• Latest

Lautan Darah dan Susu yang Kering

April 9, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Lautan Darah dan Susu yang Kering

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
April 10, 2025
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Provinsi Jawa Tengah

Setidaknya 60.000 anak di Jalur Gaza “berisiko mengalami komplikasi kesehatan serius akibat kekurangan gizi” karena pasokan makanan menyusut di tengah blokade bantuan Israel, menurut Kementerian Kesehatan daerah kantong itu. [1]


Di mana bumi dibelah oleh suara peluru,
di langit yang runtuh menjadi abu,
seorang ibu berbisik pada bayinya yang tak lagi menangis:
“Tidurlah, sayang. Lapar hanyalah mimpi sementara.”

Tapi kau tahu, Nak, di Gaza,
mimpi pun tak punya tempat untuk tumbuh.

Kau tanya mengapa perutmu berbunyi seperti granat yang gagal meledak?
Aku akan menjawab dengan daftar panjang:
blokade, tank, rezim yang mengunyah daging anak-anak seperti permen.

Di rumah sakit yang cahayanya redup oleh genjatan listrik,
seorang dokter menatap timbangan: 4 kilogram untuk anak usia tiga tahun.

Bibirnya pecah-pecah membentuk kata yang tak terdengar:
“Ini bukan kelaparan. Ini pembunuhan bertahap.”

-000-

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

UNICEF menyebut angka: 60.000¹.
Tapi mari kita urai satu per satu,
Muhammad, 5 tahun, menggigit tanah liat agar perutnya tak melolong.
Aisha, 18 bulan, tulang rusuknya seperti garpu yang patah.

Yusuf, 7 tahun, bertanya pada ibunya:
“Apakah surga punya jatah roti untuk kami?”

Di checkpoint, seorang tentara muda Israel menggenggam foto anaknya sendiri.
Dia tak menjawab ketika komandannya berteriak:
“Tahan bantuan itu! Mereka hanya angka!”

Angka.
Seperti 6.000 anak yang sudah mati²,
seperti 12 jam listrik per minggu,
seperti 10 butir beras untuk lima mulut.

-000-

Untuk dunia yang memalingkan muka:
Kami tak butuh air mata kalian.
Kami butuh tepung.
Butuh susu yang tak tercampur darah.
Butuh sekolah yang bukan kuburan massal.

Seorang jurnalis asing merekam video,
tangan kecil menggapai-gapai di balik tenda pengungsian.

“Tolong,” katanya dalam bahasa Inggris yang patah,
“my stomach is on fire.”

Tapi kamera segera beralih ke narasi diplomatik:
“Kedua belah pihak diharapkan menahan diri…”

-000-

Gaza menulis suratnya dengan tubuh anak-anak.
Setiap tulang yang menjorok adalah huruf,
setiap tangis adalah koma yang tertunda,
dan titiknya?

ADVERTISEMENT

Titiknya adalah bom yang jatuh tadi malam
di kamp Jabalia,
di mana seorang ayah mengubur anaknya
dengan nisan dari kaleng bekas susu formula.

Akhir kata, untuk kita yang masih punya makanan di piring:
Mereka tak mati karena kurang gizi.
Mereka dibunuh oleh diamnya dunia.



Rumah Kayu Cepu, 9 April 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini dibuat dan diinspirasi dari https://www.aljazeera.com/news/2025/4/9/60000-gaza-children-malnourished-as-israels-blockade-continues


¹ Data dari laporan PBB, April 2025: 60.000 anak Gaza mengalami malnutrisi akut akibat blokade Israel.
² Statistik OCHA menunjukkan 6.000 anak tewas sejak Oktober 2023 hingga April 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Puisi-Puisi Fikar W.Eda

Puisi-Puisi Fikar W.Eda

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com