POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Nasib Buruh

Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 2, 2025
in #Nasib Buruh, #Sritek, Ekonomi, Essay
0

Oleh Rosadi Jamani

Hari itu, 1 Maret 2025. Langit mendung menggantung di atas pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah. Tidak ada lagi suara mesin jahit. Tidak ada lagi langkah tergesa pekerja yang bergegas ke lini produksi. Hanya ada ribuan manusia yang berdiri, menangis, dan menatap kosong ke arah bangunan megah yang telah menjadi rumah mereka selama puluhan tahun.

Di depan gerbang, pemilik Sritex berdiri. Mikrofon di genggamannya bergetar. Ia menarik napas dalam, menahan emosi yang hampir pecah. Dengan suara berat, ia mulai menyanyikan lagu perpisahan. Suaranya lirih, bergetar. Namun tak butuh waktu lama, ribuan suara mengiringinya. Lagu itu berubah menjadi tangisan kolektif. Tangisan yang lahir dari kehilangan.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    Seni Konseling
    18 Jul 2021
  • 02
    Banda Aceh
    Mahasiswa Berpangkat Wirausaha
    02 Nov 2017

Hari itu, Sritex resmi tutup. Raksasa tekstil yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia, yang pernah memasok seragam militer untuk NATO dan pakaian merek dunia seperti H&M, akhirnya tumbang.

Sritex bukan sekadar pabrik. Bagi lebih dari 10.000 pekerjanya, ini adalah hidup mereka. Tempat mereka menghabiskan puluhan tahun bekerja, membangun rumah tangga, membesarkan anak-anak. Sekarang? Semua itu hancur.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    Petualangan
    03 Des 2021
  • 02
    Bingkai Utama
    Menjual Jasa
    08 Apr 2021

Ketika pandemi COVID-19 melanda, Sritex mulai goyah. Permintaan global anjlok. Pesaing dari luar negeri masuk dengan harga lebih murah. Hutang menumpuk. Hingga akhirnya, pada Oktober 2024, Pengadilan Negeri Niaga Semarang menjatuhkan palu: pailit.

Sritex mencoba melawan. Mereka mengajukan kasasi, berharap ada jalan keluar. Namun kenyataan berbicara lain. Kreditur menuntut pembayaran. Produksi makin lesu. Di awal 2025, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menyerah.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    5 Alasan Pentingnya Menjaga Rekomendasi
    01 Des 2021
  • Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex - 4f627a03 a45d 4a59 ba06 6f915580a763 | #Nasib Buruh | Potret Online
    Artikel
    ALAS KEMLAGI 2
    16 Jun 2025

Di tengah gelombang PHK massal, ada satu janji yang terus terngiang di benak para buruh. Janji dari Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, yang akrab disapa Noel.

“Saya lebih baik kehilangan jabatan saya daripada harus melihat kawan-kawan buruh dipecat.”

Ucapan itu keluar dari mulutnya saat berkunjung ke pabrik Sritex pada 15 November 2024. Saat itu, ia berjanji pemerintah akan berjuang. Bahwa mereka tidak akan membiarkan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian.

Namun kini? Pemerintah angkat tangan. Tak ada bailout, tak ada penyelamatan. Semua yang pernah dijanjikan hanya tinggal kata-kata yang tersapu angin.

Salah satu mantan pekerja, Sutarmi (52 tahun), menangis saat diwawancarai.

“Saya kerja di sini dari umur 20, Pak. Sekarang saya harus apa? Usia saya sudah tua, siapa yang mau terima saya?”

Ratusan pekerja lain bernasib sama. Mereka bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan harapan.

Sebagai pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara, Sritex pernah berjaya. Memiliki lebih dari 50.000 karyawan, mengirim produknya ke lebih dari 100 negara, dengan omzet triliunan rupiah.

Namun hari ini, semua tinggal kenangan.

Di dalam pabrik, mesin-mesin jahit berdiri kaku. Kain-kain yang dulu ditenun dengan harapan kini hanya menjadi sisa-sisa kegagalan. Lorong-lorong yang dulu dipenuhi suara pekerja kini sunyi.

Sritex, yang namanya berarti Sri Rejeki Isman, kini kehilangan rejekinya sendiri. Di depan gerbang, di bawah langit yang mendung, ribuan pekerja menatap kosong. Mereka bertanya dalam hati, habis ini, ke mana kami harus melangkah?

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Puisi-Puisi Ramadan Moh. Ghufron Cholid

Next Post

Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

Next Post
Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex - 1000387713 | #Nasib Buruh | Potret Online

Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah