalah cahaya yang kini padam.

Apa yang ditinggalkan Titiek Puspa lebih dari lagu. Ia meninggalkan keteladanan. Ketangguhan. Ketulusan. Dalam 67 tahun berkarya, ia tidak pernah hanya bernyanyi, ia menghidupkan. Ia tidak hanya mencipta, ia menyentuh jiwa.

Kini, Indonesia berdiri dalam senyap. Menatap ke langit, dan mencari suara itu. Suara yang dulu menghibur saat sedih, memeluk saat sendiri. Suara yang kini hanya bisa dikenang.

Selamat jalan, Ibu Titiek Puspa.
Engkau telah menutup buku yang paling indah.
Tapi setiap halamannya akan kami baca selamanya.
Kami menangis. Bukan karena kau pergi.
Tapi karena kau telah begitu indah hadir dalam hidup kami.

Dan lagu terakhir itu…
adalah kepergianmu.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00