• Latest

Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex

Maret 2, 2025
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex - IMG_9514 | #Nasib Buruh | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 2, 2025
in #Nasib Buruh, #Sritek, Ekonomi, Essay
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Hari itu, 1 Maret 2025. Langit mendung menggantung di atas pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah. Tidak ada lagi suara mesin jahit. Tidak ada lagi langkah tergesa pekerja yang bergegas ke lini produksi. Hanya ada ribuan manusia yang berdiri, menangis, dan menatap kosong ke arah bangunan megah yang telah menjadi rumah mereka selama puluhan tahun.

Di depan gerbang, pemilik Sritex berdiri. Mikrofon di genggamannya bergetar. Ia menarik napas dalam, menahan emosi yang hampir pecah. Dengan suara berat, ia mulai menyanyikan lagu perpisahan. Suaranya lirih, bergetar. Namun tak butuh waktu lama, ribuan suara mengiringinya. Lagu itu berubah menjadi tangisan kolektif. Tangisan yang lahir dari kehilangan.

Hari itu, Sritex resmi tutup. Raksasa tekstil yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia, yang pernah memasok seragam militer untuk NATO dan pakaian merek dunia seperti H&M, akhirnya tumbang.

Sritex bukan sekadar pabrik. Bagi lebih dari 10.000 pekerjanya, ini adalah hidup mereka. Tempat mereka menghabiskan puluhan tahun bekerja, membangun rumah tangga, membesarkan anak-anak. Sekarang? Semua itu hancur.

Ketika pandemi COVID-19 melanda, Sritex mulai goyah. Permintaan global anjlok. Pesaing dari luar negeri masuk dengan harga lebih murah. Hutang menumpuk. Hingga akhirnya, pada Oktober 2024, Pengadilan Negeri Niaga Semarang menjatuhkan palu: pailit.

Sritex mencoba melawan. Mereka mengajukan kasasi, berharap ada jalan keluar. Namun kenyataan berbicara lain. Kreditur menuntut pembayaran. Produksi makin lesu. Di awal 2025, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menyerah.

Di tengah gelombang PHK massal, ada satu janji yang terus terngiang di benak para buruh. Janji dari Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, yang akrab disapa Noel.

“Saya lebih baik kehilangan jabatan saya daripada harus melihat kawan-kawan buruh dipecat.”

Ucapan itu keluar dari mulutnya saat berkunjung ke pabrik Sritex pada 15 November 2024. Saat itu, ia berjanji pemerintah akan berjuang. Bahwa mereka tidak akan membiarkan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian.

Namun kini? Pemerintah angkat tangan. Tak ada bailout, tak ada penyelamatan. Semua yang pernah dijanjikan hanya tinggal kata-kata yang tersapu angin.

Salah satu mantan pekerja, Sutarmi (52 tahun), menangis saat diwawancarai.

“Saya kerja di sini dari umur 20, Pak. Sekarang saya harus apa? Usia saya sudah tua, siapa yang mau terima saya?”

Ratusan pekerja lain bernasib sama. Mereka bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan harapan.

Sebagai pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara, Sritex pernah berjaya. Memiliki lebih dari 50.000 karyawan, mengirim produknya ke lebih dari 100 negara, dengan omzet triliunan rupiah.

Namun hari ini, semua tinggal kenangan.

Di dalam pabrik, mesin-mesin jahit berdiri kaku. Kain-kain yang dulu ditenun dengan harapan kini hanya menjadi sisa-sisa kegagalan. Lorong-lorong yang dulu dipenuhi suara pekerja kini sunyi.

Sritex, yang namanya berarti Sri Rejeki Isman, kini kehilangan rejekinya sendiri. Di depan gerbang, di bawah langit yang mendung, ribuan pekerja menatap kosong. Mereka bertanya dalam hati, habis ini, ke mana kami harus melangkah?

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex - 1000387713 | #Nasib Buruh | Potret Online

Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com