Dengarkan Artikel
Ujian Nasional
hari ini
kami belajar menghafal
nama-nama
yang hilang di peta
kemarin
kami belajar menulis
huruf-huruf mati
di atas tanah sisa banjir
besok
kami belajar
membungkam
lidah sendiri
guru-guru kami berkata,
jangan bertanya
buang-buang waktu
saja
ibu-ibu kami berkata,
jangan terjatuh
rapormu bisa
berdarah-darah
pejabat-pejabat kami berkata,
“majulah!”
sambil menebar ranjau
pada soal-soal pilihan ganda
langit-langit menyerpih
kapur-kapur patah
punggung-punggung berderak
semangat patah-patah
yang lurus hanya
pensil
jalan menuju
kelokan-kelokan
kurikulum baru datang
masih hangat-hangat suam
mengubah kursi
mengganti jendela
menggulung buku
lalu
mengubur peta
tetapi ….
genteng-genteng menjaga jarak
kami bisa
melihat langit
📚 Artikel Terkait
tetapi ….
di balik kertas ujian
kami mendengar
nyanyian harga
ini apa?
seharusnya
ajarkan kami cara bertanya
bukan cara menjawab
cara mencipta
bukan cara menjiplak
cara mencintai ilmu
bukan cara menjilat sepatu
koruptor yang tak tahu malu
Bandung, 2025
Safri Naldi
SURAT CINTA KEPADA IKN
negara meneriakkan cinta
dari atas mimbar
yang dibangun
tergesa-gesa
aku bertelanjang
kaki di genangan
lumpur subsidi setengah jadi
tersenyum saja—untuk apa
marah pada kekasih
yang terlalu sibuk
merangkai janji?
pada sebuah sore yang mirip senja
yang bukan tanggal muda
mereka memotek gajiku
“untuk rumahmu nanti,” katanya
padahal
pondasi belum digali
peta kota masih
berupa gambar di kening pejabat dan penjilat
aku menulis surat
cinta pada tanah yang longsor
pada jembatan yang menggantung
pada seragam
yang lupa warnanya sendiri
“aku akan mencintaimu,” kata negara, “jika kau pun mencintaiku, coba buktikan.”
dengan tabungan wajib
dengan sertifikat tanah
dengan janji hutan akan diganti
izin tambang.
dan aku—mabuk
dalam upacara
menikahi harapan
yang lebur di altar beton
Safri Naldi
Bandung, 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






