Dengarkan Artikel
Oleh Heri Haliling
Presiden Negeri Sine Qua Non generasi ke-5, Marudut Nasution memulai kunjungan luar negerinya. Seperti lazim Presiden sebelumnya, agenda pertama kunjungan ialah Negeri Sin Cos Tan. Siang itu dengan dikawal beberapa ajudan berbadan tegap penuh pengalaman keras, Presiden Marudut bertemu pimpinan negeri itu di sebuah ruang kepresidenan.
Jabat tangan terjadi dengan uraian senyum dingin dari Presiden Sin Cos Tan.
“Silakan duduk, Tuan Presiden” kata Presiden Sin Cos Tan dengan mencopot satu kancing jasnya.
Presiden Marudut mengangguk menampilkan wibawa, meskipun sejarah terdahulu telah menelanjangi negerinya.
Percakapan pembuka pun berlangsung beberapa menit hingga inti utama tujuan dari kunjungan mulai Presiden Marudut sampaikan.
Dengan sudut bibir seolah mengejek, Presiden Sin Cos Tan berujar “Bagaimana negeri Anda akan menjamin ini, Tuan Presiden? Ekspor bahan, kontrak warga kami untuk hidup di negeri Tuan, dan tiga pulau Tuan yang telah kami klaim, kesemuanya masih sebatas menutup bunga. Lantas jaminan apa lagi yang bisa Tuan berikan?”
Presiden Marudut melebarkan badan berharap udara mengisi jas guna segarkan tubuhnya. Sesekali ia benarkan dasi itu agar tak terasa membelit. Jujur ini adalah penghinaan. Namun harus pula ia akui bahwa negerinya perlu suplai dana untuk pembangunan proyek raksasa penahan gelombang. Ia sadar, beberapa pulau di negerinya terancam tenggelam. Belum sempat membuka mulut, Presiden Sin Cos Tan menukas kembali.
“Korupsi di tempat Anda urutan ke 99 dari 180 negeri, kemiskinan 90 dari 100, tapi gaji dewannya urutan 4 terbesar di dunia.
Bagaimana Tuan menyikapi ini?”
Presiden Marudut meneguk liur yang ia sembunyikan saat menyeka wajahnya menggunakan tisu. Semua telah berjalan mengakar sekarang. Apakah ia harus berpikir seperti pendahulunya?
Menghambur berkas dengan menuding bahwa dosa ini adalah turunan. Jika iya, apakah hal tersebut sebagai solusi? Toh nyatanya pemenangan dirinya yang melalui partai juga tak gratis? Bagaimana ia akan membalas dana yang tersedot untuknya itu?
“Saya akui Tuan Presiden, negeri kami memang sedang masa restorasi. Diperlukan proses yang tak sebentar untuk memulihkannya kembali. Anda bisa cek warta terpercaya kami, semua tikus-tikus itu mulai kami basmi. Kami juga telah tumbuhkan sistem usaha rakyat untuk mendongkrak ekonomi. Hasilnya sebagian besar mampu menyejahterakan rakyat.
Pada akhirnya semua suku hidup dalam keakuran. Segalanya tertuang dalam kinerja tahunan, Tuan Presiden” jelas Presiden Marudut meyakinkan.
📚 Artikel Terkait
Presiden Sin Cos Tan itu tersenyum yang makin menenggelamkan dua matanya.
“Tuan, dengan segala hormat, intelejen kami di sana mengungkapkan seberapa buruk media-media itu. Semua dikuasai korporasi.
Penangkapan koruptor di tempat tuan itu putus di tengah jalan. Dana korupsi yang disita tak pernah transparan kemana arahnya. Sejahtera? Gejolak Sukuisme di media sosial negeri Anda sungguh mengenaskan. Pecah belah ada di hadapan Anda. Sadarkah Anda, Tuan?” tatap Presiden Sin Cos Tan.
Ia lalu melanjutkan, “Jika betul semua itu telah negeri Anda selesaikan, seyogyanya tak perlu Anda kemari.”
Penjelasan tersebut tanpa tanggung membuat Presiden Marudut naik darah.
“Tuan! Melakukan investigasi dengan memata-matai sebuah negeri merupakan pelanggaran kedaulatan internasional! Itu tidak ada dalam kesepakatan Presiden terdahulu!”
Mendengar nada tinggi dari Presiden Marudut, empat ajudan Presiden Sin Cos Tan segera sigap maju. Tanggap cepat, para ajudan Presiden Marudut pun bersiap dengan kemungkinan buruk yang terjadi.
Namun satu kode tangan Presiden Sin Cos Tan memberhentikan gerakan pengamanan.
Presiden itu lalu meraih gelas dan minum sejenak sambil terkikik.
“Tuan Marudut?” panggilnya sambil meletakkan gelas. “Karena kami telah beralih fungsi dengan mengutamakan tenaga robot, kami tak memakai lagi sumber daya manusia. Namun sebagai pemimpin yang mengayomi warganya, tentu kami pikirkan masa depan mereka. Untuk itulah tertuang kontrak bahwa warga kami harus hidup makmur di negeri Tuan. Selain itu, tiga pulau yang terdahulu Anda jaminkan kepada kami, sekarang menjadi sektor titik hulu ledak nuklir.
Secara garis besar, Anda tak punya kuasa untuk melarang kami melakukan pengamatan. Negeri Anda berutang dengan kami. Apa masalahnya jika sikap kami bertujuan untuk memastikan bahwa negeri Anda tetap menyuplai bunganya?”
Sekarang ruang berpendingin itu benar-benar terasa menguar panas. Pemimpin Negeri Sin Cos Tan sungguh keterlaluan bermain. Semua telah dikunci sedemikian rupa. Tak pernah Presiden Marudut bayangkan bahwa lilitan utang bisa berakibat begitu mengerikan. Ini bukan hanya penjajahan, tetapi pemusnahan terang-terangan. Tak tahan, Presiden Marudut berdiri dan memutuskan pamit.
Presiden Sin Cos Tan tetap duduk dan hanya menanggapi dengan juluran tangan. Sungguh hal yang tak patut ditunjukkan untuk mengakhiri kunjungan hubungan dua negeri. Dengan kesal Presiden Marudut Nasution melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun saat mencapai ambang pintu, Presiden Sin Cos Tan memanggilnya.
*
Menuju kepulangan dari kunjunganya, di atas helikopter manakala telah memasuki Negeri Sine Qua Non, Presiden Marudut Nasution mengamati negerinya dari atas. Tepian pulau-pulau itu telah nampak banyak yang membiru akibat pasang air laut. Sesuai kabar beberapa desa hingga kota mulai tak bisa dihuni kembali akibat abrasi.
Tangan Presiden tiba-tiba meremat map yang dilapisi plastik mika di kedua pahanya. Ia berpikir tentang bagaimana mengatasi bencana ini dengan dana utang yang telah ia peroleh sementara partai-partai pengusungnya juga harus mendapatkan jatahnya. Tangan Presiden lalu beralih mengusap kepala. Semua beban itu berkumpul menjadi satu berharap ia buyarkan.
Presiden Marudut Nasution teringat kontrak perjanjian yang baru saja ia tandatangani bersama Presiden Sin Cos Tan. Dengan gemetar tangannya menyelinap untuk membuka sedikit salinan perjanjian dalam map. Tertulis pada bagian akhir kalimat sebelum tertera tanda tangan keduanya “Melalui perjanjian resmi ini saya selaku Presiden Negeri Sine Qua Non Periode 2025-2030 menyetujui untuk mengubah nilai mata uang kami sesuai mata uang Negeri Sin Cos Tan.”
______Selesai________
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






