• Latest
Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes - 1000387713 | Perempuan | Potret Online

Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

Maret 2, 2025
Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes - 1001377472_11zon 1 | Perempuan | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes - IMG_9514 | Perempuan | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (12)

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 2, 2025
in Perempuan, POTRET Budaya, Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes - 1000387713 | Perempuan | Potret Online

Ilustrasi dari AI

585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah


Pada periode 1880-1962, Risadju menjadi anggota Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) cabang Parepare. Selama itu juga ia dengan giat menyebarkan propaganda tentang Islam. [1]


Di tanah yang dilukis oleh gelombang,
berdiri seorang perempuan dengan tekad membaja.
Bukan sekadar ibu, bukan sekadar istri,
melainkan nyala yang tak padam diterpa angin penjajahan.

Darah Bugis mengalir di nadinya,
seperti laut yang tak mengenal takut.
Dari kecil, ia diajarkan menolak tunduk,
sebab kehormatan adalah napas bagi yang merdeka.

“Jangan kau kira aku rapuh,
Jangan kau sangka aku gentar!
Aku adalah ombak yang tak pernah letih menghantam,
Aku adalah api yang membakar rantai penjajahan!”

-000-

Matahari menyapu pesisir tanah Sulawesi,
menyoroti wajah yang tak pernah gentar.
Opu Daeng Risadju, perempuan Bugis,
bukan sekadar nama, tapi keberanian yang menjelma tubuh.

Di saat lelaki ragu menantang kolonial,
Ia mengangkat suara, lantang dan tajam.
Di lorong-lorong kota hingga pelosok desa,
namanya dibisikkan, menjadi semangat yang menjalar.

“Bangkitlah, wahai anak-anak Celebes,
Laut kita luas, tanah kita subur,
Jangan biarkan mereka merampasnya!
Jangan biarkan kita menjadi budak di tanah sendiri!”

-000-

Perlawanan punya harga,
dan penjajah tak suka kata merdeka.
Opu Daeng Risadju ditangkap,
karena suaranya lebih tajam dari tombak, lebih kuat dari mesiu.

Di pengadilan, ia berdiri tegak,
tangan boleh terbelenggu, tapi hati tetap bebas.
Mereka menawarkannya tunduk,
namun jawabnya adalah tawa yang mencemooh.

“Bisa kau rantai tubuhku,
Bisa kau siksa ragaku,
Tapi kau takkan membungkam jiwaku,
Sebab aku adalah perlawanan itu sendiri!”

-000-

Ia menua dalam pengasingan,
tulangnya mungkin rapuh, tapi semangatnya tetap menyala.
Ia tahu, kemenangan bukan soal esok atau lusa,
tapi soal tak pernah menyerah pada penjajah.

Saat kemerdekaan akhirnya tiba,
namanya mungkin tak sebesar para pria,
tapi tanpa nyalinya, tanpa suaranya,
sejarah takkan mencatat kisah yang sama.

Kini, di angin yang berhembus dari laut Celebes,
masih terdengar bisikan perjuangannya.
Di tiap ombak yang menghempas pantai,
masih ada nyalanya yang tak pernah padam.

“Jangan biarkan negeri ini kehilangan nyalinya,
Jangan biarkan perjuangan ini menjadi sia-sia!
Selama ada yang melawan ketidakadilan,
Aku, Opu Daeng Risadju, tetap hidup!”


Rumah Kayu Cepu, 24 Februari 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini disinspirasi dari kisah Opu Daeng Risadju. Meski sudah usia nenek, Opu Daeng Risadju dari Tanah Luwu berani menanggung siksaan NICA demi mengamalkan ‘amar ma’ruf nahi munkar’. https://tirto.id/opu-daeng-risadju-menentang-kolonialisme-di-usia-senja-cH4P

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes - e76c585c b71b 4151 b1cc 946d87a33a66 | Perempuan | Potret Online

Meraih Rahmat Allah SWT di Bulan Ramadan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com