• Latest
Lagu Terakhir Titiek Puspa - a85ca395 879d 4a1f 8c24 11e13d582292 | #Titik Puspa | Potret Online

Lagu Terakhir Titiek Puspa

April 10, 2025
de887664-5703-4ea3-b536-ece938504d8e

Ketika Guru Berburu Strata Satu

April 26, 2026
e5ef4f0f-4018-4231-bfbb-ab42178abcb1

Analisis Teo-Linguistik Basmalah: Menyelami Makna di Balik Kalimat Pembuka

April 26, 2026
484fb5d8-2b3d-44a3-ac13-b76c0cc48256

Keluarga Sehat: Peran Keluarga “Cemara” dalam Pembentukan Lingkungan Bahagia Anak  

April 26, 2026
IMG_0518

Aceh Pasca Damai: Dari Elite Proyek ke Peradaban Produksi

April 26, 2026
2efb1544-87c2-4240-9b08-9f0077e6d3f3

Keucik Rusli Amani

April 26, 2026
3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109

Bertahan Hidup di Kawasan Bekas Bencana Hidrometeorologi di Aceh dan Akibatnya

April 25, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Iqra’ Sebagai Fondasi Epistemologis Islam

April 25, 2026
Ilustrasi dampak media sosial terhadap prasangka dan hate speech di masyarakat

Pemenang Lomba Menulis Maret 2026

April 25, 2026
Minggu, April 26, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Lagu Terakhir Titiek Puspa

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 10, 2025
in #Titik Puspa
Reading Time: 3 mins read
0
Lagu Terakhir Titiek Puspa - a85ca395 879d 4a1f 8c24 11e13d582292 | #Titik Puspa | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Sore itu, langit Jakarta terasa berat. Pukul 16.25 WIB, Kamis 10 April 2025, waktu seperti berhenti. Sunyi menjadi satu-satunya bahasa. Di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, Hj. Titiek Puspa, perempuan yang telah menaburkan cahaya dalam ribuan bait lagu bangsa, mengembuskan napas terakhirnya. Dalam damai. Dalam tenang. Dalam cinta yang tak sempat terucap seluruhnya.

Putrinya, Petty Tunjungsari, berdiri menggenggam naskah duka yang tak pernah siap dibacakan. Dengan suara pecah dan mata yang menyimpan laut kesedihan, ia berkata, “Telah wafat ibu kami, eyang, mertua, Hj. Titiek Puspa… hari ini… pukul 16.25… dengan tenang dan damai…”

Berita itu menyayat. Bukan hanya bagi keluarga. Tapi bagi jutaan hati yang tumbuh bersama lagu-lagu Titiek. Ia bukan sekadar penyanyi. Ia adalah nyawa yang hidup dalam setiap melodi Indonesia. Ia adalah penyair yang membuat air mata tak malu jatuh. Ia adalah Ibu.

Sebelum kepergiannya, Titiek sempat pingsan usai menyelesaikan syuting tiga episode program Lapor Pak! di Trans 7 pada 26 Maret. Ya, di usia 87 tahun, ia masih bekerja. Masih berdiri. Masih tersenyum di depan kamera. Satu babak terakhir dari kisah agung seorang seniman yang tak pernah berhenti mencintai panggungnya.

Dua hari sebelum itu, ia terlihat sehat. Hadir dalam acara sosial, bercengkerama dengan anak yatim, menyapa dengan tawa, berbicara tanpa cela. Siapa sangka tubuhnya tengah menyimpan bahaya? Mungkin, seperti kata Petty, ia lupa minum obat tekanan darah tinggi. Atau mungkin, seperti semua legenda, ia terlalu sibuk dengan mimpi-mimpinya.

Dokter menemukan pendarahan otak di sisi kiri kepalanya. Operasi dilakukan. Tiga hari pertama berjalan baik. Ada harapan. Tapi waktu punya caranya sendiri untuk mengajar kita pasrah. Hari demi hari, ia berbaring di ICU. Tanpa kunjungan. Tanpa keramaian. Hanya dijaga cinta, dan harapan yang perlahan merapuh.

Ketika napas terakhirnya berhenti, dunia menjadi lebih sepi. Seolah sebuah suara agung yang biasa mengisi senyap malam telah lenyap. Tak ada suara emas itu lagi. Tak ada tangan yang menulis lirik kehidupan dengan kelembutan. Tak ada lagi tawa khasnya yang menular. Yang tersisa kini hanyalah gema dan duka.

Jenazah disemayamkan di Wisma Puspa, rumah yang menyimpan ribuan kenangan, ratusan lagu, dan satu kehidupan yang sepenuhnya diberikan pada bangsa. Di sana, bunga-bunga duka diletakkan dengan tangan gemetar. Di sana, kenangan datang sebagai tamu paling setia.

Orang-orang berkumpul. Beberapa terisak pelan, yang lain menangis dalam diam. Seorang anak kecil bertanya siapa gerangan yang tidur dalam peti itu. Ibunya menjawab, “Itu orang yang menulis lagu tentang cinta dan harapan.” Tapi ia tak berkata bahwa yang sedang mereka tangisi adalah cahaya yang kini padam.

Apa yang ditinggalkan Titiek Puspa lebih dari lagu. Ia meninggalkan keteladanan. Ketangguhan. Ketulusan. Dalam 67 tahun berkarya, ia tidak pernah hanya bernyanyi, ia menghidupkan. Ia tidak hanya mencipta, ia menyentuh jiwa.

Kini, Indonesia berdiri dalam senyap. Menatap ke langit, dan mencari suara itu. Suara yang dulu menghibur saat sedih, memeluk saat sendiri. Suara yang kini hanya bisa dikenang.

Selamat jalan, Ibu Titiek Puspa.
Engkau telah menutup buku yang paling indah.
Tapi setiap halamannya akan kami baca selamanya.
Kami menangis. Bukan karena kau pergi.
Tapi karena kau telah begitu indah hadir dalam hidup kami.

Dan lagu terakhir itu…
adalah kepergianmu.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com